KASKUS

Smile 

Quote:Original Posted By leoleolagi
Saya sangat menyukai beladiri wing chun sejak dahulu. Walaupun belum kesampaian untuk berguru sampai sekarang tapi saya lihat gerakan tangannya hampir mirip dengan aikido ya ? apa memang dulunya satu aliran ?


wingchun,aikido,taichi memang kayanya ad beberapa jurus/gerakan yg mirip tp serupa blum tentu sama sih gan ...


WISH U GREAT HEALTH & WEALTH N LUCK,HAPPINEES

FROM STEVE & FAM

klik juga monggo sob
bro
Ini sedikit saya kontribusi sejarah taiji

Quote:
Kata "Taiji" pertama muncul di "Book of Changes" atau Kitab Yi Jing dari masa Dinasti Zhou. Essay itu berkata " Dimanapun adalah Taiji , ada kedamaian dan harmoni antara positif dan negatif." Taiji berarti supremasi , ke-absolute-an , ekstrimitas , keunikan. Taiji Quan mengambil nama untuk implikasi dari superioritas. Nama Taiji Quan muncul ketika seorang master sekuler wushu Wang Zongyue menggunakan filosofi positif dan negatif dari Yi Jing untuk menjelaskan prinsip bela diri.

Ada perbedaan opini mengenai asal usul Taiji Quan . Beberapa berpendapat bahwa Taiji Quan diciptakan oleh Zhang Sanfeng dari masa Dinasti Song [961-1279 M] sementara yang lainnya percaya bahwa Taiji Quan diciptakan oleh Han Gongyue dan Cheng Lingzi dari masa Dinasti Liang [502-557]. Pendapat lain mengatakan bahwa Taiji Quan diciptakan oleh Xu Xuanping atau Li Daozi dari masa Dinasti Tang [618-907]. Segala preposisi tersebut belum bisa dibuktikan oleh catatan otentik historis.

Menurut riset dari sejarahwan wushu Tang Hao , Taiji Quan pertama kali dipelajari dan dilatih diantara keluarga Chen di lembah Chenjia yang terletak di daerah Wenxian , Provinsi Henan. Koreografer awal dari Taiji Quan adalah Chen Wangting yang merupakan seorang scholar sekaligus seniman bela diri. Chen menggabungkan pengetahuannya tentang latihan psikologis klasik, filsafat positif-negatif yang ada di Yi Jing dan teori medikal Tiongkok tentang aliran darah, udara , energi dalam tubuh , dengan pelatihan Wushu. Dia menyerap beberapa point penting dari berbagai aliran dan gaya aliran bela diri di masa Dinasti Ming, terutama 32 gerakan Qi Jiguang , untuk membentuk aliran Taiji Quan. Setelah bertahun-tahun menyebar , banyak gaya Taiji Quan yang tercipta. Yang populer dan paling menyebar luas adalah gaya-gaya sebagai berikut :

(1) Chen-style Taiji Quan , Gaya ini terbagi dalam dua kategori - klasik dan baru. Gaya klasik diciptakan oleh Chen Wangling sendiri. Memiliki lima rutin yang juga dikenal sebagai tinju 13 langkah. Gaya itu kemudian dilanjutkan ke Chen Changxing dan Chen Youben , di lembah Chenjia , yang semuanya ahli dalam gaya klasik. Chen Taiji adalah bentuk gaya awal dimana gaya lain dari Taiji Quan berasal baik langsung maupun tidak langsung dari gaya ini.

(2) Yang-style Taiji Quan , Perintis gaya keluarga Yang adalah Yang Luchan (1800- 1873) dari Yongnian , Provinsi Hebei. Yang mempelajari Taiji Boxing dari Chen Changxing di Chenjia pada saat masih kanak-kanak. Ketika dewasa dia kembali kedaerahnya untuk memberi pengajaran seni bela diri. Untuk sesuai dengan kebutuhan rakyat jelata, Yang Luchan membuat beberapa perubahan , mengeluarkan langkah-langkah yang sulit untuk disederhanakan. Anaknya kemudian mempersingkat yang akan lebih disederhanakan oleh cucunya. Sang cucu kemudian membentuk dan menyederhanakan jurus , yang menjadi protokol dari gaya keluarga Yang. Karena aliran keluarga Yang ini lebih sederhana , praktis , maka aliran ini menjadi populer untuk dipelajari dan dipraktekan. Aliran gaya keluarga Yang memiliki fitur langkah dan gerakan yang mengkombinasikan kekerasan , kelembutan dan kealamian . Ketika berlatih , seorang praktisi harus relaks untuk membentuk kelembutan dan mentransformasikan kedalam kekerasan. Aliran ini terbagi kedalam tiga sub-rutin : high posture , middle posture dan low posture .

( 3 ) Wu-style Taiji Quan , Aliran Keluarga Wu diciptakan oleh Quan You (1834-1902) , seorang Manchu yang tinggal di Daxing , provinsi Hebei. Dia mempelajari Taiji Quan dari Yang Luchan dan kemudian mengikuti anak kedua Yang Luchan , yaitu Yang Banhou untuk mengikuti studi singkat. Quan You dikenal dengan kemampuannya untuk memperlembut gerakan. Anak kedua Quan You , yaitu Quan Jiangquan merubah marga menjadi Wu , yaitu Wu Jiangquan (1870-1942). Wu Jiangquan (1870-1942) mewarisi dan kemudian menyebarluaskan satu gaya Taiji yang comfortable. Gayanya adalah kesinambungan dan banyak akal , tidak membutuhkan banyak lompatan , dan cocok digunakan untuk masyarakat umum sehingga gaya ini menjadi populer , yang dikenal sebagai aliran keluarga Wu.

(4) Wu Yuxiang Style of Taiji Quan, Wu Yuxiang (1812-1880) adalah pencipta dari gaya lain Taiji Quan. Sebagai warga Hebei , Wu Yuxian mempelajari Taiji Quan dari rekan seprovinsinya , Yang Luchan. Di tahun 1852, Wu pergi berkerja untuk saudaranya di Wuyang. Dalam perjalanan ke Wuyang , dia mempelajari gerakan baru dari Chen Qingping. Di rumah saudaranya , Wu mendapatkan transkrip Wang Zhongyue. Setelah kembali kerumah , Wu menyelidiki buku dan berlatih prinsip-prinsip yang ada didalamnya. Wu akhirnya menulis Sepuluh Point Penting seni bela diri dan Empat Kata Rahasia Taiji : Apply , Cover , Combat dan Swallow yang menjadi klasik dalam penulisan Wushu. Gaya Wu Yuxian memiliki fitur kekompakan , gerakan lambat , gerakan kaki yang ketat . Dada dan perut tetap tegak selagi tubuh bergerak. Gerakan luar tubuh dimulai oleh sirkulasi udara dalam tubuh dan penyesuaian batin.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

sumber : sumber


Memang ada beberapa orang yang meragukan Zhang SanFeng itu yangmenciptakan TaiJi Quan. Saya termasuk salah satu orang yang meragukan itu walau banyak yang mengatakan bahwa Zhang SanFeng menciptakan TaiJi 13 jurus dan konon TaiJi 13 jurus inilah sumber atau asal dari segala jenis aliran atau jurus TaiJi lainnya.
Hal yang meragukan saya adalah Zhang SanFeng tidak pernah menuliskan buku panduan berlatih TaiJi sedangkan JueYuen DaShi atau KutGoan Taishu dalam cerita To Liong To karangan Jin Yong benar-benar mengarang buku panduan beladiri, misalnya 73 Shan Shou.

Zhang SanFeng memang meninggalkan catatan bagi murid-muridnya, yaitu catatan mengenai meditasi dan gerakan daoyin, misalnya kitab XuanYao Bian, JinDan MiJue. TaiJi memang termasuk teknik daoyin ( cat: gerakan DaoYin atau gerakan memancing dan memandu qi ). Jika memang Zhang SanFeng memang yang menciptakan jurus TaiJi, sewajarnya meninggalkan catatan mengenai jurus TaiJi.

Memang ada kemungkinan Zhang SanFeng menciptakan jurus TaiJi, tapi bisa juga lebih dipengaruhi oleh jurus beladiri yang lebih kuno, yaitu jurus TaiYi WuXing.Banyak jurus beladiri Taoism memang tidak semua jelas siapa penciptanya, bahkan ketika beredar ke masyarakat juga banyak yang tidak jelas. Misalnya tinju BaJi, tinju BaJi ini meluas di kalangan suku Hui di Tiongkok. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, jurus ini diajarkan oleh seorang Taoist yang tidak pernah menyebut secara jelas namanya, yang dikenal hanya marganya adalah Lai. Taoist seperti ini lebih sering disebut YinShi. Baji quan ini bisa dikatakan merupakan opposite dari TaiJi quan, semua dalilnya bisa dikatakan berlawanan dengan TaiJi quan


Juga kita perlu ingat banyak penulis di Tiongkok jaman dahulu itu ketika menulis, banyak yang menuliskan seolah-olah ditulis oleh orang-orang terkenal. Misalnya HuangDi yang sering dipakai namanya seolah-olah menjadi anggapan bahwa HuangDi itulah yang menulis. Mungkin juga hal ini terjadi pada jurus TaiJi.
wah lengkap bgt gan
ane bantu rate ya
oia pendekar rajawali YOKO ga masuk ya gan

Smile 

Quote:Original Posted By bejodandodo
wah lengkap bgt gan
ane bantu rate ya


Quote:Original Posted By bejodandodo
oia pendekar rajawali YOKO ga masuk ya gan


Sob

Monggo sudi begabung gan & Sis semua just klic the pic bro

Smile 

sob
yang penting kita saling share sesama warga kaskus sob..
Dibantu nya Sob dan bila thread ini menarik hati Sobat2 semua mudah2an bisa mendorong cendolnya he2


UNTUK TIPS & TRIK,SOLUSI INTERNET BROWSING,HP ALL TIPE(BB,ANDROID,SYMBIAN DST ,FENOMENA UNIK 7 MENARIK ,BELIEVED OR NOT THING
CEKIDOT DI MARI SOB & JOIN OUR BROTHERHOOD
(Cendol for join)
wah ane baru tau nich pendekar terhebat.. Nice nice nice

Smile 

Quote:Original Posted By Tampand
wah ane baru tau nich pendekar terhebat.. Nice nice nice


sob

Dibantu nya Sob dan bila thread ini menarik hati Sobat2 semua mudah2an bisa mendorong cendolnya he2


UNTUK TIPS & TRIK,SOLUSI INTERNET BROWSING,HP ALL TIPE(BB,ANDROID,SYMBIAN DST ,FENOMENA UNIK 7 MENARIK ,BELIEVED OR NOT THING
CEKIDOT DI MARI SOB & JOIN OUR BROTHERHOOD(Cendol for join)
Jago-jago beladiri asal Indonesia :

  • Bang Madi (Dari Gang Tengah - Aliran Kuno)
  • Bang kari (Dari Tangerang - Aliran Kuno)
  • Mama Syahbandar (Dari Pagaruyung - Pencipta Aliran Syahbandar)
  • Mama Sera/KH. Raden Sarean (Dari Bogor - Pencipta Aliran Sera)
  • Abah Khaer (Dari Bogor - Kemungkinan disebut sebagai pencipta aluran Cimande)
  • Rd. H.Ibrahim (Pencipta Maenpo Aliran Cikalong)
  • Pitung (Rawa Belong Jakarta - Diyakini sebagai ahli Silat Aliran Cingkrik)
  • Aki Nampon (Padalarang - Pendiri Nampon)
  • S. Andadinata (Cicalengka Bandung - Pendiri Margaluyu)
  • H. Achmad Sudrajat (Bandung - Pencipta Tarung Drajat)
  • Fransino Tirta (Jakarta - MMA dan BJJ)
  • Herman Suwanda (Bandung - Aliran Cimande (Mande Muda))
  • Bambang Suwanda (Bandung - Aliran Cimande (Mande Muda))
  • Rd. Anggakusumah (Bandung - Pencipta Aliran Timbangan)
  • Ajengan Sanoesi (Cikaret - Diyakini sebagai pencipta Aliran Cikaret)
  • Rd. Aleh (Garut - Pendiri Panglipur)
  • Rd. Eni Rukmini Sekarningrat (Garut - Putri Rd. Aleh - Panglipur)
  • Lie Cheng Oek -> Ki Marhali -> H.Ghozali -> H. Hasbullah (Betawi - Aliran Beksi)
  • Kwe Tang Kiam -> leluhur keluarga H. Moch Zaelani -> H Moch. Zakaria (Betawi - Silat Kwitang)


Dan masih banyak lagi ahli-ahli beladiri lokal yang ceritanya ga ke ekspos. Malah kalo boleh bilang, orang lokal juga banyak yang kemampuannya setara atau bahkan melebihi orang luar.

Silahkan kalo mau menambahkan, tapi tokoh nyata bukan fiksi.

Smile 

Quote:Original Posted By jalak pengkor
Jago-jago beladiri asal Indonesia :

  • Bang Madi (Dari Gang Tengah - Aliran Kuno)
  • Bang kari (Dari Tangerang - Aliran Kuno)
  • Mama Syahbandar (Dari Pagaruyung - Pencipta Aliran Syahbandar)
  • Mama Sera/KH. Raden Sarean (Dari Bogor - Pencipta Aliran Sera)
  • Abah Khaer (Dari Bogor - Kemungkinan disebut sebagai pencipta aluran Cimande)
  • Rd. H.Ibrahim (Pencipta Maenpo Aliran Cikalong)
  • Pitung (Rawa Belong Jakarta - Diyakini sebagai ahli Silat Aliran Cingkrik)
  • Aki Nampon (Padalarang - Pendiri Nampon)
  • S. Andadinata (Cicalengka Bandung - Pendiri Margaluyu)
  • H. Achmad Sudrajat (Bandung - Pencipta Tarung Drajat)
  • Fransino Tirta (Jakarta - MMA dan BJJ)
  • Herman Suwanda (Bandung - Aliran Cimande (Mande Muda))
  • Bambang Suwanda (Bandung - Aliran Cimande (Mande Muda))
  • Rd. Anggakusumah (Bandung - Pencipta Aliran Timbangan)
  • Ajengan Sanoesi (Cikaret - Diyakini sebagai pencipta Aliran Cikaret)
  • Rd. Aleh (Garut - Pendiri Panglipur)
  • Rd. Eni Rukmini Sekarningrat (Garut - Putri Rd. Aleh - Panglipur)
  • Lie Cheng Oek -> Ki Marhali -> H.Ghozali -> H. Hasbullah (Betawi - Aliran Beksi)
  • Kwe Tang Kiam -> leluhur keluarga H. Moch Zaelani -> H Moch. Zakaria (Betawi - Silat Kwitang)


Dan masih banyak lagi ahli-ahli beladiri lokal yang ceritanya ga ke ekspos. Malah kalo boleh bilang, orang lokal juga banyak yang kemampuannya setara atau bahkan melebihi orang luar.

Silahkan kalo mau menambahkan, tapi tokoh nyata bukan fiksi.


NIce Share Bro ..Masuk Pejawan ya


Dibantu nya SOB


UNTUK TIPS & TRIK,SOLUSI INTERNET BROWSING,HP ALL TIPE(BB,ANDROID,SYMBIAN DST ,FENOMENA UNIK 7?& MENARIK ,BELIEVED OR NOT THING
CEKIDOT DI MARI SOB & JOIN OUR BROTHERHOOD(Cendol for join)
ane baru tau gan tentang jago bela diri diluar sono.. ternyata brucelee masuk juga

Smile 

Quote:Original Posted By pendekar_muda
Ini sedikit saya kontribusi sejarah taiji



Memang ada beberapa orang yang meragukan Zhang SanFeng itu yangmenciptakan TaiJi Quan. Saya termasuk salah satu orang yang meragukan itu walau banyak yang mengatakan bahwa Zhang SanFeng menciptakan TaiJi 13 jurus dan konon TaiJi 13 jurus inilah sumber atau asal dari segala jenis aliran atau jurus TaiJi lainnya.
Hal yang meragukan saya adalah Zhang SanFeng tidak pernah menuliskan buku panduan berlatih TaiJi sedangkan JueYuen DaShi atau KutGoan Taishu dalam cerita To Liong To karangan Jin Yong benar-benar mengarang buku panduan beladiri, misalnya 73 Shan Shou.

Zhang SanFeng memang meninggalkan catatan bagi murid-muridnya, yaitu catatan mengenai meditasi dan gerakan daoyin, misalnya kitab XuanYao Bian, JinDan MiJue. TaiJi memang termasuk teknik daoyin ( cat: gerakan DaoYin atau gerakan memancing dan memandu qi ). Jika memang Zhang SanFeng memang yang menciptakan jurus TaiJi, sewajarnya meninggalkan catatan mengenai jurus TaiJi.

Memang ada kemungkinan Zhang SanFeng menciptakan jurus TaiJi, tapi bisa juga lebih dipengaruhi oleh jurus beladiri yang lebih kuno, yaitu jurus TaiYi WuXing.Banyak jurus beladiri Taoism memang tidak semua jelas siapa penciptanya, bahkan ketika beredar ke masyarakat juga banyak yang tidak jelas. Misalnya tinju BaJi, tinju BaJi ini meluas di kalangan suku Hui di Tiongkok. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, jurus ini diajarkan oleh seorang Taoist yang tidak pernah menyebut secara jelas namanya, yang dikenal hanya marganya adalah Lai. Taoist seperti ini lebih sering disebut YinShi. Baji quan ini bisa dikatakan merupakan opposite dari TaiJi quan, semua dalilnya bisa dikatakan berlawanan dengan TaiJi quan


Juga kita perlu ingat banyak penulis di Tiongkok jaman dahulu itu ketika menulis, banyak yang menuliskan seolah-olah ditulis oleh orang-orang terkenal. Misalnya HuangDi yang sering dipakai namanya seolah-olah menjadi anggapan bahwa HuangDi itulah yang menulis. Mungkin juga hal ini terjadi pada jurus TaiJi.

Nice infoh Sob thks
Quote:Original Posted By dulwasi
ane baru tau gan tentang jago bela diri diluar sono.. ternyata brucelee masuk juga


Sob Thanks atas komengnya
Yang Terpenting Kita Saling Share Sesama Warga Kaskus Sob

Dibantu nya & nya Sob

TIPS & TRIK SOLUSI INTERNET BROWSING,GADGET,BB,ANDROID,SYMBIAN DST...BELIEVED OR NOT STORY & FENOMENA MASUK SINI & GABUNG SOB
Cendol Inside For Join Us
dulu pernah baca di semarang ada seorang pendekar sepuh kungfu yg jadi tabib, lupa namanya, tp julukannya yg terkenal "jip sing kui" atau setan klilap yg diperoleh setelah menjuarai kompetisi tarung bebas/pibu di daratan cina, alirannya klo g salah shaolin selatan. Trus ada juga suhu subur rahardja alm.pendiri pp bangau putih. Klo kaskuser ada yg bisa share kisah n prestasi2nya, tabek 100x dah dari aye
S.ANDADINATA



Quote:Gw copas aja dari wikipedia, sejauh ini sejarah mengenai sosok S.Andadinata yang paling masuk akal hanya ini

S. Andadinata yang lebih dikenal dengan nama Abah Andadinata (Majalaya, Bandung, 1893 - 30 Januari 1969) adalah seorang pendiri perguruan silat yang kontribusinya telah diakui oleh komunitas Silat Indonesia.

Sampai akhir hayatnya Abah Andadinata bermukim Jl. Ir H. Juanda no. 56 desa Cikuya kecamatan Cicalengka. Ia wafat pada petang hari tanggal 29 Januari 1969 pada usia 76 tahun dan di makamkan ditempat yang sama pada tanggal 30 Januari 1969 di desa Cikuya, Cicalengka

Perguruan silat yang dikembangkannya bernama Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat Cikuya, yang telah diakui sebagai salah satu perguruan silat dan tenaga dalam pertama di Indonesia.

Andadinata yang memiliki darah menak (bangsawan) Sumedang dan lebih suka menjalani kehidupan pribadinya secara mandiri tanpa tergantung pada orang lain.

Andadinata dilahirkan di desa Rancabayawak yang berada di wilayah Majalaya sekitar 30KM tenggara kota Bandung, pada tahun sekitar 1893. Tidak diketahui tepat tanggal dan bulan kelahirnya. Semasa hidupnya, sebagian besar dilalui melalui petualangan ke seluruh antero Jawa Barat mempelajari berbagai ilmu silat.

Ilmu hikmah dan ilmu silat

Keahlian ilmu-ilmu hikmah yang dipelajari adalah dari para ulama, utamanya yaitu dari Mama Ajengan Syeh Haji Abdul Kahpi, seorang ulama di wilayah Petaruman Tarogong Garut. Ilmu Hikmah yang didapat di antara lain adalah ilmu Haqmaliyah. Sampai saat ini ilmu Haqmaliyah masih eksis dilaksanakan oleh anak keturunannya.

Ilmu pencak silat pertama yang dikuasai oleh abah Andadinata adalah Silat jurus Paksi Muih sebagai warisan dari keluarganya. Yang kelak dikemudian hari inti dari tata gerak jurus peksi muih menjadi jurus tenaga dalam Payung Rasul.

Sampai saat ini jurus silat Peksi Muih masih eksis dan boleh dipelajari oleh warga penghayat Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat. Beliau lalu melakukan penyederhanaan tata gerak jurus silat peksi muih dengan melakukan kompilasi inti tata geraknya dipadukan dengan ilmu hikmah.

Pada masa itu ilmu pencak silat yang jurus-jurusnya bermuatan / menyatu dengan ilmu hikmah masih belum banyak di kenal masyarakat. Untuk meyakinkan bahwa jurus Payung Rasul benar benar ampuh.

Maka disetiap ada tabeuh gendang pencak, abah Andadinata selalu tampil untuk kaul meramaikan perhelatan hajat dengan seizin tuan rumah yang melaksanakan hajat. Seringkali jurus peksi muih atau jurus payung rasul terlihat aneh dimata pemirsa sehingga menimbulkan rasa penasaran pemirsa untuk sambung rasa (duel) dengan abah Andadinata. Pada setiap terjadi sambung rasa, rata rata mereka dapat dijatuhkan dalam satu gerakan.

Ilmu hikmah lainnya didapat oleh abah Andadinata awalnya bermula dari seringnya beliau hadir dalam pengajian ta’lim di tempat Ajengan Asep Samsuddin di kasepuhan Cirebon.

Sewaktu abah Andadinata berpetualang di wilayah kota Cirebon sebagai pedagang telur. Layaknya seorang pedagang selalu mencari tempat yang ramai. Satu di antaranya adalah jika disuatu tempat dilaksanakan hajatan atau majelis ta’lim.

Ketertarikan Ajengan Asep Samsudin terhadap sosok Andadinata, karena setiap ta’lim dilaksanakan beliau selalu hadir dan membiarkan lang daganganya tidak di tunggu. Dan ketika ta’lim selesai dagangan abah Andadinata selalu laris dibeli oleh peserta majelis ta’lim. Sebagai ulama dan ajengan, Mama ajengan Asep Samsudin sudah melihat bahwa pedagang telur ini memiliki kharomah yang spesifik. Dan akhirnya abah Andadinata diangkat sebagai murid untuk melestarikan ilmu ilmu hikmah ajengan Asep Samsudin.


Bersambung >>>>>>

Andadinata part 2

Perkembangan pencak silat semakin berkembang, meski pencak silat masih terbatas diajarkan kepada keluarga ningrat dan kalangan ulama. Maka atas saran mama Ajengan Asep Samsudin, Andadinata untuk melanjutkan pembelajaran melengkapi ilmu pencak silat di ke wilayah Parahiangan barat tepat nya di wilayah Kadipaten Cianjur.

Berbekal referensi dari mama ajengan Asep Samsudin, abah Andainata datang ke Padepokan silat juragan Rd Haji Ibrahim. Yang dikenal sebagai pendiri dan pencetus Maenpo Cikalong. Tidak jelas apakah abah Andadinata dilatih langsung oleh juragan Rd Haji Ibrahim yang pada tahun 1900an sudah sepuh, atau dilatih oleh seseorang pelatih yang di tugaskan.

Yang jelas dari 10 jurus halusan Margaluyu Pusat sangat kental dengan pengaruh maenpo Cikalong. yang berbasis pada silat Madi, Kari dan silat asli Cianjur. Tokoh Maenpo Cikalong yang usianya relatip lebih muda dari juragan Rd Haji Ibrahim adalah juragan Rd Haji Abullah yang mewarisi ilmu pencak silat Sabandar.

Sedangkan Silat Sabandar berasal dari Moh Kosim yang konon berasal dari Pagaruyung Minangkabau Sumatera Barat. Dari juragan Rd Haji Abdullah, abah Andadinata mewarisi ilmu pencak silat Sabandar yang tata geraknya sangat halus dan lembut.

Pengaruh silat Bugis dan Madura dalam keilmuan Margaluyu didapat sewaktu abah Andadinata berpetualang dipesisir pantai utara Cirebon, dimana para keturunan prajurit Bugis dan Madura yang bergabung dengan Dipati Anom (Amangkurat Amral) yang menyingkir ke Cirebon untuk meminta suaka dari Sultan Cirebon ketika, Dipati Anom berseteru dengan ayahnya sendiri Raja Mataram sinuwun ndalem Gusti Amangkurat I

Kompilasi tata gerak Madi, Kari, Sabandar dan Khaer inilah yang dikemudian hari menjadi 10 jurus wajib Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat ditambah ilmu Hikmah yang diharkatkan setelah selesai berlatih.

Mengingat tata gerak 10 jurus Margaluyu Pusat boleh dikatakan sangat sederhana, jurus-jurus tersebut tidak bisa diperagakan dipanggung sewaktu ada tabeuh gendang pencak. Oleh karena itu atas saran para kerabat bahwa jurus Margaluyu Pusat harus dilengkapi dengan jurus silat murni yang benar benar merupakan maenpo.

Dengan demikian Margaluyu Pusat dilengkapi dengan Maenpo Selah Eurih, Paleredan warisan dari juragan Rd Haji Soma. Oleh karena itu dalam setiap proses harkatan, ketiga tokoh Rd Haji Ibrahim, Rd Haji Abdullah dan Rd Haji Soma yang kesemuanya adalah kerabat Cikalong Cianjur selalu disebut untuk dimohon keikhlasanya serta mohon kepada Allah SWT agar manfaat ilmu warisanya menjadi amal ibadahnya.

Keilmuan Margaluyu, boleh dikatakan lengkap, karena berintikan ilmu hikmah Sunda wiwitan yang ditulis tangan oleh abah Andadinata dalam aksara Sunda Wiwitan yang serupa dengan tulisan pada relief prasasti2 di pulau Jawa, serta aksara Hanacaraka. Secara otentik buku ini masih ada dalam bentuk asli.

Pengaruh silat Tiongkok (Khun Tao) dan Mande dalam keilmuan Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat diperoleh abah Andadinata sewaktu beliau berpetualang di Cirebon. Dimana silat Tiongkok, Mande masuk dibawa mbah Khaer.

Adapun pengaruh silat Minang diperoleh dari Mama Sabandar (Moh Kosim). Sedangkan pengaruh silat Betawi pada keilmuan Margaluyu Pusat karena hasil berguru Maenpo di Cikalong. Dimana Abang Madi dan Abang Kari adalah guru dari juragan Rd Haji Ibrahim. Hal tersebut dikuatkan tokoh Mbah Madi, Mbah Kari dan mbah Sabandar dan mbah Khaer selalu disebut dalam setiap proses Harkatan sebagai ucapan terma kasih atas manfaat ilmunya dan memohon agar amal ilmu yang diwariskan dari beliau ini mendapat imbalan yang tinggi dari Allah SWT.

Kelengkapan keilmuan Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat secara sempurna dikuasai oleh abah Andadinata ketika umur beliau mencapai sekitar 35 tahun. Tetapi profesi sebagai pedagang telur keliling tak pernah dilepaskan. Dan kebiasaan naik panggung ketika ada perhelatan tabeuh gendang pencak untuk kaul kepada yang punya hajat selalu dilakukan sebagai promosi makanan sehat yakni telur yang diperdagangkan.

Karena seringnya terjadi sambung rasa (duel), dan dalam setiap sambung rasa abah Andadinata selalu unggul, maka beliau menjadi terkenal sebagai juara kaul yang disegani.

bersambung >>>
Ketenaran abah Andadinata sebagai juara kaul yang tidak punya perguruan, sempat terdengar oleh seorang guru perguruan silat yang terkenal di kota Bandung yaitu mang Soehandi yang bertempat tinggal di Gang Singsong tepatnya disekitar station KA Bandung. Tidaklah sulit mencari sosok Andadinata bagi mang Soehandi.

Pertemuan antara mang Soehandi dengan Abah Andadinata untuk sambung rasa merupakan peristiwa penting sebagai tonggak sejarah berdirinya Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat. Baru pertama kali abah Andadinata bersambung rasa dengan tokoh silat yang berlevel guru.

Bagi mang Soehandi juga baru pertama kali bertemu pendekar tanpa paguron yang selalu bisa mengunci geraknya dengan halus tanpa melukai apalagi mencederai. Sebagai ksatria Pendekar, Mang Soehandi menyatakan bahwa keilmuan Margaluyu Pusat adalah ilmu silat yang lengkap ditambah ilmu hikmah yang benar2 murni tanpa menggunakan tenaga khodam.

Dan beliau memohon kepada abah Andadinata untuk sudi menerima dirinya sebagai murid. Permohonan mang Soehandi ditolak oleh Andadinata, tetapi menerimanya sebagai sahabat latih. Maka mulai saat itu, dinyatakan bahwa dalam pakem keilmuan Margaluyu tidak dikenal istilah guru, apalagi gelar guru besar, Yang dikenal hanya istilah sahabat (ikhwan / ahwat) yang sedang berlatih.

Sumbangan yang terbesar dari Mang Soehandi dalam keilmuan Margaluyu Pusat adalah jurus kasaran yang lebih dikenal dengan jurus 14 dan jurus-jurus peupeuhan. Dengan demikian semakin lengkaplah jurus jurus Kelimuan Margaluyu Pusat yang merupakan jurus jurus yang memiliki kharomah.

Dengan masuknya mang Soehandi ke dalam Margaluyu Pusat, kemudian beliau membawa sahabat-sahabatnya untuk berlatih di antaranya adalah Mang Uwen serta pak Adiwikarta (Mang Ulis) dan Andi Rohandi. Maka disepakati yang semula keilmuan Margaluyu belum memiliki nama paguron maka dengan bergabungnya para senior diatas, secara resmi diberi nama Margaluyu Pusat.

Marga adalah jalan, Luyu = Saluyu atau lancar, Pusat berarti selalu di tengah. Jadi secara harfiah Margaluyu Pusat diartikan sebagai Selalu berjalan di tengah agar selalu lancar.

Meski jurus-jurus Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat berbasis pada gerak pencak silat. Tetapi sesungguhnya adalah ilmu beladiri pernapasan, yang berkharomah tenaga dalam. Yang mana seni beladiri pernapasan saat itu pada akhir decade 1930an belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sehingga sulit di perkenalkan atau disosialisasikan. Baru pada tahun 1948 didaftarkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bandung sebagai Persatuan Pencak Silat Margaluyu Pusat.

Catatan : Bahwa Abah S. Andadinata konon berusia 394 tahun dan merupakan murid sultan Agung Raja Mataram. menurut wali keluarga S. Andadinata adalah suatu kebohongan besar dan informasi yang menyesatkan, untuk menutupi sejarah yang sebenarnya. Tidak ada bukti serta fakta otentik dan atau fakta sejarah (babad Jawa + Sejarah Indonesia) yang mendukung. Makam Abah Andadinata sampai saat ini masih sering diziarahi oleh seluruh penghayat Margaluyu Pusat di Cikuya Cicalengka, berdekatan dengan kediaman Bapak Idit Junaedi (wali keluarga S. Andadinata)



RADEN HAJI IBRAHIM SANG PENCIPTA MAENPO CIKALONG

Maenpo Cikalong pertama kali dikembangkan dan diajarkan oleh Rd. Djajaperbata (Cikundul – Cikalong Kulon) yang setelah menunaikan ibadah haji berganti nama menjadi Rd. H. Ibrahim Djajaperbata. Beliau adalah anak dari Rd. Radjadiredja dan cucu dari Aria Cikalong. (Aria Cikalong adalah anak dari Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI. Aria Cikalong berguru Maenpo Cimande langsung ke Abah Khaer dan dianggap salah satu murid terbaik Abah Khaer).

Selain belajar Cimande dari keluarganya, Rd. H. Ibrahim Djajaperbata muda juga berguru kepada kakak iparnya, yaitu Rd. Ateng Alimudin (tinggal di Jatinegara), anak Rd. H. Tubagus Kosim yang merupakan keturunan ke-13 dari Sultan Hasanudin Banten.

Rd. Ateng Alimudin sendiri menguasai “Maenpo Cimande aliran Kampung Baru” dan juga maenpo dari daerah asalnya, Banten. Beliau saat itu menjadi terkenal karena berhasil menangkap seorang bandit yang sangat ditakuti di Batavia, Bapak Beka.

Setelah dianggap cukup, Rd. H. Ibrahim Djajaperbata berguru kepada Bang Ma’ruf yang merupakan karib dari Rd. Ateng Alimudin. Bang Ma’ruf sendiri tinggal di Kampung Karet – Tanah Abang. Aliran silat Bang Ma’ruf sendiri tidak diketahui.

Karakter Rd. H. Ibrahim digambarkan sebagai orang dengan kemauan keras dan sangat jujur. Beliau tidak gampang puas dengan hasil latihannya dan juga selalu berlatih dengan “rasa“. (Rasa di sini adalah rasa dalam bahasa Sunda, yang kalau dalam bahasa Indonesia berarti “dengan sepenuh hati”, “dengan konsentrasi tinggi”, atau “tidak sambil bermain-main”).

Setelah berguru Bang Ma’ruf, Rd. H. Ibrahim berguru ke Bang Madi. Pertemuan antara Guru dan Murid sendiri berlangsung secara tidak terduga. Untuk pertemuan ini, di beberapa komunitas Maenpo di Sunda lagi-lagi ada beberapa versi.

Versi 1. Pertemuan dengan Bang Madi

Menurut versi ini, Bang Ma’ruf dan Bang Madi adalah tetangga dan juga rekan dalam berjualan kuda. Di masa itu berjualan kuda adalah sebuah pekerjaan yang terhormat dan juga sangat menguntungkan. Asal dari Bang Madi sendiri diketahui sebagai orang asli Batavia (Pernyataan Bang Madi ketika berdialog dengan Rd. H. Ibrahim).

Suatu hari, ketika Rd. H. Ibrahim lagi berlatih Maenpo bersama Bang Ma’ruf, datanglah Bang Madi karena suatu urusan. Dan karena Bang Ma’ruf menganggap Bang Madi adalah sobat dekatnya, maka latihanpun tidak dihentikan. Mereka berlatih sampai beres. Besoknya, Rd. H. Ibrahim pun bertanya ke Bang Ma’ruf tentang orang yang tadi malam menonton latihan. Bang Ma’ruf menjelaskan bahwa itu adalah Bang Madi, rekannya dalam berjualan kuda. Kebetulan saat itu Rd. H. Ibrahim memang membutuhkan kuda dalam jumlah yang cukup banyak untuk dibawa ke Cianjur, akhirnya beberapa hari kemudian beliaupun menemui Bang Madi di rumahnya.

Ketika bertamu itulah Bang Madi memuji Maenpo Rd. H. Ibrahim, dan Rd. H. Ibrahim pun menjadi heran dan sangat tertarik, karena pujian Bang Madi bukan asal ngomong, melainkan juga sedikit menyinggung soal tehnik. Walaupun begitu beliau belum betul-betul menyadari kalau Bang Madi adalah seorang jawara. Dengan sedikit memaksa akhirnya Rd. H. Ibrahim berhasil mengajak Bang Madi untuk mengadu tangan (“nempelkeun leungeun” = istilah Maenpo dahulu untuk mengadu jurus).

Bang Madi menyanggupinya dan bertanya, siapa yang akan mengambil kuda-kuda duluan (“mengambil kuda-kuda” berarti di sini posisi bertahan, berkuda-kuda siap untuk diserang). Rd. H. Ibrahim meminta Bang Madi untuk mengambil kuda-kuda, dan Bang Madi pun mengambil kuda-kuda sambil berkata:”Silakan Raden, inilah kuda-kuda Macan Turun dari Udik“. Rd. H. Ibrahim pun menyerang dengan cepat, tetapi dengan mudah serangannya bisa diblok dan diapun bisa dibanting sampai jatuh berguling-guling.

Rd. H. Ibrahim mulai menyadari keahlian Bang Madi, dan akhirnya dia meminta Bang Madi yang menyerang dan dia yang mengambil kuda-kuda. Setelah Rd. H. Ibrahim mengambil kuda-kuda, secepat itu juga Bang Madi sudah menyerang dan menyebabkan Rd. H. Ibrahim jatuh terjengkang.

Begitu terus berulang-ulang, silih berganti saling menyerang dan mengambil kuda-kuda. Sampai Rd. H. Ibrahim sendiri kehabisan tenaga dan berkata:”Saya mengaku kalah dan mulai saat ini mengakui Abang sebagai Guru”.

(Disadur dari tulisan kang Mpay)
Versi 2. Pertemuan dengan Bang Madi

Sebenarnya, apa yang berbeda dari versi pertama dan kedua adalah proses pertemuan itu sendiri, hal-hal lainnya relatif sama. Menurut versi ini pun Bang Madi adalah kawan Bang Ma’ruf, dan sama-sama berdagang kuda. Tetapi di versi kedua ini disebutkan bahwa salah satu keahlian Bang Madi adalah menundukkan kuda-kuda yang masih liar. Hal itulah yang mengawali pertemuan Bang Madi dengan Rd. H. Ibrahim Djajaperbata. Di versi kedua ini tidak disebutkan kalau Bang Madi pernah melihat Bang Ma’ruf sedang melatih Maenpo ke Rd. H. Ibrahim.

Pertemuan Bang Madi dengan Rd. H. Ibrahim diawali ketika Rd. H. Ibrahim membeli seekor kuda eropa yang sangat besar, sedikit liar dan membutuhkan penggantian tapal kuda yang baru. Akhirnya Rd. H. Ibrahim membawanya ke Bang Madi yang memang ahli menangani kuda yang agak liar. Bang Madi menyanggupi ketika Rd. H. Ibrahim datang dan memintanya mengganti tapal kuda, dengan tenang dia mengganti tapal kuda. Tiba-tiba ketika sedang membuka tapal yang lama, kuda itu menendang sehingga membahayakan jiwa Bang Madi. Bang Madi dengan refleks dan rileksnya menangkis yang mengakibatkan kaki kuda itu patah.

Apa yang terjadi itu bukannya membuat Rd. H. Ibrahim marah, tetapi kagum dan penasaran. Dia tidak menyangka sama sekali dengan perawakan yang kecil dan terlihat lemah Bang Madi bisa melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak yakin bisa melakukannya. Dari sini kisahnya sama seperti yang terjadi di versi pertama ketika Rd. H. Ibrahim mencoba mengadu jurus dengan Bang Madi.

Ciri khas “ulin” Madi

Ciri khas ulin Madi sendiri adalah tenang, lembut dan “ngaheurinan lawan” (ngaheurinan lawan = membuat ruang gerak lawan menjadi terbatas). Tenang dan lembut tidak berarti gerakan menjadi lambat dan tidak bertenaga, dan “ngaheurinan lawan” adalah sebuah strategi tempur dimana tenaga lawan dimanfaatkan dan dikembalikan kepada lawan. Ulin Madi lebih berkarakter bertahan (tidak agresif) dan mengandalkan counter attact dengan jurus yang tepat dan moment yang tepat, dan dilakukan dalam jarak dekat seakan-akan menempel kepada lawan.

Di kalangan Maenpo Cikalong tehnik ini digambarkan dengan tiga kata, yaitu: “puhu tanaga”, “puhu gerak” dan “bendungan”.

1. puhu tanaga berarti mengerti dan mengetahui asal kekuatan suatu gerakan. (puhu = pusat, tanaga = tenaga).

2. puhu gerak berarti mengerti dan mengetahui awal dari gerakan dan bagian mana dari tubuh yang mempengaruhinya. (puhu = pusat, gerak = gerak).

3. bendungan adalah tehnik “membendung” serangan lawan tanpa kehilangan posisi dan kuda-kuda kita sendiri (tidak mundur, lebih banyak maju dan menghindar ke samping walaupun tidak ekstrem, dalam artian menghindar bukan depan loncatan, tetapi langkah pendek ke samping).

Dalam aplikasinya, ketika kita sudah menguasai prinsip-prinsip di atas, kita bisa merasakan pergerakan lawan ketika tangan ditempelkan atau bahkan ketika lawan bergerak walaupun tangan kita tidak menempel (jarak dengan lawan satu lengan). Hal-hal inilah yang nantinya menjadi salah satu aliran di Maenpo Cikalong yang disebut Maenpo Ulin Tapel (Permainan Menempel) dan Maenpo Ulin Tangtung (permainan jarak satu “tangtungan”, tangtung = berdiri).

(Disadur dari tulisan kang Mpay)
Berguru Ke Bang Kari

Setelah dianggap sudah mewarisi seluruh ilmu Bang Madi, Rd. H. Ibrahim atas saran dari Rd. Ateng Alimudin dan Bang Madi pergi untuk menemui dan berguru ke Bang Kari. Bang Kari adalah sahabat dekat Bang Madi, dan mereka berdua memiliki kemampuan yang dianggap setara. Kalau dianggap memiliki kemampuan yang setara, lalu kenapa Rd. H. Ibrahim disarankan untuk berguru ke Bang Kari.

Hal ini dikarenakan karena Bang Kari dan Bang Madi memiliki “gaya” maenpo yang berbeda. Kalau Bang Madi yang terkenal dengan Maenpo Ulin Tapel (Tempelan) dan Maenpo Ulin Tangtung, maka Bang Kari terkenal dengan Maenpo Peupeuhan. Baik Bang Madi maupun Rd. Ateng Alimudin sepakat, dengan berguru ke Bang Kari akan menajamkan “rasa” Rd. H. Ibrahim.

Bang Kari saat itu tinggal di Kampung Benteng Tangerang. (Sejak abad XIV Kampung Benteng sudah dikenal sebagai “China Town”, lalu apakah Bang Kari mewarisi suatu aliran Kung Fu? Tak ada keterangan tentang itu. Hanya yang pasti beliau memang tinggal di Kampung Benteng, dan pertukaran ilmu sangat mungkin terjadi).

Sedikit soal Kampung Benteng, jauh sebelum komunitas Cina tinggal di sana, Kampung Benteng memiliki sejarah yang panjang sebagai tempat persinggahan pasukan-pasukan dari Pajajaran, lalu selanjutnya Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram dalam usaha mereka menundukan Batavia yang dikuasai VOC.

Pasukan dari ketiga kerajaan itu, sesuai zaman nya masing-masing menempati daerah-daerah sekitar Jakarta, yang salah satu nya dikenal menjadi Kampung Benteng.

Masyarakat Cina sendiri diduga mulai menempati daerah itu sekitar abad 14. Baik itu berupa pasukan-pasukan yang dikirim Kaisar sebagai utusan ke Jawa maupun pedagang-pedagang.

Jadi tidak heran kalau Kampung Benteng memilki kekhasan budaya, baik itu budaya musik (contoh Gambang Kromong) maupun ilmu beladiri. Ada satu hal yang menarik, orang-orang Cina di Kampung Benteng dalam masa abad 18 terkenal dengan jago-jago beladirinya, dan karena mereka juga sangat bersahaja dan sederhana, ada yang menyebut mereka “macan-macan dari udik” (Ingat “Macan Turun dari Udik”, suatu ungkapan yang dikeluarkan oleh Bang Madi ketika memasang kuda-kuda diawal pertemuan mereka).

Kembali ke Bang Kari. Bang Kari sendiri dikenal sebagai jago beladiri tidak hanya di Kampung Benteng, tetapi sampai Batavia. Dan Maenpo nya lebih menekankan kepada ilmu pukulan, itulah sebabnya ketika ilmu itu diwarisi oleh Rd. H. Ibrahim, aliran ini di Cikalong disebut sebagai “Maenpo Peupeuhan“.

Ketika menemui Bang Kari, dan mengungkapkan keinginannya untuk berguru, Rd. H. Ibrahim diuji dulu kemampuan silatnya. Diuji berupa ilmu fisik maupun kedewasaan dan kematangan karakter. Setelah ujian itu, apalagi Rd. H. Ibrahim datang “dikirim” oleh sobatnya Bang Madi, Bang Kari sadar kalau Rd. H. Ibrahim adalah murid yang sangat istimewa. Istimewa baik itu dalam karakter maupun kemampuan dan dedikasinya dalam Maenpo. Karena itu Bang Kari menerimanya sebagai murid, walaupun begitu… Bang Kari memberikan nasehat yang sangat panjang kepada Rd. H. Ibrahim, salah satunya adalah 5 hal yang harus dijauhi oleh ia ketika mewarisi ilmu Maenpo nya, yaitu:

1. Ujub (Berpuas diri dan merasa cukup)
2. Riya (Melakukannya untuk menyombongkan diri)
3. Takabur (Merasa paling bisa dan paling jago)
4. Sum’ah (Melakukannya karena mencari pujian dan ingin dianggap jago)
5. Dholim (Menyakiti orang lain).

Setelah itu, Bang Kari dan Rd. H. Ibrahim melakukan sumpah guru dan murid. Bentuk upacara yang dilakukan adalah duduk berdua di atas kain kafan yang melambangkan kesucian dan saling berjabat tangan sambil menghadap Kiblat.

Sebelumnya saling membersihkan diri dulu, baik itu fisik maupun rohaninya (dengan mandi dan berpuasa). Sesudah itu “ditalek”, atau ditanya… apakah sumpah itu dilaksanakan dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani dan tanpa paksaan. Setelah itu baru mengucapkan sumpah yang intinya akan mengikuti semua aturan yang diberikan oleh Guru dan Agama.

(Disadur dari tulisan kang Mpay)
×