Quote:Original Posted By rotitalk
Bisa. Krn nasib dan takdir kita berhubungan erat dgn kesadaran diri.


thanks bgt om roti pencerahaannya semoga daku dapat hikmah disini
Quote:Original Posted By minghay27
lom kelar entar senin mo daku lanjutken ....nggak sekarang sebab abis dari tempat ibadah jd masih capek...qiqiqiq

emang jangan sekarang Ko Minghay,ini aja bacanya bisa 2hari baru kelar.

Quote:Original Posted By rotitalk
http://universal.hermantan.com/2009/...tridharma.html

Salam Oom Roti
Quote:Original Posted By langithijau
emang jangan sekarang Ko Minghay,ini aja bacanya bisa 2hari baru kelar.


Salam Oom Roti


wokey2
Seng Ong Ya – Dewa Pelindung Kota

Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Seng Hong Ya adalah satu-satunya Dewa yang memiliki perbedaan tingkatan (kelas). Yang mengepalai seluruh negeri disebut 天下都城隍 Tian Xia Dou Cheng Huang. Yang mengurus sebuah propinsi disebut 都城隍 Dou Cheng Huang. Yang mengurus sebuah karesiden adalah 府城隍 Fu Cheng Huang.

Di dalam hati rakyat banyak, Seng Hong Ya adalah pejabat pengadilan di akhirat (alam baka), yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia, sehingga Seng Hong Ya sangat dihormati di kalangan rakyat jelata. Kepercayaan kepada Seng Hong Ya berasal dari pemujaan terhadap terhadap 水庸神 Shui Yong Shen (Dewa Pengawas Saluran Air), yaitu salah satu dari Ba Zha Shen (Dewa Palawija yang terdiri dari 8 Dewata).

城隍爺 Cheng Huang Ye {Hok Kian = Seng Ong Ya} adalah Dewa Pelindung Kota. Secara harfiah Cheng Huang berarti parit pelindung benteng kota ( 城 Cheng = tembok kota. 隍 Huang = parit yang kering di luar tembok kota ).

Upacara sembahyang untuk menghormati Ba Zha Shen dimulai oleh Kaisar 堯Yao [2357 SM – 2258 SM]. Shui Yong Shen sebagai salah satu dari Ba Zha Shen menduduki tempat penting di antara kedelapan dewa itu. Lama-kelamaan arti saluran air diperluas meliputi saluran atau parit pelindung benteng yang disebut Cheng Huang.

Pada zaman 三國 San Guo { Hok Kian = Sam Kok } [221 M – 265 M] di negeri Wu {Hok Kian = Gouw }, Cheng Huang mulai dihormati tersendiri, terlepas dari Ba Zha Shen. Pada tahun 239 M didirikan kelenteng 城隍廟 Cheng Huang Miao {Seng Ong Bio}, yaitu Kelenteng Seng Ong Ya yang pertama.

Pada masa dinasti 唐 Tang [618 M – 907 M] di tiap ibukota propinsi mulai banyak didirikan kelenteng untuk menghormati Seng Ong. Sejak itu Seng Ong secara resmi menjadi Dewa Pelindung Kota, dengan panggilan yang umum Cheng Huang Lao Ye {Seng Ong Lo Ya} atau Cheng Huang Ye {Seng Ong Ya}.

Setelah 明太祖 Ming Tai Zu {Beng Thai Cou} – 朱元璋 Zhu Yuan Zhang Kaisar pertama Dinasti Ming berkuasa, dia lalu mengangkat Cheng Huang di ibukota Negara (waktu itu di Nan Jing) sebagai Tian Xia Dou Cheng Huang yang berarti Dewa Pelindung Ibukota Negara dengan gelar Ming Ling Wang. Lalu, semua Cheng Huang dari tiap ibukota propinsi diangkat sebagai Du Cheng Huang yang berarti Dewa Pelindung Ibukota. Kemudian Cheng Huang dari tiap ibukota karesidenan dianugerahi gelar Wei Ling Gong. Sedangkan pada tingkat kabupaten dianugerahi gelar Ling Ying Hou dan pada tingkat kecamatan diberi gelar Xian You Bo. Oleh karena ini Cheng Huang Ye menjadi memiliki corak kedaerahan yang khas.

Pada masa Kaisar Ming Tai Zu ini, kelenteng-kelenteng untuk menghormati Seng Ong Ya di Tiongkok, bentuknya menyerupai kantor pejabat pemerintah & tingkat kepangkatannya pun mengikuti urutan kepangkatan pejabat pemerintah.

Pada masa Dinasti 清 Qing [ 1644 - 1911 ] setiap kantor pemerintah baik sipil maupun militer, diharuskan membangun sebuah kelenteng untuk memuja Cheng Huang di dekatnya, sebagai lambang Yang (pemerintahan yang nyata, kantor pemerintah) dan Yin (pemerintahan oleh roh, yang berwujud klenteng Cheng Huang). Para pejabat yang bertugas di situ diwajibkan bersembahyang setiap Ce It & Cap Go (tgl 1 & 15 penanggalan Imlek) di klenteng Cheng Huang tersebut, sebagai penghormatan kepada penguasa dari alam baka itu.

Rakyat banyak percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia, arwahnya akan dibawa ke hadapan Seng Ong Ya untuk diperiksa, lalu diputuskan akan masuk surga atau ke neraka. Seng Ong Ya memiliki banyak anak buah, di antaranya adalah 文武判官 Wen Wu Pan Guan {Bun Bu Pwan Kwan} yaitu jaksa sipil & militer, 牛頭馬面 Niu Tou Ma Mian {Gu Thou Be Bin} yaitu Si Kepala Sapi & Si Muka Kuda, Qi Ye Ba Ye atau disebut juga 大爺二爺 Da Ye Er Ye (lihat juga artikel tentang Da Ye Er Ye – Dewa Jangkung & Pendek – Archive bulan Maret 2008), lalu ada lagi 24 pejabat yang disebut Er Shi Si Si {Ji Cap Si Su}.

Seng Ong Ya adalah penguasa dari alam baka namun kekuasaannya juga termasuk di dunia fana. Beliau dipuja sebagai contoh pejabat tinggi yang jujur dan ideal. Bila ada dua belah pihak yang saling berselisih, mereka akan pergi ke Kelenteng Seng Ong Bio untuk saling bersumpah. Pada peringatan hari ulang tahunnya diadakan upacara Gotong Toa Pe Kong dengan thema Seng Ong Ya menginspeksi rakyatnya.

Ada beberapa kelenteng Cheng Huang yang bersambung langsung dengan Dong Yue Miao (kelenteng tempat pemujaan Dong Yue Da Di, Dewata Penguasa Pegunungan Timur). Di samping Dong Yue Da Di, dipahatkan 10 Raja Akhirat dan 18 tingkat Neraka. Ini menggambarkan bahwa di akhirat pun ada urutan pemeriksaan. Setelah diperiksa secara teliti di tempat Cheng Huang, roh akan dibawa ke hadapan Dong Yue Da Di, dan diteruskan ke tempat Raja Neraka, Yan Luo Wang { Hok Kian = Giam Lo Ong } untuk dijebloskan ke Neraka.

Kepercayaan kepada Seng Ong Ya tersebar secara turun-temurun di kalangan rakyat. Orang-orang percaya bahwa para pahlawan yang telah gugur, orang-orang yang bajik atau telah berjasa bagi masyarakat, akan diangkat menjadi Seng Ong Ya. Oleh karena ini, di berbagai kota Seng Ong Ya yang dihormati tidak sama. Misalnya di kota Hang Zhou, ibukota propinsi Zhe Jiang, tokoh yang dianggap Seng Ong Ya adalah Zhou Xin. Zhou Xin adalah gambaran seorang pejabat pengadilan yang jujur & tegas dalam usahanya menegakkan keadilan, tidak bisa disuap & tidak takut digertak, bahkan oleh orang yang amat berkuasa sekalipun. Di kota Gun Ming, ibukota propinsi Yun Nan, yang diangkat sebagai Seng Ong Ya adalah Yu Qian, seorang tokoh pada zaman Dinasti Ming yang pernah menjadi perdana menteri.

Suasana Kelenteng Cheng Huang biasanya berwibawa. Ada papan besar yang bertuliskan kata-kata : Anda juga akan kemari kalau harinya tiba. Ada pula yang dilengkapi dengan sempoa – abakus (alat hitung) besar, yang menyatakan bahwa para malaikat di sini adalah lurus, tidak bisa disuap. Apa yang anda perbuat selama kehidupan di dunia, akan diperhitungkan dengan teliti.

Kelenteng untuk pemujaan Cheng Huang Ye merupakan salah satu kelenteng yang paling besar dan tersebar luas di Tiongkok. Hampir di tiap kota besar atau kecil terdapat Cheng Huang Miao.

Di Tainan, Taiwan terdapat 3 buah Cheng Huang Miao. Kota-kota di Asia Tenggara juga banyak kelenteng yang memuja Cheng Huang Ye. Antara lain di Singapura, pemujaan terhadap Cheng Huang Ye terdapat di Kelenteng Hong San Si di Sultan Muhammad Road.

Demikianlah asal mula sembahyang kepada Seng Ong Ya sudah dimulai sejak lebih dari 4.300 tahun yang lalu !!!
Spoiler for minghay27:
http://jindeyuan.org/seng-ong-ya-dew...kota/index.htm
dan ada hubungan yang mungkin berkaitan dengan Kongco Seng Hong Ya

Hakim Neraka Yan Luo Wang (Giam Lo Ong)

Dalam buku asian Mythology Yan Luo Wang/Giam Lo Ong tidak mempunyai asal usul.dibuku ini dijelaskan Yen Luo Wang/Giam Lo Ong adalah nama yang diberikan bangsa China dalam bahasa Jepang disebut Emma-O dan dalam bahasa India disebut Yama.
menurut cerita China Yen Luo Wang Raja Senior dari 10 pengadilan Neraka. Beliau menginvestigasi perbuatan baik buruk manusia selama berada di dunia.kalau terdapat kesalahan yang berat atau pantas masuk ke neraka, maka Ia mengirimkan orang itu ke Raja neraka yg lain.untuk disiksa sesuai kesalahannya.



Dan adapula tugas raja yang lain untuk mempersiapkan Tubuh baru bagi mereka yang sudah "pantas" bereinkarnasi. Reinkarnasi dalam bentuk apa itu juga tergantung dari banyak sedikitnya kesalahan mereka. Hukuman di neraka sangat bermacam2x, seperti seorang koruptor biasa dicambuk dgn menggunakan pecutan dari emas, tetapi ada juga hukuman yang berat semisal dimasak ke dalam minyak yang sangat panas, dibakar ataupun tubuh jiwa dipotong2x dan disambung kembali.

Lain halnya dgn cerita dari Jepang. dari cerita Buddhism Jepang, Emma-O (yen Luo wang ala Jepang) Dia adalah Hakim setelah kematian. Dalam Kepemimpinannya, Emma-o memiliki 18 Jenderal Neraka dan ribuan Iblis penagkap roh, maupun Raja berkepala Kuda dan Sapi. Neraka dibagi menjadi 8 tingkatan neraka Api dan 8 tingkatan neraka Es. setiap tingkatan neraka akan dijatuhkan pada manusia sesuai dgn setiap tingkat kesalahan mereka. Bagi mereka yang masuk ke dalam neraka dipercayai baru dapat keluar apabila ditolong oleh seorang Bodhisattva. jadi secara tak langsung sejarah Yen Luo Wang tidak pernah diungkapkan baik di buku ini maupun buku lain yang aku punya. Ada yang menjelasin kalo Yen Luo Wang emang udah ada sejak Bumi ini berwujud.




Yen Luo Wang khusus menghukum orang - orang yang berdosa dalam hal :
1. Tidak setia terhadap bangsa dan negara, tidak
loyal terhadap pimpinan, punya ambisi
memberontak lalu jadi pengkhianat.
2. Sebagai pejabat berlaku kejam dan ganas,
menindas rakyat demi mencapai kedudukan dan
mengeruk kekayaan pribadi, melanggar undang-
undang negara dan menginjak - injak
perikemanusiaan.
3. Para pendidik pada umumnya yang tidak punya
tekad dan kemauan untuk berbakti kepada nusa
dan bangsa.
4. Dalam kekeluargaan, suami yang tidak tahu
tanggung jawab dan istri yang ingkar kewajiban,
sehingga keluarga hancur berantakan.
5. Sebagai anak pungut, anak angkat yang
dibesarkan sejak kecil. setelah menerima budi
dan warisan, lupa membalas kebaikan malah
membuat orang yang mengasuhnya celaka.
6. Karena berdosa masuk penjara, tapi secara diam-
diam melarikan diri. Atau melarikan diri di tengah
jalan saat tempat hukumannya dipindahkan ke
tempat lain. Karenanya para pengawal dan
keluarganya yang menjadi sengsara.
7. Saat mengubur ayah bundanya, waktu menggali
tanah menemukan tulang belulang atau layon
orang lain, tidak segera memilih tempat lain
sebagai liang lahatnya. sehingga merusak pusara
orang lain.
8. Memalsukan surat-surat, merubah perjanjian dan
memalsukan tanda tangan sehingga pihak lain
menjadi celaka karenanya.
9. Perbuatan lain yang merugikan orang banyak
atau kepentingan umum.



Mereka yang melanggar dosa-dosa seperti yang terurai di atas, algojo akan menggusurnya ke sidang, setelah diusut perkaranya lalu dijebloskan ke neraka kecil dan menjalani hukuman - hukumannya.

Keenam belas neraka kecil adalah :
1. Giam-lo
Arwah manusia yang dijebloskan dalam neraka
kecil ini, badannya dicakar dengan cakaran besi
hingga dedel dowel, oleh iblis yang bertugas
disini lalu dicemplungkan ke dalam empang yang
berisi air garam. Coba bayangkan betapa sakitnya
badan yang penuh luka itu direndam air garam.
2. Moa-kwan Kwa-liu
Dengan tubuh penuh luka dan kesakitan ,
pesakitan ini diseret ke neraka kecil kedua, di sini
sudah tersedia borgol besi dan macam-macam
tali yang membelenggu sekujur badannya,
hingga dalam keadaan kesakitan tidak mampu
meronta sedikitpun juga.
3. Coa-kin
Di sini pesakitan dibetoti urat kaki dan urat
tangannya, lalu isi perut terutama ususnya
dicecer keluar, setelah itu badannya digantung
sampai tiba saatnya untuk selanjutnya dikirim ke
neraka kecil keempat.
4. Tong-tiat Kwat-lian
Arwah halus yang harus menjalani hukuman di
neraka kecil ini diparut wajahnya, lalu ditampar
pulang pergi kanan kiri pipinya hingga kelenger.
Hukuman ini terus dilakukan berulang-ulang.
5. Kwat-ci
Iblis bengis yang bertugas di neraka kecil kelima
dengan tawa beringas membeset kulit
dagingnya, lalu diiris - iris dan tulangnya
digergaji. Hukuman ini juga terus dilakukan
berulang kali sampai batas waktu yang
ditentukan, baru dilempar ke neraka kecil
keenam
6. Kam-ci-sim-kan
Sesuai namanya, cara menghukum pesakitan di
sini dengan cara menusuk dada merogoh jantung
dan jerohan lainnya.
7. Kwat-lan
Pesakitan yang sudah dedel-dowel dadanya setiba
di neraka kecil ketujuh dikorek bola matanya,
sementara kaki tangan diikat di cagak kayu
besar, setelah tiba tempo hukumannya baru
dilepas dan didorong ke neraka kecil selanjutnya.
8. Sam-pi
Di sini tersedia bangku panjang dan parutan,
arwah halus yang harus disiksa di neraka kecil ini
dibelenggu di atas bangku, lalu kulit dagingnya
diparut hingga tinggal belulangnya saja.
9. Goan-ciak
Para pesakitan disini pukul rata ditebas buntung
kedua kakinya sebatas lutut dan dibiarkan
berguling-guling di tanah sambil menjerit-jerit
kesakitan.
10. Pwat-jiu-kiat-kak
Beberapa iblis beringas menjalankan tugas
bersama, ada yang pegang kepala, kaki tangan
diikat lalu satu persatu kuku jarinya dicabuti.
11. Sip-hiat
Arwah halus manusia yang harus menjalani
hukuman di neraka kecil ke 11 ini, dihisap
darahnya hingga badannya menjadi kering
12. To-tiauw
Di neraka kecil ke 12 ini, arwah yang berdosa
masih harus diikat kedua kakinya lalu digantung
dengan kepala di bawah kaki di atas.
13. Hun-the
Badan manusia berdosa dipentang kaki
tangannya. Algojo Iblis bengis sudah menyiapkan
gergaji besar, dari kepala turun ke punggung
terus ke perut sampai badannya terbelah menjadi
dua, lalu dipotong kaki tangannya.
14. Cu-auw
Arwah halus yang sudah tidak karuan badannya
masih harus disiksa pula di neraka kecil ke 14 ini,
badannya dibiarkan dirubung semut-semut
raksasa dan dibiarkan digerogoti cacing yang
lahap sekali.
15. Kek-cip
Dalam neraka kecil ini iblis yang beringas sudah
siap menunggu arwah yang harus dihukum di
sini. Lebih dulu lututnya dipukul dengan palu
raksasa hingga remuk demikian pula sikutnya
dihantam sampai hancur, dalam keadaan
setengah mati masih dipanggang lagi di atas bara
yang panasnya bukan main.
16. Kek-sim
Algojo yang juga Iblis seram sudah menyiapkan
sebatang besi runcing mirip tombak yang dibakar
di perapian hingga membara. Besi membara ini
ditusuk ke jantung pesakitan yang harus
menjalani hukuman disini.
Spoiler for minghay27:
http://vincentspirit.blogspot.com/20...am-lo-ong.html
ini juga

Da Ye Er Ye – Dewa Jangkung & Pendek

Di Kelenteng Kim Tek Ie ini ada 2 buah arca dewa yang bentuknya agak aneh; 1 tinggi 1 pendek. Arca dewa yang satu terlihat pucat & kurus, mata menonjol dengan lidah yang terjulur ke luar, memakai topi kertas panjang yang bertuliskan 一見大吉 Yi Jian Da Ji, yang berarti Sekali bertemu akan mendapat keberuntungan. Arca dewa yang satu lagi agak kecil & pendek, hidung pesek dengan bibir yang tebal, tangan kanan memegang kipas, tangan kiri memegang lempengan bertuliskan 善惡分明 Shan E Fen Ming yang berarti Membedakan dengan jelas baik & jahat.

Kedua dewa ini adalah 七爺八爺 Qi Ye Ba Ye (Kakek ke-7 & Kakek ke-8) yang diketahui oleh banyak orang. Di kalangan rakyat juga terkenal dengan sebutan 高仔爺 Gao Zi Ye (Dewa Cermat yang Jangkung) & 矮仔爺 Ai Zi Ye (Dewa Cermat yang Pendek). Di Jakarta mereka berdua populer dengan sebutan 大爺二爺 Da Ye Er Ye (Kakek Tertua & Kakek Kedua).

Da Ye Er Ye adalah bawahan pejabat kehakiman alam akhirat yaitu 閻羅王 Yan Luo Wang {Hok Kian = Giam Lo Ong = Raja Yama}. Da Ye Er Ye bertugas secara khusus mengawasi perbuatan baik buruk manusia di dunia.

Da Ye adalah Jendral 謝必安 Xie Bi An, sedangkan Er Ye adalah Jendral 范無救 Fan Wu Jiu. Asal usul mereka adalah sebagai berikut:

Jendral Xie Bi An & Jendral Fan Wu Jiu hidup pada masa Dinasti Tang [618 – 907 M]. Pada saat pemberontakan An Lu Shan, pihak musuh melancarkan serangan mendadak ke kota Chang An. Kaisar Tang Ming melarikan diri sampai ke Propinsi Xi Chuan Barat. Tentara musuh mengepung sampai ke kota Sui Yang. Penjaga kota Sui Yang yaitu Xu Yuan & Zhang Xun berusaha mempertahankan benteng kota dengan sekuat tenaga. Pemberontakan An Lu Shan berlangsung lama. Zhang Xun mengutus kedua Jendral Xie Bi An & Jendral Fan Wu Jiu keluar benteng kota untuk meminta bala bantuan.

Jendral Xie Bi An dengan postur tubuh yang tinggi (kira-kira 3,33 meter) & kaki yang panjang dengan derap langkah yang lebih cepat, bertemu musuh terlebih dulu & kemudian tertangkap. Oleh pihak musuh Jendral Xie Bi An digantung di atas tembok kota. Jendral Fan Wu Jiu melihat dari jauh Jendral Xie Bi An telah mati digantung di atas tembok kota, lalu bersembunyi di tepi sungai. Tanpa terduga, karena tidak hati-hati ia terjatuh ke sungai & akhirnya mati tenggelam.

Kedua Jendral tersebut tidak bisa menembus pengepungan musuh yang ketat. Akhirnya kota Sui Yang jatuh ke tangan musuh karena para prajurit yang telah letih & kehabisan ransum. Kedua Jendral Xie & Fan mati demi membela Negara, kemudian dianugerahi gelar sebagai Jendral Pelindung.

Konon, jika bertemu Da Ye yang sedang pergi berwisata, asal saja orang tersebut sudi berlutut, berterima kasih & memohon rezeki, pasti akan mendapat berkah & perlindungan. Maka beliau disebut juga sebagai 一見大吉謝必安 Yi Jian Da Ji – Xie Bi An, yang berarti Sekali Bertemu akan mendapat kemujuran besar & pasti selamat – Xie Bi An.

Tapi jika bertemu Er Ye yang sedang tugas berpatroli, wah itu celaka tiga belas ! Berarti akan menghadapi kemalangan/kesialan, tamatlah riwayat orang tersebut, sehingga Er Ye disebut juga sebagai 范無救 Fan Wu Jiu, yang berarti Tuan Fan yang tidak tertolong lagi.

Selain di Kim Tek Ie, Da Ye Er Ye juga terdapat di Kelenteng Kong Hoa Si, Taman Sari, Jakarta Barat. Hari Se Jit (ulang tahun) Da Ye Er Ye diperingati setiap tanggal 13 bulan 2 Imlek.

Spoiler for minghay27:
http://jindeyuan.org/da-ye-er-ye-dew...ek-3/index.htm
next Er Lang Shen Kongco..

Nama-nama Dewa-dewi
yang sudah ada(start dari page 104 sampai selesai)

*I Huang Ta Tie
*San Qing
*Hian Thian Siang Tie
*He He Xian Er
*Kwan Kong kongco
*Thian Sang Se MU
*Bao Sang Da Di
*Seng Ong Ya / Seng Hong Ya
*^^ Hakim Neraka Yan Luo Wang (Giam Lo Ong)
*^^Da Ye Er Ye – Dewa Jangkung & Pendek
*Er Lang Shen
Erlang Shen (二郎神

atau Erlang adalah Dewa Cina yang mempunyai mata kebenaran-terlihat sebagai mata ketiga di tengah dahinya.

Er-lang Shen mungkin versi didewakan beberapa semi-mitos pahlawan rakyat yang membantu mengatur banjir deras China, versi itu dari berbagai dinasti Qin, Sui dan Jin. Sebuah sumber kemudian Buddha mengidentifikasi dia sebagai putra kedua Raja Surgawi Utara Vaishravana.

Dalam Penciptaan semi-mitos novel dinasti Ming ,Penobatan Para Dewa(Hong Sin) dan Perjalanan ke Barat Erlang Shen adalah keponakan dari Kaisar Langit. Pada yang pertama ia membantu tentara dalam mengalahkan Zhou Shang.belakangan ini banyak disebut dia anak kedua dari manusia biasa dan adik perempuan Kaisar Giok, Dalam legenda, dia dikenal sebagai prajurit dewa terbesar dari surga.
Spoiler for minghay27:
Li Erlang

Dari identifikasi berbagai Erlang Shen yang paling umum adalah sebagai Li Erlang, putra kedua Li Bing, insinyur yang mengerjakan Sistem Irigasi Dujiangyan

Menurut Kisah Tentang Li Bing dan Putra-Nya dalam Memanfaatkan sungai, dalam literatur Guansian, Li Erlang membantu ayahnya dalam pembangunan sistem pengairan yang mencegah Sungai Min dari banjir dan irigasi di Dataran Chengdu. Dalam terima kasih atas kemakmuran yang ini dibawa kepada mereka orang-orang lokal mengangkat ayah dan anak untuk dewa dan didedikasikan Kuil Erwang untuk menghormati mereka.

Legenda menyatakan bahwa Gubernur Li Bing mengirim putranya keluar untuk menemukan sumber banjir. Dia menghabiskan satu tahun menjelajahi daerah ini namun tidak berhasil. Suatu hari sementara berlindung di sebuah gua ia bertemu seekor harimau yang dia bunuh dan tujuh pemburu yang menyaksikan keberanian ini setuju untuk bergabung dengannya pada pencariannya.

Kelompok ini akhirnya sampai di sebuah pondok di pinggiran Guanxian. Dari dalam mereka mendengar suara tangisan seorang wanita tua. Wanita itu Nenek Wang dan dia mengatakan kepada mereka bahwa cucunya itu harus dikorbankan untuk sebuah naga jahat yang merupakan dewa sungai setempat. Li Erlang melaporkan hal ini kepada ayahnya yang merancang rencana untuk menangkap naga.

Delapan teman bersembunyi di kuil dewa Sungai dan melompat keluar pada saat naga itu ketika datang untuk mengambil korban. Naga melarikan diri ke sungai dikejar oleh Li Erlang yang akhirnya menangkapnya. Nenek Wang tiba dengan rantai besi dan naga tersebut diikat dikolam dibawah Kuil Fulonguan sehingga membebaskan wilayah tersebut dari banjir.

Legenda lain bercerita tentang Li Erlang mendesak naga api yang hidup di utara pegunungan Dujiangyan dengan mendaki ke puncak Gunung Yulei, berubah menjadi raksasa dan membangun bendungan dengan 66 gunung kemudian mengisinya dengan air dari Kolam menenangkan Naga.

catatan krn diambil dr gogle jd ada sedikit yg daku rubah kata2nya supaya lebih mudah dimengerti harap maklum kl ternyata hal itu juga masih banyak kesalahan ....
Theatrical interpretation (Bao Lian Deng)

Erlang Shen berarti anak laki2 ke2 dewa" sebagai terjemahan langsung. Er berarti 2, lang berarti anak laki-laki, dan Shen berarti dewa. Ibunya adalah dewi alam keinginan di surga. Tugasnya adalah untuk membatasi para dewa dan roh2 yang mempunyai keinginan fana seperti cinta / kasih sayang, keserakahan, mimpi, dan lain-lain, Ketika ia mengejar naga jahat yang meloloskan rantai di penjara surgawinya, Sang Dewi jatuh cinta dengan seorang manusia biasa yang bersedia untuk menyelamatkannya dengan hatinya. Mereka memiliki tiga anak: Yang Jiao, Yang Jian (Erlang Shen), dan Yang Chan (Ibu suci dari Hua Shan). Ketika Kaisar Jade memergoki pernikahannya, ia menyuruh putranya dan tentara surga untuk membunuh darah setengah(darah campuran), manusia fana(suami), dan dewi alam keinginan itu sendiri. Hanya Erlang dan adiknya Yang Chan selamat.
Erlang Shen juga diidentifikasi dengan Zhao Yu, seorang pertapa yang tinggal di Gunung Qingcheng dan diangkat oleh Kaisar Dinasti Sui; Yangdi sebagai Gubernur Jiazhou. Zhao Yu meminta 1000 laki-laki untuk mengalahkan naga banjir yang telah membuat penderitaan di daerah tersebut. Setelah mencapai sungai Zhao Yu menyelam ke dalam air dengan pedang bermata dua dan muncul memegang kepala naga, Setelah kematiannya, menurut Chronicle of Changshu Country, bila wilayah ini mengalami lagi gangguan banjir dan ia terlihat mengendarai putih kuda di tengah-tengah arus berputar-putar. Penduduk setempat membangun sebuah candi mengabadikan Zhao Yu sebagai dewa Erlang dan banjir ditundukkan.
untuk komplitnya silahken lihat di link ini
http://en.wikipedia.org/wiki/Erlang_Shen
next ..
-Ciu Thian Shien Nie ,Yue Lao Kongco,dan Kong Tek Cun Ong
-Cai Shen Ye,Ho Tek Ceng Sin/Fu Tek Cen Shen Kongco,Ba Xian
-Meng Shen/dewa pintu,Lu Ban Kongco,Tai Sui

Jiu Tian Xuan Nu
Penulisan lain: Ciu Thian Sian Nie


Spoiler for minghay27:


Seperti yang sudah umat TAO ketahui, Jiu Tian Xuan Nu merupakan salah satu Dewi Besar TAO. Jiu Tian Xuan Nu adalah Dewi yang sering membantu pahlawan-pahlawan. Konon, cerita pada jaman raja satria Huang Ti yang pernah mengajarkan rakyat menanam palawija.



Sebelum Huang Ti menyatukan negara, Beliau pernah perang dasyat melawan Je Yu. Je Yu itu adalah sebangsa hewan yang aneh, badannya merupakan binatang tapi dia memakai bahasa manusia, juga makan batu dan pasir untuk hidup. Je Yu ini biasa disebut badan kuningan kepala besi.Pada waktu perang di daerah Juk Luk, Je Yu ini membuat kabut besar yang menyebabkan tentara-tentara Huang Ti menjadi kehilangan arah. Tetapi untungnya para anak buah itu menciptakan kereta kompas. Dengan kereta tersebut, mereka baru bisa lolos dari kepungan kabut tadi.



Sedang pusing dengan taktik perang, malamnya Huang Ti bermimpi bertemu dengan Dewi SI WANG MU dan berkata padanya: “Saya akan mengirimkan utusan untuk membantu kamu, kamu akan menang perang”. Lalu Huang Ti membuat altar dan berdoa / sembahyang tiga hari tiga malam. Hasilnya, nampaklah Jiu Tian Xuan Nu, memberinya Kitab Suci, Pusaka, Buku Perang dan lain-lainnya; hingga Huang Ti dapat mengalahkan Je Yu dan dapat menyatukan negara. Waktu itu, yang Huang Ti dapatkan adalah Buku Suci HUANG TI YIN FU CING yang dihargai oleh generasi selanjutnya.



Konon, Jiu Tian Xuan Nu pernah mambantu Sung Ciang. Sung Ciang ini merupakan Ketua daerah Liang San Be yang sering membantu orang-orang miskin yang kekurangan. Dalam cerita buku “SUI HU JUAN”, pada waktu Sung Ciang dalam perjalanan menuju Liang San Be, dia dikejar-kejar oleh musuh. Lalu dia bersembunyi di dalam sebuah kuil, ternyata dia diketahui oleh musuhnya, kelihatan maut sudah menunggu. Namun, pada saat detik-detik bahaya, di belakang altar dalam kuil tersebut timbul gumpalan awan hitam dan meniupkan seuntai angin keras yang dingin. Musuh yang mengejar ketakutan melihat keadaan aneh mendadak itu dan lari tunggang langgang.



Tidak lama kemudian, tampak dua anak perempuan berbaju hijau di hadapan Sung Ciang dan mengajaknya pergi untuk menemui Seorang Dewi. Dewi tersebut adalah Jiu Tian Xuan Nu. Kemudian, Sung Ciang diajak makan kurma dari DIAN dan minum arak yang harum. Jiu Tian Xuan Nu juga berkata padanya: “Saya akan memberitahu kamu tiga jilid Buku Langit, kamu harus bisa menjalankan TAO dengan baik, jadi orang harus jujur, setia kawan, setia pada negara, yang jelek dan yang sesat dikikis semua dan dikembalikan pada kebenaran”. Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga berpesan bahwa buku-buku itu tidak boleh diperlihatkan pada orang lain, sesudah mantap, bakarlah buku-buku tersebut. Dewi juga menurunkan empat kata-kata langit yang cocok menjadi ramalan hidup Sung Ciang di kemudian hari.



Sesudah kejadian itu, Sung Ciang masih pernah bertemu lagi dengan Dewi Jiu Tian Xuan Nu, yaitu pada waktu dia jadi Jendral Dinasti Sung yang sedang perang sengit dengan tentara-tentara negeri Liaw. Dewi Jiu Tian Xuan Nu mangajarkan tehnik perang yang kongkrit. Dewi Jiu Tian Xuan Nu selalu mengulurkan tangan waktu raja kesatria dan pahlawan-pahlawan sedang mengalami kesulitan, sehingga boleh dikata sebagai “DEWI MEMBANTU”. Selain itu Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga mengajarkan cara-cara perang yang kongkrit. Oleh karena itu, ada orang yang menganggap Dewi Jiu Tian Xuan Nu sebagai “DEWI PERANG”.http://www.xuezhengdao.com/1484/dewa...-tian-xuan-nu/ dan http://angkangho.wordpress.com/
Legend of Yue Lao, Old Man under the Moon

Spoiler for minghay27:


Orang tua di bawah bulan, 月下老人
umumnya dikenal sebagai Yue Lao, 月老, adalah dewa Cina mengatur perjodohan antara pria dan wanita.

Kisah awal dari Yue Lao adalah kisah ditetapkan selama Dinasti Tang. Ini bercerita tentang seorang pria muda Wei Gu 韦 固 yang gagal untuk menemukan seorang istri. Di perjalanan lain karena kegagalannya dalam mencari pernikahan yang diinginkan,di sebuah kota yang bernama Song 宋城, ia melihat seorang tua membaca di bawah bulan. Penasaran, tentang bukunya, Wei Gu bertanya kepada orang tua yang memberitahunya itu adalah buku perjodohan dan bahwa tugasnya adalah untuk mengikat benang merah antara pasangan untuk membuat mereka menjadi suami istri.

Putus asa karena belum menemukan seorang istri, ia bertanya apakah orang tua bisa menunjukkan kepadanya calon istrinya. Wei Gu ditunjukkan seorang wanita tua membawa anak berusia tiga tahun dan mereka berdua tampaknya hidup dalam kemiskinan. Anak berusia tiga tahun adalah calon istrinya dimasa depan.

Marah, ia memerintahkan hamba-Nya untuk membunuh anak. Untungnya, hambanya itu hanya berhasil melukai si anak.

Bertahun-tahun kemudian, seorang pejabat tinggi yang menginginkan putrinya menikah dengan Wei Gu, yang dengan senang hati menerima dan senang bahwa akhirnya ia menemukan istri. Pada malam pernikahan, ia melihat bekas luka di antara alis matanya dan bertanya tentang hal itu. Istri barunya bercerita tentang sebuah insiden di mana dia ditikam oleh seorang pria di Kota Song.

Gu Wei menyadari istrinya bahwa gadis kecil yang dulunya pernah dia coba bunuh.


Kisah ini tersebar dan segera orang mulai berdoa kepada orang tua itu untuk membantu dalam masalah pernikahan. Sepertinya tidak ada yang tahu namanya, ia disebut sebagai Old Man under the Moon, Yue Yue Lao atau Dewa Lao. 月下老人, 月老, 月老 神君

Dalam adat pernikahan tradisional Tionghoa, pengantin perempuan dan mempelai laki-laki berjalan bersama-sama memegang panjang kain merah dengan pita di tengah. Hal ini dapat menjadi simbolisme perjodohan oleh dewa Yue Lao.
Tek Hay Cin Jin – Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut

Spoiler for minghay27:




澤海真人Ze Hai Zhen Ren {Hok Kian: Tek Hai Cin Jin} nama aslinya adalah Guo Liu Guan {Hok Kian = Kwee Lak Kwa}, adalah salah satu Dewata Lokal yang Khas Indonesia (lahir di Indonesia). Kekuasaannya meliputi jalur laut sepanjang Pantura Jawa. Menurut catatan yang ada di Kong Kwan (Dewan Opsir Tionghoa) Semarang, Guo Liu Guan berasal dari Semarang. Beliau adalah orang Hok Kian bermarga Kwee, bernama Lak, sedangkan Kwa adalah panggilan kehormatan.

Guo Liu Guan {Kwee Lak Kwa} lahir tahun 1695, waktu Kaisar Khong Hie memerintah tahun ke-34, berdagang antar pulau dari Palembang sampai Semarang dengan kapal. Waktu itu di Jakarta (saat itu bernama Batavia) tanggal 9 – 12 Oktober 1740 terjadi suatu tragedi yang amat memilukan, di mana + 10.000 jiwa dibantai oleh penjajah Belanda (VOC). Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Tragedi Pembantaian Angke.

Asal mula kata Kali Angke juga berasal dari peristiwa ini. 紅溪 Hong Xi dalam bahasa Mandarin berarti sungai kecil (kali) yang berwarna merah. Dari mana warna merah dalam sungai ini? Berasal dari darah orang-orang Tionghoa yang dibantai tersebut. Hong Xi ini dalam dialek Hok Kian disebut Ang Ke. Demikian sekilas asal mula kata Kali Angke.

Peristiwa ini menyulut kemarahan beberapa pemimpin Tionghoa, antara lain : Kwee Lak Kwa, Kwee An Say, Oey Ing Kiat, Tan Pan Jiang, dan lain-lain. Kwee Lak Kwa bergerilya di Jakarta. Karena Belanda lebih kuat akhirnya Kwee Lak Kwa mundur sampai Cirebon, lalu ke Tegal.

Tahun 1742 perlawanan ini berhenti setelah semua pihak kehabisan tenaga, Kwee Lak Kwa di Tegal menghilang, Kwee An Say tertangkap, Tan Pan Jiang & Oey Ing Kiat gugur di Welahan. Peristiwa ini dalam Babad Tanah Jawa terkenal sebagai Geger Petjinan. Kwee Lak Kwa setelah menghilang di Tegal sering menampakkan diri di beberapa tempat yang berjauhan pada waktu bersamaan. Beliau sering pula menampakkan dirinya kepada nelayan-nelayan di Tegal untuk memberi berbagai petunjuk. Karena hal-hal tersebut mereka percaya bahwa Kwe Lak Kwa sesungguhnya adalah seorang yang sakti.

Oleh Kaisar Dinasti Qing, Kwee Lak Kwa dianugerahi gelar 澤海真人Ze Hai Zhen Ren {Hok Kian: Tek Hay Cin Jin}. Beliau dihormati tidak hanya sebagai pahlawan, namun juga sebagai Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut.

Tek Hai Cin Jin ditampilkan sebagai seorang Pejabat Tinggi yang berpakaian ala Dinasti Han disertai 2 orang pengiringnya. Salah satu dari 2 pengiring tersebut, dilihat dari corak pakaian & ikat kepalanya, jelas adalah seorang pribumi Jawa.

Arca Tek Hai Cin Jin terdapat di 6 buah kelenteng di Pulau Jawa, antara lain: di Kelenteng金德院 Jin De Yuan {Kim Tek Ie} – Jakarta, Kelenteng澤海廟 Ze Hai Miao {Tek Hay Bio = Kuil Penenang Samudra} – Semarang, Kelenteng澤海宮 Ze Hai Gong {Tek Hay Kong} – Tegal, Kelenteng寶安殿 Bao An Dian {Po An Tiam} – Pekalongan.
http://jindeyuan.org/tek-hay-cin-jin...ut-2/index.htm
sumber lain... http://mineprestige.info/kring-info/...a-di-indonesia
Mineprestige.info, Semarang :: Tek Hay Bio tenti tidak lepas dari perjalanan dan Kisah “Perlawanan orang-orang Tiong Hwa bersama penduduk pribumi melawan VOC di Batavia tahun 1740″, lebih dari 10.000 nyawa orang-orang Tiong Hwa tak berdosa di bantai oleh prajurit VOC tepatnya tanggal 9-12 Oktober 1740 dan diperingati sebagai hari kelabu dalam sejarah Tiong Hwa perantauan di Indonesia. Peristiwa itu sangat menyedihkan hati seluruh orang-orang Tiong Hwa pada saat itu dan menyuut kemarahan beberapa pimpinan orang-orang Tiong Hwa antara lain : Kwok Liu Kwan (Kwee Lak Kwa), Kwee An Say, Oey Eng Kiat, Tan (Souw) Pan Jiang, Tan Kwie Jan dll.
Tek Hay Bio

Kwee Lak Kwa sebenarnya adalah pedagang antar pulau antara Palembang dan Pantai Utara Jawa lalu bersama kawan-kawannya memimpin perang gerilya di sekitar Batavia. Namun karena VOC mempunyai peralatan yang jauh lebih kuat dan tentra yang terlatih akhirnya Kwe Lak Kwa dan kawan-kawan terdesak mundur ampai ke Cirebon, lalu ke Tegal dan Semarang. Dalam bergerilya Kwee Lak Kwa seringkali menyamar sebagai saudagar, sambil tak lupa mengulurkan tangan menolong rakyat jelata yang kesusahan.

Tahun 1742 perlawan menjadi semakin melemah, Kwee An Say tertangkap sementara itu Tan (Souw) Pan Jiang dan Oet Eng Kiat gugur dalam suatu pertempuran di Welahan Jepara-Jawa Tengah. Sedangkan Kwee Lak Kwa menghilang di daerah pantai Tegal.

Setelah beberapa saat lamanya, Kwee Lak Kwa bersama 2 Orang pembantu setianya, yang salah seorang diantaranya adalah pribumi yang sayang tidak diketahui namanya dan yang seorang lagi adalah seorang dari suku gurkha, Nepal. Mereka sering menampakkan diri secara bersama di beberapa tempat sekaligus dan memberikan pertolongan terutama kepada nelayan-nelayan di Tegal. Oleh karena banyak yang telah mendapat pertolongan maka laporan itu sampai ke Kaisar Kian Liong dari Dinasti Ching dan oleh Kaisar Kian Liong beliau dianugerahi gelar Tek Hay Cin Jin atau Malaikat Penolong di Lautan.
Tek Hay Cin Jin dihormati sebagai pahlawan
sekaligus sebagai dewa pelindung perdagangan di laut terutama di Pantai Utara Jawa,
beliau merupakan Dewa yang khas yang hanya di kenal di Indonesia
khususnya pantai-pantai utara Pulau Jawa.

Tek Hay Bio yang terletak di Gang Pinggir 105-107 atau Koordinat: 6°58’40″S dan 110°25’34″E (wikimapia version), Semarang merupakan klenteng pertama yang di bangun untuk memuja Tek Hay Cin Jin, setelah itu baru menyusul klenteng-klenteng lain yang memuja Tek Hay Cin Jin diantaranya terdapat di Indrwamayu, Jakarta, Tegal (yang terbesar).

Disamping klenteng, Tek Hay Bio juga menyimpan abu para leluhur di Semarang diantaranya adalah Kwee Kiauw Khong salah seorang Tiong Hwa pertama yang diangkat menjadi kapiten oleh kompeni. Menurut catatan, arca-arca pada sinbeng di Klenteng Tek Hay Bio dibuat di Tiongkok dengan membawa bahan kayu jati dari Pulau Jawa.

Sejak didirikan tahun 1756 Klenteng Tek Hay Bio telah mengalami pasang surut tetapi tetap mampu eksis dan bertahan diantaranya peristiwa penting yang tercatat di tahun 1832, pada waktu itu Kota Semarang dilanda banjir besar dan Klenteng Tek Hay Bio yang pada saat itu masih terletak di tepi sungau juga tidak luput mengalami kebanjiran sehingga akhirnya atas gotong royong warga Tiong Hwa di Pecinan saat itu klenteng ditinggikan sampai dengan 1.5 Meter.

Sekitar tahun 1950-an Klenteng Tek Hay Bio pernah mengalami masa surut, keadaan klenteng kurang terawat dan ruangan-ruangannya digunakan sebagai Sekolah Dasar Kristen. Hal ini sangat memperihatinkan Tiong Hwa di Pecinan lalu dengan upaya dan perjuangan Almarhum Tan Tjing Hok fungsi klenteng sebagai rumah ibadat dikembalikan sebagaimana mestinya. Alm Tan Tjing Hok juga merupakan salah seorang yang pernah memperoleh mukjizat kesembuhan dari pnyakit stroke yang dideritanya, setelah mendapat resep buah gandaria dari Kongco Tek Hay CIn Jin yang diperoleh lewat mimpi.

Mulai tahun 1977 Kepengurusan Klenteng Tek Hay Bio berubah menjadi lebih terbuka dengan masuknya pengurus-pengurus baru yang tidak berasal dari marga Kwee dan sejak 13 Desember 1983 Klenteng Tek Hay Bio telah berubah menjadi Yayasan sampai sekarang dan sejak tanggal 31 Desember 1995 Yayasan Klenteng Tek Hay Bio bernaung di bawah TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma) (Kwee Lak Kwa Doc.)
Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa

Spoiler for minghay27:


Guang Ze Zun Wang [ Kuang Ce Cuen Wang ]

Di propinsi Fu Jian, daerah yang bernama Quan Fu hiduplah seorang pemuda yang miskin, bernama Guo Hong Fu [ Kwo Hong Fu ], sejak kecil kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
Demi menyambung hidupnya, dia bekerja pada seorang bangsawan bermarga Chen sebagai penggembala kambing.
Sejak muda mempunyai moralitas yang tinggi sehingga mendapat kasih sayang dan anugrah dari para dewa.
Kehidupannya yang sulit tidak merubah moralitasnya yang mulia.
Atas petunjuk dari seorang guru dan ahli Fengshui, dia pergi kesuatu daerah pegunungan yang kelak disebut sebagai Feng Shan Si.
Karena sering membantu mengatasi kesulitan masyarakat, maka setelah beliau meninggal dunia disana dibangun sebuah klenteng, dan banyak masyarakat yang menyembah beliau.
Masyarakat menyebutnya juga sebagai Bao An Zun Wang [ Pao An Cuen Wang ], juga sebagai Seng Ong Kong ( pelindung perantauan ).
Hari kebesarannya adalah imlek tanggal 22 bulan 2.http://taothayshangmenindonesia.word...g-ze-zun-wang/

Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa

廣澤尊王Guang Ze Zun Wang {Kong Tek Cun Ong} adalah Dewa Pelindung Masyarakat Nan An {Hok Kian = Lam Wa}, karena beliau berasal dari kota 泉州 Qian Zhou, Kabupaten 南安 Nan An, Propinsi 福建 Fu Jian {Hok Kian. Kong Tek Cun Ong disebut juga保安尊王 Bao An Zun Wang {Po An Cun Ong} dan secara umum disebut郭聖王 Guo Sheng Wang {Kwee Seng Ong}, karena berasal dari keluarga Kwee.{Guo}. Beliau bernama asli Kwee Ang Hok {Guo Hong Fu}.

Menurut cerita yang banyak beredar, Kwee Ang Hok pada masa kecil bekerja sebagai gembala pada seorang tuan tanah yang amat kikir. Ia hidup bersama ibunya yang sudah tua. Berkat bimbingan ibunya, Kwee Ang Hok menjadi seorang anak yang berbudi luhur dan rajin bekerja. Pagi-pagi ia telah bangun dan dengan riang gembira pergi mengembala ternak yang dipercayakan kepadanya.

Pada suatu hari sang hartawan mengundang seorang ahli Hong Sui untuk memperbaiki makam leluhurnya. Selama tinggal di rumah hartawan ia berkenalan dengan Kwee Ang Hok dan amat tertarik pada pribadi anak gembala tersebut. Mereka menjadi sahabat baik meskipun usia mereka berbeda jauh. Karena kekikiran sang hartawan, sering kali ahli Hong Sui ini hanya diberi makan nasi dan lauk seadanya saja. Kwee Ang Hok amat iba kepada orangtua ini, dengan rela ia menyisihkan jatah nasinya untuk sahabatnya itu. Ahli Hong Sui ini amat berterima kasih atas kebaikan Kwee Ang Hok.

Untuk membalas budi Ang Hok, ia memberikan petunjuk agar memindahkan makam ayahnya ke suatu tempat yang menurut Hong Sui bagus, agar kelak hidupnya bahagia. Atas persetujuan ibunya ia mengikuti petunjuk sang ahli Hong Sui. Kwee Ang Hok menggali makam ayahnya & mencuci tulangnya sampai bersih, lalu membungkusnya dengan kain & dimasukkan ke dalam periuk tanah liat.

Si ahli Hong Sui berpesan : “Mulai sekarang, kau harus menggembalakan ternakmu di sekitar tempat ini, sampai ada seorang pria bertudung besi menuntun kerbau dengan seorang anak lelaki yang berjalan di bawah perut kerbau lewat di situ. Tempat di mana pertama kali kau melihat mereka, di situlah letak Hong Sui terbaik untuk menguburkan tulang-tulang ayahmu.”

Demikianlah, Kwee Ang Hok menunggu dengan sabar. Sambil menggembala, periuk tanah yang berisi tulang-belulang ayahnya tak pernah lepas dari gendongannya.

Suatu siang yang cerah mendadak berubah menjadi gelap dengan petir yang menyambar-nyambar dan hujan turun dengan lebatnya. Kwee Ang Hok tak sempat menggiring pulang ternaknya, sehingga terpaksa berteduh di bawah sebuah pohon besar. Saat ia berteduh, dari arah tikungan muncul seorang lelaki menuntun kerbau dengan terburu-buru. Ia menggunakan wajan besi untuk melindungi kepalanya dari hujan, dan anaknya yang masih kecil berlindung di bawah perut kerbaunya.

Kwee Ang Hok tertegun melihat hal tersebut. Segera ia sadar akan pesan ahli Hong Sui. Tanpa mempedulikan hujan yang masih turun dengan lebatnya, ia segera menggali tempat di mana ia pertama kali melihat mereka dan menanamkan periuk berisi tulang ayahnya di situ. Aneh, begitu periuk dimasukkan ke dalamnya, lubang itu segera menutup dengan sendirinya. Dengan gembira Ang Hok menggiring ternaknya pulang.

Waktu terus berlalu. Pada suatu hari, desa di mana Kwee Ang Hok tinggal, diserbu kawanan perampok yang ganas. Sasaran utama kawanan perampok itu adalah tempat hartawan kikir di mana Ang Hok bekerja. Mereka merampok harta benda dan membakar rumahnya. Karena khawatir akan kobaran api yang mulai menjalar ke tempat tinggalnya, Kwee Ang Hok meloncat keluar dari jendela. Anehnya, begitu melihat Ang Hok, kawanan perampok segera lari kalang kabut. Api besar yang dilewati Ang Hok pun mengecil dan padam seperti diguyur air. Ang Hok tak menyadari hal tersebut, namun warga kampung yang menyaksikan peristiwa ajaib itu terpana keheranan. Sejak peristiwa tersebut semua orang menaruh hormat kepadanya, terlebih sang hartawan kikir. Kwee Ang Hok tidak diperkenankan menggembala lagi, sebaliknya diberi tunjangan hidup agar dapat hidup layak bersama ibunya.

Setelah dewasa, pada suatu hari Ang Hok mendapat bisikan bahwa ia akan menerima anugerah Tuhan untuk menjadi orang suci. Ia menceritakan hal tersebut kepada ibunya. Lalu ia mandi, keramas & bersemedi dalam kamar sepanjang hari. Menjelang senja, sang ibu yang melihat putranya sejak pagi tidak keluar dari kamar, lalu mendorong pintu kamar tempat putranya bersemedi. Alangkah kagetnya ia ketika menyaksikan tubuh Kwee Ang Hok bersama kursinya terapung di udara dalam keadaan bersemedi. Tanpa pikir panjang, segera ia menarik kaki putranya ke bawah, tapi terasa kaki putranya telah dingin & kaku. Ia baru menyadari bahwa putranya telah meninggal dunia. Sejak itu penduduk kampung menghormati dan memuja Kwee Ang Hok sebagai orang suci, dan mendirikan kelenteng untuknya.

Belakangan, karena Kwee Ang Hok sering muncul dan memberikan pertolongan jika terjadi bencana alam, maka penduduk memberinya gelar Kong Tek Cun Ong yang berarti Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah. Atau secara singkat disebut Kwee Seng Ong.

Kong Tek Cun Ong ditampilkan sebagai seorang pemuda memakai baju kebesaran dengan kaki yang satu bersila dan yang lain terjulur ke bawah, seperti waktu ia ditarik oleh ibunya. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 22 bulan 8 Imlek {Peh Gwe Ji Cap Ji}, dan wafat pada tanggal 22 bulan 2 Imlek {Ji Gwe Ji Cap Ji}.http://jindeyuan.org/kong-tek-cun-on...m-wa/index.htm
Nama-nama Dewa-dewi
yang sudah ada(start dari page 104 sampai selesai)

*I Huang Ta Tie
*San Qing
*Hian Thian Siang Tie
*He He Xian Er
*Kwan Kong kongco
*Thian Sang Se MU
*Bao Sang Da Di
*Seng Ong Ya / Seng Hong Ya
*^^ Hakim Neraka Yan Luo Wang (Giam Lo Ong)
*^^Da Ye Er Ye – Dewa Jangkung & Pendek
*Er Lang Shen
*Ciu Thian Sian Nie
*Yue Lao Kongco
*Tek Hay Cin Jin
*Kong Tek Cun Ong/Guang Ze Zun Wang

hari ini sampai sini dolo.... besok dilanjut


next
*Cai Shen Ye Kongco
*Pat Sian (ba xian)
*Lu Ban Gong
*Men Shen
*Co Kun Kong/Cauw Kun Kong /dewa dapur
*Tai Sui
*Qing Shui Zu Shi {Hok Kian = Ching Cui Co Su} (note untuk dewa ini sebab masih lom nge apakah beliau mendapat pencerahannya dari mana entah dr Taoism atawa Buddhism...jd maaf kalau ada kesalahan tentang pemahaman diriku tentang beliau meski diri ini sudah banyak ditolong olehnya....
Quote:Original Posted By minghay27
thanks bgt om roti pencerahaannya semoga daku dapat hikmah disini

Sama2 gan

Quote:Original Posted By langithijau
emang jangan sekarang Ko Minghay,ini aja bacanya bisa 2hari baru kelar.


Salam Oom Roti


CAI SEN

Spoiler for minghay27:


Asal Usul Dewa REJEKI (Cai Shen Ye )


Xuan Tan Yuan Shuai (Hian Than Goan Swee – Hokkian) seringkali disebut Cai Shen Ye (Jay Sin Ya – Hokkian) atau dewa kekayaan. Dewa ini mempunyai wilayah pemujaan yang luas dan termasuk yang paling popular karena kepercayaan yang menyatakan bahwa dari tangannyalah rejeki manusia berasal. Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling banyak dikenal adalah riwayat Zhao Gong Ming (Tio Kong Beng – Hokkian) yang diambil dari novel Feng Shen. Dalam novel itu diceritakan antara lain sebagai berikut : Kaisar Zhou-wang (Tiu Ong – Hokkian) dari Kerajaan Shang memerintahkan jendralnya yang kenamaan, Wen Zhong (Bun Tiong – Hokkian), untuk menyerbu Xi-chi, basis pasukan Wen Wang (Bun Ong – Hokkian). Untuk mencapai maksudnya itu, Wen Zhong minta bantuan enam orang sakti mandraguna, guna membentuk formasi barisan yang disebut Shi-jue-Zhen (Sip Ciat Tin – Hokkian) atau Barisan Sepuluh Pemusnah. Tapi Jiang Zi Ya berhasil menghancurkan enam diantaranya. Melihat kekalahan dipihaknya, Wen Zhong minta bantuan Zhao Gong Ming yang pada waktu itu bertapa di gua Lou-fu Dong, pegunungan E Mei Shan (Go Bi San – Hokkian). Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor harimau besar menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan dua jari tangannya. Dengan angkin diikatnya leher si raja hutan, kemudian dikendarai. Pada dahi harimau itu kemudian ditempelkan selembar “FU” atau surat jimat. Untuk selanjutnya si raja hutan tunduk di bawah perintahnya dan menjadi tunggangannya. Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa jurus, Zhao Gong Ming mengeluarkan ruyung saktinya dan menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh dan tewas. Tapi untung, datanglah Guang Cheng Zi (Kong Sheng Cu – Hokkian). Ia menolong Zi Ya dan dia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren (Ui Liong Cin Jin – Hokkian) keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi tertawan oleh tali wasiat Gong Ming. Chi Jing Zi dan Guang Cheng Zi pun terpukul jatuh oleh pertapa yang berkesaktian segudang itu. Tapi kemudian Zi Ya mendapat bantuan seorang sakti dari pegunungan Wu-yi Shan yang bernama Xiao Sheng. Semua barang wasiat Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Merasa kehilangan muka, Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau Tiga Dewa) untuk menemui seorang pertapa wanita yang sakti, Yun Xiao Niang Niang. Kepada Yun Xiao Niang Niang, Gong Ming meminjam sebuah gunting wasiat, untuk merebut kembali wasiat – wasiatnya yang dirampas musuh. Ternyata gunting wasiat itu adalah dua ekor naga yang berubah rupa, sebab itu kemampuannya luar biasa. Banyak dewa – dewa sakti dari pihak Zi Ya terpotong menjadi dua bagian dan tewas dengan mengerikan karena pusaka ini. Jiang Zi Ya jadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar.