KASKUS

Quote:Original Posted By dhenasya
satu pertanyaan saya yg belum terjawab sampai sekarang
kenapa brimob dulu tidak disatukan dengan TNI ketika TKR dibentuk ?
bukannya dulu banyak laskar2 perjuangan saat perang kemerdekaan melebur jadi satu institusi TENTARA
toh menpor juga berguru ke MILITER US, bukan "SWATT" disana
tapi ketika pulang mereka lebih bangga menyebut dirinya POLISI bukan TENTARA

atributnya juga serupa...kemampuannya juga serupa...kenapa harus berbeda institusi ?

sebab di lapangan saya melihat overlapping antara dua kemampuan ini
Brimob tidak mau disamakan dengan TNI, bahkan mereka merasa lebih tinggi dari TNI sebab ada kalimat " kemampuan mereka kami bisa, tapi ada kemampuan kami yang tidak kalian bisa"

padahal diujungnya sama INDONESIA, tapi sering dalam penugasan terjadi friksi (atau saya salah, semoga saya salah)


pertanyaan terakhir, setelah melihat loreng brimob, apakah warga sipil seperti saya boleh membeli jaket dengan motif tersebut untuk keperluan umum (naik motor, dll)
sebab kalau TNI gak boleh, kalau ada razia pasti kena

maklum pengagum dunia militer dan brimob (kalau brimob tidak mau disebut militer)


fakta sejarah mengatakan < bahwa keberadaan brimob ( Polisi Istimewa justru paling awal sebagai suatu organisasi dengan hierarkhi , persenjataan dan personil yang paling teratur saat masa peralihan dari pemerintahan penjajahan jepang kepada tentara sekutu yang dibonceng NICA , pada pagi hari tgl 17 Agustus 1945 RS Soekanto ( belum sebagai KKN / Kepala Kepolisian Negara ) memerintahkan anggota Tokubetsu Keisatsutai ( barisan Polisi Istimewa ) yanga d di jakarta , salah satunya bernama MANGIL ( karena kebetulan rumahnya dekat dgn Rumah Bun Karno ) untuk mengawal soekarno Hatta membacakan Proklamasi. tepat setelah Proklamasi dibacakan , secara serentak barisan Polisi Istimewa, Polisi Macan , Polisi Istimewa di Surabaya menyatakan sebagai Polsi Republik , ditandai dengan cara sederhana mengganti Pin bunga sakura di peci mereka menjadi Pin Merah Putih.

hal yang jamak terjadi di belahan negara manapun ketika pemerintahan beralih ,terjadi vaccum of power , sehingga otoritas berganti, yang tetap adalah organ kepolisian sebagai penjaga keamanan ( IMPARSIAL dan NEUTRAL ) , contoh kepolisian jepang pasca jepang menyatakan kalah kepada sekutu di PD 2, militerdan pemerintahan mungkin tergantikan karena kondisi kalah perang tapi kepolisian sebagai suatu tugas menjaga peradaban tidak boleh lowong.

selain belajar beberapa kemapuan di US Marine Academy of Quatico, terdapat beberapa kali pengiriman perwira dan bintara mobrig saat itu belajar di OKINAWA jepang dan Philipina ( Clark dan subic ) , sesuai perkembangan jaman saat itulah.

overlapping ??? sepertinya semua persoalan di muka bumi ini akan mengalami penumpukan dan distorsi sekarang tergantung sudut pandang aja , kalau postifnya kita ambil adalah makin banyak yang ngeroyok makin cepat selesai kan urusannya , tapi kalau bica sudut pandang egosentrisme , yang terjadi adalah arogansi AKU PALING JAGO , KAMU AGAK JAGO , DIA SEDIKIT JAGO , YANG LAIN ASAL JAGO.

sudah banyak pengalamam join task force yang sukses berkat sinergitas dan saling pemahaman kelebihan dan kekurangan setiap satuan , semboyannya MY FLAG IS YOUR FLAG TOO.NKRI harga MATI.

kekhasan tugas Polisi tidak dapat tergantikan oleh tentara , demikian juga sebaliknya spesifikasi Tuigas Tentara juga tak akjan tergantikan oleh Polisi.
friksi dimana saja bisa terjadi, bahkan dalam anak sendiri di satui keluarga juga bisa , tergantung kendali diri dan komando saja , jaman sudah berganti jadi kalau ada yang pulang benkak bengkak akibat tawur biasanya sekarang malah jadi bulan -bulanan , hiduplah pada jamanmu setiap jaman ada orangnya setiap orang ada jamannya

kebudayaan memiliki organ kepolisian dengan kualifikasi seperti atau sama dengan Tentara adalah sebuah tinjauan sejarah , negara yang menganut paham eropa continental ( gampangnya sistem hukum eropa daratan / ex jajahan belanda dkk ) mengenal konsep Polisi dengan kemampuan tentara ( gendamarie, Carabinieri , Jendarma, dll ) ,hal ini terkait system kepolisian yang dianut NATIONAL POLICE SYSTEM ( CEntralized dgn beberapa variasi, berbeda \dengan negara yang menganut system hukum AGLO SAXON seperti inggris dan US , AUSTRALIA juga , mereka tidak mengenal bentuk Polisi PAramiliter.

tantangan tugas dan dimensi Hukum dan HAM menjadi pertimbangan , sehingga eksistensi Polisi civil ( bukan sipil ) dengan kemampuan militer tyetap eksis bahkan dalam penugasan PBB . celah yang terdapat terkait masalah keamanan personil UN Contingent menjadikan dasr pertimbangan melibatkan suatu bentuk Polisi berkemampuan militer atau Polisi dengan paradigma Civillian Police , sebagai jembatan saat ancaman bahaya terhadap personil sipil PBB dan un Armed Police ( IPTF / CIV POL ) sanagt besar , sedangkan pelibatan kekautan Militer dianggap sangat sensitif terhadap misi perdamaian itu sendiri sehingga mengahruskan membentuk
( A STAND ALONE , ROBUST POLICE MISSION ) SPERTI : ESU , MSU dan FPU ( fORMED pOLICE uNIT ) DI SUDAN , haiti dll.

pengenaan atribut , Polri atau TNI dengan maksud sebagai kebanggan , untuk itu kami ucapkkan terima kasih dan penghargaan , namun cinta dan penghargaan tersebut juga harus ditunjukan dengan pengharagaan bahwa atribut yang bisa dibeli dengan cara sangat gampang dan harganya murah memiliki makna pribadi yang sangat mendalam bagi setiap personil yang berhak memakainya.
kemudian juga untuk menghindari penyalah gunaan yang nantinya dapat menurunkan dan merusak nama baik kesatuan yang bersangkutan.
kalau agan , kami yakin adalah orang orang yang sangat bertanggung jawab sehingga nggak mungkin menyalah gunakan atribut yang ada, rasa cinta dan bangga agan dapayt disampaikan dalam doa agar setiap penugasan kami baik TNI dan POLRI senatiasa diberkahi YANG KUASA , keselamatan dan Kesuksesan serta KAMI tidak perlu dipulangkan dalam peti jenazah, berikan kami senyum sebagai pelipur lelah dan pengobat dahaga kami , saat menyabung nyawa menegakkan kedaulatan dan memelihara keamanan NKRI.
Quote:Original Posted By srigunting1
fakta sejarah mengatakan < bahwa keberadaan brimob ( Polisi Istimewa justru paling awal sebagai suatu organisasi dengan hierarkhi , persenjataan dan personil yang paling teratur saat masa peralihan dari pemerintahan penjajahan jepang kepada tentara sekutu yang dibonceng NICA , pada pagi hari tgl 17 Agustus 1945 RS Soekanto ( belum sebagai KKN / Kepala Kepolisian Negara ) memerintahkan anggota Tokubetsu Keisatsutai ( barisan Polisi Istimewa ) yanga d di jakarta , salah satunya bernama MANGIL ( karena kebetulan rumahnya dekat dgn Rumah Bun Karno ) untuk mengawal soekarno Hatta membacakan Proklamasi. tepat setelah Proklamasi dibacakan , secara serentak barisan Polisi Istimewa, Polisi Macan , Polisi Istimewa di Surabaya menyatakan sebagai Polsi Republik , ditandai dengan cara sederhana mengganti Pin bunga sakura di peci mereka menjadi Pin Merah Putih.

hal yang jamak terjadi di belahan negara manapun ketika pemerintahan beralih ,terjadi vaccum of power , sehingga otoritas berganti, yang tetap adalah organ kepolisian sebagai penjaga keamanan ( IMPARSIAL dan NEUTRAL ) , contoh kepolisian jepang pasca jepang menyatakan kalah kepada sekutu di PD 2, militerdan pemerintahan mungkin tergantikan karena kondisi kalah perang tapi kepolisian sebagai suatu tugas menjaga peradaban tidak boleh lowong.

selain belajar beberapa kemapuan di US Marine Academy of Quatico, terdapat beberapa kali pengiriman perwira dan bintara mobrig saat itu belajar di OKINAWA jepang dan Philipina ( Clark dan subic ) , sesuai perkembangan jaman saat itulah.

overlapping ??? sepertinya semua persoalan di muka bumi ini akan mengalami penumpukan dan distorsi sekarang tergantung sudut pandang aja , kalau postifnya kita ambil adalah makin banyak yang ngeroyok makin cepat selesai kan urusannya , tapi kalau bica sudut pandang egosentrisme , yang terjadi adalah arogansi AKU PALING JAGO , KAMU AGAK JAGO , DIA SEDIKIT JAGO , YANG LAIN ASAL JAGO.

sudah banyak pengalamam join task force yang sukses berkat sinergitas dan saling pemahaman kelebihan dan kekurangan setiap satuan , semboyannya MY FLAG IS YOUR FLAG TOO.NKRI harga MATI.

kekhasan tugas Polisi tidak dapat tergantikan oleh tentara , demikian juga sebaliknya spesifikasi Tuigas Tentara juga tak akjan tergantikan oleh Polisi.
friksi dimana saja bisa terjadi, bahkan dalam anak sendiri di satui keluarga juga bisa , tergantung kendali diri dan komando saja , jaman sudah berganti jadi kalau ada yang pulang benkak bengkak akibat tawur biasanya sekarang malah jadi bulan -bulanan , hiduplah pada jamanmu setiap jaman ada orangnya setiap orang ada jamannya

kebudayaan memiliki organ kepolisian dengan kualifikasi seperti atau sama dengan Tentara adalah sebuah tinjauan sejarah , negara yang menganut paham eropa continental ( gampangnya sistem hukum eropa daratan / ex jajahan belanda dkk ) mengenal konsep Polisi dengan kemampuan tentara ( gendamarie, Carabinieri , Jendarma, dll ) ,hal ini terkait system kepolisian yang dianut NATIONAL POLICE SYSTEM ( CEntralized dgn beberapa variasi, berbeda \dengan negara yang menganut system hukum AGLO SAXON seperti inggris dan US , AUSTRALIA juga , mereka tidak mengenal bentuk Polisi PAramiliter.

tantangan tugas dan dimensi Hukum dan HAM menjadi pertimbangan , sehingga eksistensi Polisi civil ( bukan sipil ) dengan kemampuan militer tyetap eksis bahkan dalam penugasan PBB . celah yang terdapat terkait masalah keamanan personil UN Contingent menjadikan dasr pertimbangan melibatkan suatu bentuk Polisi berkemampuan militer atau Polisi dengan paradigma Civillian Police , sebagai jembatan saat ancaman bahaya terhadap personil sipil PBB dan un Armed Police ( IPTF / CIV POL ) sanagt besar , sedangkan pelibatan kekautan Militer dianggap sangat sensitif terhadap misi perdamaian itu sendiri sehingga mengahruskan membentuk
( A STAND ALONE , ROBUST POLICE MISSION ) SPERTI : ESU , MSU dan FPU ( fORMED pOLICE uNIT ) DI SUDAN , haiti dll.

pengenaan atribut , Polri atau TNI dengan maksud sebagai kebanggan , untuk itu kami ucapkkan terima kasih dan penghargaan , namun cinta dan penghargaan tersebut juga harus ditunjukan dengan pengharagaan bahwa atribut yang bisa dibeli dengan cara sangat gampang dan harganya murah memiliki makna pribadi yang sangat mendalam bagi setiap personil yang berhak memakainya.
kemudian juga untuk menghindari penyalah gunaan yang nantinya dapat menurunkan dan merusak nama baik kesatuan yang bersangkutan.
kalau agan , kami yakin adalah orang orang yang sangat bertanggung jawab sehingga nggak mungkin menyalah gunakan atribut yang ada, rasa cinta dan bangga agan dapayt disampaikan dalam doa agar setiap penugasan kami baik TNI dan POLRI senatiasa diberkahi YANG KUASA , keselamatan dan Kesuksesan serta KAMI tidak perlu dipulangkan dalam peti jenazah, berikan kami senyum sebagai pelipur lelah dan pengobat dahaga kami , saat menyabung nyawa menegakkan kedaulatan dan memelihara keamanan NKRI.


nuhun gan...
ini senyum saya untuk para benteng NKRI seperti agan
tantangan tugas dan dimensi Hukum dan HAM menjadi pertimbangan , sehingga eksistensi Polisi civil ( bukan sipil ) dengan kemampuan militer tyetap eksis bahkan dalam penugasan PBB . celah yang terdapat terkait masalah keamanan personil UN Contingent menjadikan dasr pertimbangan melibatkan suatu bentuk Polisi berkemampuan militer atau Polisi dengan paradigma Civillian Police , sebagai jembatan saat ancaman bahaya terhadap personil sipil PBB dan un Armed Police ( IPTF / CIV POL ) sanagt besar , sedangkan pelibatan kekautan Militer dianggap sangat sensitif terhadap misi perdamaian itu sendiri sehingga mengahruskan membentuk
( A STAND ALONE , ROBUST POLICE MISSION ) SPERTI : ESU , MSU dan FPU ( fORMED pOLICE uNIT ) DI SUDAN , haiti dll.


tertarik untuk yg garuda bhayangkara, setau saya itu kan FPU. Kalu ESU dan MSU yang dimaksud apalagi ya gan ?
[QUOTE=danielldt;411442537]kalo tontaipur (peleton intai tempur) kalau sekarang lebih mirip intelmob, karena tugas intelmob juga melakukan pulbaket sebelum pasukan masuk ke lokasi/menyerang

iya bang,kayak intel combat gt ya..
Quote:Original Posted By dhenasya
satu pertanyaan saya yg belum terjawab sampai sekarang
kenapa brimob dulu tidak disatukan dengan TNI ketika TKR dibentuk ?
bukannya dulu banyak laskar2 perjuangan saat perang kemerdekaan melebur jadi satu institusi TENTARA
toh menpor juga berguru ke MILITER US, bukan "SWATT" disana
tapi ketika pulang mereka lebih bangga menyebut dirinya POLISI bukan TENTARA

atributnya juga serupa...kemampuannya juga serupa...kenapa harus berbeda institusi ?

sebab di lapangan saya melihat overlapping antara dua kemampuan ini
Brimob tidak mau disamakan dengan TNI, bahkan mereka merasa lebih tinggi dari TNI sebab ada kalimat " kemampuan mereka kami bisa, tapi ada kemampuan kami yang tidak kalian bisa"

padahal diujungnya sama INDONESIA, tapi sering dalam penugasan terjadi friksi (atau saya salah, semoga saya salah)


pertanyaan terakhir, setelah melihat loreng brimob, apakah warga sipil seperti saya boleh membeli jaket dengan motif tersebut untuk keperluan umum (naik motor, dll)
sebab kalau TNI gak boleh, kalau ada razia pasti kena

maklum pengagum dunia militer dan brimob (kalau brimob tidak mau disebut militer)


sebenernya punya polisi bersifat paramiliter itu sangat strategis gan...
mereka bisa diturunin kalo ada konflik besar dan kekuatan politik luar sangat tidak memungkinkan jika yang nanganin tentara...
istilahnya police action.... dalih yg sama pada saat agresi militer belanda ke dua (cmiiw)

jika konflik besar itu sewaktu2 terjadi, dan tentara gak mungkin turun karena berbagai alasan (ancaman embargo, sanksi dari luar, dll)
dan polisi biasa juga gak mungkin nanganin karena eskalasinya sudah tinggi
maka baguslah ada brimob... mereka kan secara hukum bukan tentara, tapi polisi....
alasan kita kuat karena hanya menurunkan polisi untuk mengembalikan ketertiban

tapi gw lihat dalam perjalanannya ada beberapa kesalahkaprahan juga
sampe sekarang gw masih bingung alasan apa sebenarnya yg jadi dasar pengiriman polisi (brimob) dilatih us ranger bahkan us marine...

apa memang permintaan us saat itu (tentu dengan pertimbangan politis mereka), atau kekuatan politik lokal yang berperan...
bukan masalah pantas gak pantas...
tapi secara fungsi kan memang beda, polisi bukan tentara... secara default hukum perang (pakta geneva, cmiiw) kombatan itu tentara resmi (cmiiw)
ini kenapa yang dilatih kok bukannya tentara

bagusnya, brimob jadi ahli urban conflict aja.... basic infanteri tentu perlu, tapi tidak perlu sampai advanced.... lebih baik dana dan sumberdaya yang ada di maksimalkan untuk meningkatkan kemampuan mengelola konflik di daerah urban

jadi, kedepannya ada sinergi dengan tentara....
klo beberapa unit brimob butuh kemampuan jungle war / amphibious attack tinggal minta tolong dilatih TNI
begitu juga sebaliknya, kalo beberapa unit TNI butuh kemampuan urban warfare, tinggal kontak minta dilatih brimob...

tapi rasanya mimpi gw ketinggian ya
Quote:Original Posted By poniman
sebenernya punya polisi bersifat paramiliter itu sangat strategis gan...
mereka bisa diturunin kalo ada konflik besar dan kekuatan politik luar sangat tidak memungkinkan jika yang nanganin tentara...
istilahnya police action.... dalih yg sama pada saat agresi militer belanda ke dua (cmiiw)

jika konflik besar itu sewaktu2 terjadi, dan tentara gak mungkin turun karena berbagai alasan (ancaman embargo, sanksi dari luar, dll)
dan polisi biasa juga gak mungkin nanganin karena eskalasinya sudah tinggi
maka baguslah ada brimob... mereka kan secara hukum bukan tentara, tapi polisi....
alasan kita kuat karena hanya menurunkan polisi untuk mengembalikan ketertiban

tapi gw lihat dalam perjalanannya ada beberapa kesalahkaprahan juga
sampe sekarang gw masih bingung alasan apa sebenarnya yg jadi dasar pengiriman polisi (brimob) dilatih us ranger bahkan us marine...

apa memang permintaan us saat itu (tentu dengan pertimbangan politis mereka), atau kekuatan politik lokal yang berperan...
bukan masalah pantas gak pantas...
tapi secara fungsi kan memang beda, polisi bukan tentara... secara default hukum perang (pakta geneva, cmiiw) kombatan itu tentara resmi (cmiiw)
ini kenapa yang dilatih kok bukannya tentara

bagusnya, brimob jadi ahli urban conflict aja.... basic infanteri tentu perlu, tapi tidak perlu sampai advanced.... lebih baik dana dan sumberdaya yang ada di maksimalkan untuk meningkatkan kemampuan mengelola konflik di daerah urban

jadi, kedepannya ada sinergi dengan tentara....
klo beberapa unit brimob butuh kemampuan jungle war / amphibious attack tinggal minta tolong dilatih TNI
begitu juga sebaliknya, kalo beberapa unit TNI butuh kemampuan urban warfare, tinggal kontak minta dilatih brimob...

tapi rasanya mimpi gw ketinggian ya


Kalau pertanyaan itu kenapa Brimob kenapa brimob dulu tidak disatukan dengan TNI ketika TKR dibentuk ? dan sampe sekarang gw masih bingung alasan apa sebenarnya yg jadi dasar pengiriman polisi (brimob) dilatih us ranger bahkan us marine...Kita harus harus buka buku sejarah Negara kita.

Mungkin ini alasannya:

1.\tBrimob dulunya adalah Polisi Istimewa pasukan ini sudah ada sebelum proklamasi. Jadi Brimob bukan laskar tetapi polisi pasukan bersenjata yang organisasinya sudah tergolong rapih.

2.\tBrimob juga digunakan sebagai pelindung oleh politisi sipil dari ketakutan kudeta militer (peristiwa 3 juli 1946 dan pengepungan istana 1952) jadi kekuatan Brimob cukup dipelihara/direstui oleh politisi sipil.

3.\tAmerika menggunakan Brimob sebagai tameng jika sewaktu-waktu PKI memberontak, AS tidak percaya dengan AD dan AL waktu itu karena kedua angkatan ini banyak terlibat pada peristiwa madiun 1948. Bayangkan betapa kuatnya pemberotak sehingga bisa memukul pasukan Brawijaya di jawa timur dari situ juga dapat dilihat betapa kuatnya pasukan Brimob saat itu sehingga Brimob dapat membackup pasukan Brawijaya. Sehingga AS tidak ragu untuk melatih dan membekali Brimob dengan peralatan serba canggih (senjata maupun peralatan komunikasi). Baru setelah 1965 AS percaya terhadap AD sehingga banyak kesatuan-kesatuan di AD dekat dengan AS.

4.\tDari sudut pandang militer Brimob adalah sebuah kekuatan yang dapat dipergunakan untuk melakukan operasi militer karena pada saat itu banyak pemberontakan yang adalah anggota militer lebih-lebih waktu pemberontakan itu hampir bersamaan (contohnya peristiwa tiga selatan: Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan) belum lagi pemberontakan di aceh yang hampir bersamaan terjadinya. Bisa dibayangkan seberapa kuat resource militer kita untuk memadamkan pemberontkan yang tersebar dan hampir bersamaan belum lagi banyak bagian militer yang ikut terlibat dalam pemberontakan itu. Mau tidak mau Militer pusat melirik Brimob yang sudah bahu-membahu dengan TNI saat revolusi fisik melawan penjajah Belanda.

Ijin nyimak

Yang digambar avatar ane, yang fotonya kedua dari kiri juga mengakui kehebatan Menpor ketika konfrontasi dengan Malaysia, bahkan katanya Menpor lebih nekat dari RPKAD
Quote:Original Posted By luths
terus pembagian tugasnya gimana ya?terutama pelopor sama perintis?

kalo gegana itu khusus menangani bahan peledak aja atau ada tugas penting lainnya?


Ni penjelasan tentang gegana gan.

Gegana adalah bagian dari Kepolisian Indonesia (Polri). Pasukan ini mulai ada sejak tahun 1976, meski ketika itu baru berupa detasemen. Baru pada tahun 1995, dengan adanya pengembangan validasi Brimob bahwa kesatuan ini harus memiliki resimen, Detasemen Gegana lalu ditingkatkan menjadi satu resimen tersendiri, yakni Resimen II Brimob yang sekarang berubah nama Sat I Gegana(2003). Tugas utama Gegana ada lima: Reintelmob, penjinakan bom, perlawanan teror, SAR, dan penjinakan bahan berbahaya kimia, biologi dan radioaktif (CBRN)

Satu operasi biasanya dilakukan oleh satu unit. Karena itu, dari sepuluh personel dalam satu unit tersebut, harus ada enam orang yang memiliki kemampuan khusus. Masing-masing: dua orang memiliki kemampuan khusus yang lebih tinggi di bidang jihandak, dua orang di bidang SAR dan dua lagi ahli teror. Kedua orang itu disebut operator satu dan operator dua. Yang lainnya mendukung.

Misalnya untuk teror: operatornya harus memiliki keahlian menembak jitu, harus memiliki kemampuan negosiasi, ahli dalam penggebrekan dan penangkapan. Namun semuanya tidak untuk mematikan. Sebab setiap operasi Gegana pertama-tama adalah berusaha untuk menangkap tersangka dan menyeretnya ke pengadilan. Kecuali dalam keadaan terpaksa, yang mengancam jiwa orang yang diteror, barulah terpaksa ada penembakan. Sementara untuk SAR, dituntut memiliki kemampuan dasar seperti menyelam, repling, jumping, menembak, juga P3K.

Demikian pula, operator jibom harus memiliki keahlian khusus di bidangnya. Setiap anggota Gegana secara umum memang sudah diperkenalkan terhadap bom. Ada prosedur-prosedur tertentu yang berbeda untuk menangani setiap jenis bom, termasuk waktu yang dibutuhkan. Kepada anggota Gegana jenis-jenis bom tersebut dan cara-cara menjinakkannya, termasuk risiko-risikonya, sudah dijelaskan.

Gegana baru punya tiga kendaraan taktis EOD (explosive ordinance disposal) yang sudah lengkap dengan alat peralatan. Padahal seharusnya, setiap unit memiliki satu kendaraan taktis. Selain di Gegana, kendaraan EOD masing-masing satu unit ada di Polda Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jadi se-Indonesia baru ada enam unit.

Dengan merosotnya pamor Amerika Serikat di dunia, pemerintah Amerika berupaya untuk menggalang dukungan politis dari berbagai negara Asia. Salah satu cara Amerika Serikat mencari dukungan ke Indonesia adalah dengan kerjasama anti terror yang meningkat antara kedua belah pihak. Dapat dilihat di periode 2003-2008, teknik dan takti dari Densus-88 semakin mirip dengan teknik dan taktik FBI HRT (Hostage rescue team)Selain itu peralatan yg digunakan oleh Densus-88 juga sama dengan pasukan FBI. Contoh peralatan yang sama adalah senapan serbu AR-15 dengan M-68 sight optik dan kolapsible stock (tipe CQB) Ladder entry teknik, kevlar helmet dll. Sampai saat ini Densus-88 berkonsentrasi untuk pengejaran dan penangkapan terroris yang relatif berkemampuan tempur rendah, sementara pertempuran spesial seperti Pembajakan pesawat dan pembebasan presiden dari penyanderaan masih ditangani oleh unsur TNI. Adapun topik pemberantasan teroris di Indonesia telah menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di Trunojoyo III dan Cilangkap mengenai pembagian tugas di dalam pelaksanaan counter terror. POLRI memang telah mendapatkan mandat UU untuk memerangin teror di dalam negeri, tetapi para banyak kalangan merasa POLRI belum dapat beroperasi secara independent untuk memerangi teroris tanpa bantuan unsur luar (FBI dan Australian Federal Police) sehingga para pengamat merasa sangat lebih baik bila POLRI bergabung bersama TNI daripada menerima bantuan dari pihak luar. Sementara itu para pengamat juga merasa bahwa pihak luar melakukan "quota" dari segi ilmu yang dibagi kepada Densus-88, salah satu cntoh adalah ditolaknya program pengembangan penembak runduk/jitu Brimob oleh markas FBI di Washington DC dengan alasan bahwa ilmu penembak jitu jarak jauh dapat di aplikasikan sebagai alat pelanggar hak asasi manusia (Opressive force)

Senjata khusus dari pasukan Gegana adala styer AUG buatan Austria

Quote:Original Posted By brainburner
Ni penjelasan tentang gegana gan.

Gegana adalah bagian dari Kepolisian Indonesia (Polri). Pasukan ini mulai ada sejak tahun 1976, meski ketika itu baru berupa detasemen. Baru pada tahun 1995, dengan adanya pengembangan validasi Brimob bahwa kesatuan ini harus memiliki resimen, Detasemen Gegana lalu ditingkatkan menjadi satu resimen tersendiri, yakni Resimen II Brimob yang sekarang berubah nama Sat I Gegana(2003). Tugas utama Gegana ada lima: Reintelmob, penjinakan bom, perlawanan teror, SAR, dan penjinakan bahan berbahaya kimia, biologi dan radioaktif (CBRN)

Satu operasi biasanya dilakukan oleh satu unit. Karena itu, dari sepuluh personel dalam satu unit tersebut, harus ada enam orang yang memiliki kemampuan khusus. Masing-masing: dua orang memiliki kemampuan khusus yang lebih tinggi di bidang jihandak, dua orang di bidang SAR dan dua lagi ahli teror. Kedua orang itu disebut operator satu dan operator dua. Yang lainnya mendukung.

Misalnya untuk teror: operatornya harus memiliki keahlian menembak jitu, harus memiliki kemampuan negosiasi, ahli dalam penggebrekan dan penangkapan. Namun semuanya tidak untuk mematikan. Sebab setiap operasi Gegana pertama-tama adalah berusaha untuk menangkap tersangka dan menyeretnya ke pengadilan. Kecuali dalam keadaan terpaksa, yang mengancam jiwa orang yang diteror, barulah terpaksa ada penembakan. Sementara untuk SAR, dituntut memiliki kemampuan dasar seperti menyelam, repling, jumping, menembak, juga P3K.

Demikian pula, operator jibom harus memiliki keahlian khusus di bidangnya. Setiap anggota Gegana secara umum memang sudah diperkenalkan terhadap bom. Ada prosedur-prosedur tertentu yang berbeda untuk menangani setiap jenis bom, termasuk waktu yang dibutuhkan. Kepada anggota Gegana jenis-jenis bom tersebut dan cara-cara menjinakkannya, termasuk risiko-risikonya, sudah dijelaskan.

Gegana baru punya tiga kendaraan taktis EOD (explosive ordinance disposal) yang sudah lengkap dengan alat peralatan. Padahal seharusnya, setiap unit memiliki satu kendaraan taktis. Selain di Gegana, kendaraan EOD masing-masing satu unit ada di Polda Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jadi se-Indonesia baru ada enam unit.

Dengan merosotnya pamor Amerika Serikat di dunia, pemerintah Amerika berupaya untuk menggalang dukungan politis dari berbagai negara Asia. Salah satu cara Amerika Serikat mencari dukungan ke Indonesia adalah dengan kerjasama anti terror yang meningkat antara kedua belah pihak. Dapat dilihat di periode 2003-2008, teknik dan takti dari Densus-88 semakin mirip dengan teknik dan taktik FBI HRT (Hostage rescue team)Selain itu peralatan yg digunakan oleh Densus-88 juga sama dengan pasukan FBI. Contoh peralatan yang sama adalah senapan serbu AR-15 dengan M-68 sight optik dan kolapsible stock (tipe CQB) Ladder entry teknik, kevlar helmet dll. Sampai saat ini Densus-88 berkonsentrasi untuk pengejaran dan penangkapan terroris yang relatif berkemampuan tempur rendah, sementara pertempuran spesial seperti Pembajakan pesawat dan pembebasan presiden dari penyanderaan masih ditangani oleh unsur TNI. Adapun topik pemberantasan teroris di Indonesia telah menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di Trunojoyo III dan Cilangkap mengenai pembagian tugas di dalam pelaksanaan counter terror. POLRI memang telah mendapatkan mandat UU untuk memerangin teror di dalam negeri, tetapi para banyak kalangan merasa POLRI belum dapat beroperasi secara independent untuk memerangi teroris tanpa bantuan unsur luar (FBI dan Australian Federal Police) sehingga para pengamat merasa sangat lebih baik bila POLRI bergabung bersama TNI daripada menerima bantuan dari pihak luar. Sementara itu para pengamat juga merasa bahwa pihak luar melakukan "quota" dari segi ilmu yang dibagi kepada Densus-88, salah satu cntoh adalah ditolaknya program pengembangan penembak runduk/jitu Brimob oleh markas FBI di Washington DC dengan alasan bahwa ilmu penembak jitu jarak jauh dapat di aplikasikan sebagai alat pelanggar hak asasi manusia (Opressive force)

Senjata khusus dari pasukan Gegana adala styer AUG buatan Austria



Ijin nyimak gan,,
Mo tanya gan ane pernah liat tuh anggota Gegana pake M4. Itu senjatanya juga atau gimana?
wah ane pgen gabung, cm fisik ane ringkih pgen bs megang tuh senjata
mohon maaf buat momod dan abang2 forpol sekalian, bukan maksud saya mau ngejang, tapi saya udah muak banget sama trit bot, saya sengaja nyundul2 trit yang saya anggap perlu disundul, meskipun komennya tidak sejalan dengan isi trit

buat momod, silahkan dihapus postingan saya ini kalo memang kurang pantas, terima kasih.
Quote:Original Posted By dvsandhi
Ijin nyimak gan,,
Mo tanya gan ane pernah liat tuh anggota Gegana pake M4. Itu senjatanya juga atau gimana?



Penjelasan buat agan dvsandhi kenapa senapan serbu M4 Colt bisa dipakai Gegana, nubie ikut nimbrung sebenarnya senapan serbu resmi yang dimiliki oleh Satuan Gegana saat ini adalah Styer AUG yang dibeli dari Austria melalui APBN seperti yang terpampang di gambar sebelumnya, namun senapan M4 Colt itu yang merupakan pengadaan langsung dari DS-ATA / Diplomatic Security Service Anti terror Act kerjasama antara US Secretary of State dengan POLRI untuk membentuk Detasemen 88 , mengirim instruktur untuk melatih, dan memberi dukungan logistik perangkat senjata, maupun informasi data intelijen, dan mendanai kegiatan operasional Detasemen 88, kalo ngga salah yang dalam pasal perjanjiannya yang dibuat US State dengan Senat dan Congress US , disebut semua persenjataan statusnya milik pemerintah US jadi kalau masa perjanjian berakhir maka semua akan dikembalikan ke pemerintah US tidak dihibahkan ke POLRI, istilahnya pinjam pakai tentu saja dalam hal ini senjata M4 Colt milik operator Densus 88 bisa dipakai Gegana sebab dimana kebanyakan anggotanya direkrut dari Satuan 1 Gegana yang sudah memiliki kualifikasi dan detasemen intelijen mobile, penjinak bom, dan lawan teror sebelumnya karena pada awal pembentukan Detasemen Gegana langsung berguru ke GSG-9 Jerman seperti Den-81 Gultor Kopassus , namun struktur komando dan kendali operasional Detasemen 88 bernaung berada di bawah Bareskrim Mabes Polri bukan bernaung di Korps Brimob Polri . Demikian sekilas info dari ane semoga bermanfaat

NB: maaf tidak ada bukti link krn langsung penuturan dari si operator , mungkin ada agan2 formil/pol yg bisa membantu ??

pelopor lead the way, all the way

TUGAS BRIMOB: menghadapi kriminalitas berkadar tinggi terutama yang menggunakan bahan peledak, terorganisir , lintas wilayah. salah satunya adalah operasi pemberantasan Narkotika di suatu wilayah yang dikenal dengan nama Ujung genteng, sebagai suatu wawasan kepada kita bahwa dengan menyamar sebagai pengungsi dan pelarian serta pencari suaka politik , banyak" manusia perahu" datang ke Indonesia untuk transit sementara sebelum menuju negara tujuan dengan berbekal Narkotika seperti sabu dan ekstasi, menggunakan jalur laut dan pantai yang sepi dan minim pengawasan.

Sindikat Narkoba di Ujung Genteng Terkait Jaringan di Mangga Dua
Brimob on the move : SEKALI MELANGKAH PANTANG MENYERAH, SEKALI TAMPIL HARUS BERHASIL

Cek lengkapnya :

http://nasional.kompas.com/read/2012....di.Mangga.Dua
http://id.berita.yahoo.com/selain-na...110721595.html
http://www.youtube.com/watch?v=KqIP1...eature=related
http://www.republika.co.id/berita/na...at-belandairan

videonya :
http://www.youtube.com/watch?feature...&v=KqIP1Yuc3o4
http://www.youtube.com/watch?feature...JifVD7myc#t=0s



sekilas memang mirip mainan banana boat , tapi produk industri lokal ternyata sangat efektif dalam operasi penangkapan berisiko tinggi, " Thunder Cat" masih merupakan inventaris pengembangan dan penelitian oleh produsen lokal Indonesia. berhasil dan berdaya guna dalam operasi pemberantasan narkotika.jumlah awak 3 orang dengan senjata AK47 dan RPG, efektif buat main main di air berkejaran dengan sindikat narkoba.
nyumbang tulisan, semoga nggak repost....

POLISI ISTIMEWA PADA PALAGAN 10 NOVEMBER

Jasmerah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah), kata mendiang Bung Karno. Maka, tulisan ini pun saya buat demi mengingat sejarah.

“Pasukan Polisi Istimewa lahir lebih dulu dari yang lain,” kata Ruslan Abdulgani, tokoh pejuang yang turut berperan aktif dalam Palagan 10 November 1945. Sementara Mayjen (Pur) TNI AD Sudarto, mantan ajudan Presiden Soekarno, menjelaskan secara gamblang, “Omong kosong, jika ada yang mengaku dalam bulan Agustus 1945 memiliki pasukan bersenjata, yang ada hanya Pasukan Polisi Istimewa. Tanpa pasukan ini tidak akan ada Hari Pahlawan 10 November 1945”.

Mayor TNI AD (Pur) R. Kadim Prawirodirdjo meneguhkan ucapan Mayjen (Pur) Sudarto, dengan tegas mengatakan, pada saat pelucutan senjata Jepang, TKR belum terbentuk. Pada waktu itu hanya ada Polisi (baik Umum, Central Special Police, dan Polisi Istimewa) yang memiliki senjata. Merekalah yang memelopori pelucutan senjata Jepang. Polisi Istimewa maju ke depan melucuti senjata Jepang.

Sehingga tak heran bila Polisi Istimewa yang kemudian berganti nama Mobile Brigade sebagai sebuah kesatuan militer menerima anugerah tanda jada pahlawan atas jasa di dalam perjuangan gerilya membela kemerdekaan negara.

Kesiapan dan kematangan polisi terjun ke medan laga, dalam kancah perjuangan revolusi kemerdekaan tidak terjadi begitu saja. Kekuatan dibangun tidak cuma sehari. Tindakan progresif revolusioner – memaklumkan diri sebagi Polisi Republik Indonesia dengan tindakan melilitkan ban putih dengan tulisan merah ‘Polisi Istimewa’ pada lengan kiri atas dan lencana merah putih berbentuk lonjong di peci, mengganti lambang Sakura, merupakan tindakan yang memerlukan keberanian luar biasa.

Satya lencana sebagai cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), telah diterima oleh Mayor Jenderal Polisi Sutjipto Danukoesoemo, mewakili Kepolisian Negera Republik Indonesia, bersama kurang lebih 90 orang mantan perwira tinggi ABRI.

Penghargaan ini diberikan atas dasar peran Kepolisian Kota dan Daerah Keresidenan Surabaya,yang begitu besar jasanya dalam membina dan membangkitkan semangat perjuangan pemuda dan rakyat Surabaya untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialis. Polisi Surabaya giat melatih perang para pemuda, dan rakyat dalam menghadapi serangan udara.

Pembinaan yang dilakukan Polisi Surabaya tersebut secara langsung sangat berpengaruh hingga tersusunnya kesatuan-kesatuan Badan Keamanan Rakyat BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Gerakan pembinaan kemiliteran dan pelatihan tempur telah dipelopori oleh Kesatuan Polisi Istimewa Surabaya, yang sejak beberapa tahun sebelum proklamasi Kemerdekaan dipimpin oleh perwira-perwira muda lulusan Kotoka dan Futsuka, Sekolah Kepolisian Sukabumi. Peranan ini semakin kuat, setelah pimpinan polisi Surabaya mengeluarkan dekrit mempercayakan kepemimpinan pemuda polisi kepada perwira-perwira muda.

Kepeloporan Angkatan Muda Angkatan Kepolisian dengan kekuatan riil Kesatuan Polisi Istimewa Surabaya, ditambah dengan semua anggota polisi yang berani ikut berjuang secara penuh, menjadi contoh yang luar biasa sehingga semua lapisan pemuda dan rakyat, dengan penuh keberanian menghadapi musuh, dan terjadilah peristiwa Hotel Yamato. Peritiwa dahsyat 10 November 1945 dan berlanjut sampai Perang Kemerdekaan selesai pada akhir tahun 1949.

Penghargaan satya lencana sebagai cikal bakal Tentara Nasional Indonesia merupakan penghargaan terhadap jasa-jasa Polisi Indonesia, sebagai pejuang kemerdekaan yang gigih berjuang merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daya keyakinan, semangat perjuangan kerelaan berkorban, dan dedikasi polisi memberikan hasil gemilang. Semua ini tidak hanya cerita heroic sejarah perjuangan bangsa, tapi juga menjadi pelajaran yang membangkitkan gairah perjuangan dan teladan bagi generasi muda Indonesia.

Selanjutnya, perlu dijelaskan di sini bahwa peranan seluruh jajaran polisi di Surabaya sangat besar, baik Polisi Istimewa, Polisi Umum, maupun Pasukan Polisi Perjuangan Republik Indonesia.

Sejak revolusi fisik, Polisi Republik Indonesia sudah bahu-membahu mempertahankan kedaulatan Negera Proklamasi 17 Agustus 1945, mengusir penjajah, membasmi gerombolan pengacau liar dan pemberontak yang merongrong kewibawaan pemerintah Republik Indonesia.

Seusai Perang Asia Timur Raya 15 Agustus 1945, setelah Jepang bertekuk lutut, dan diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho – pasukan yang terdiri dari pemuda-pemuda Indonesia, diperbantukan pada pasukan-pasukan Jepang di medan perang – dibubarkan. Mereka dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing tanpa senjata sama sekali.

Kepolisian yang pada tanggal 18 Agustus 1945 mengatakan dirinya sebagai Kepolisian Republik Indonesia. Polisi umum dilucuti oleh Tentara Jepang, karena Jepang memang ditugaskan oleh Sekutu untuk menjaga dan memelihara keamanan di Indonesia agar Sekutu dengan aman dapat menginjakkan kakinya di Bumi Indonesia.

Hanya ada satu kesatuan polisi yang tidak diambil senjatanya, yaitu Polisi Istimewa. Polisi Istimewa ini terdapat di seluruh Indonesia dan pada setiap Keresidenan ada satu peleton atau satu kompi bersenjata lengkap.

Sedang di Kota Surabaya dua kompi kesatuan Polisi Istimewa. Satu kesatuan yang dipimpin oleh Moehammad Jasin. Sedangkan yang lainnya untuk Surabaya kota, kesatuan organik yang dipimpin oleh Soetjipto Danoekoesoemo.

Perwira-perwira polisi Jepang mencoba melucuti senjata Polisi Istimewa Surabaya. Namun para anggotanya dengan tegas menolak.

Hari-hari selanjutnya yang terjadi adalah sebaliknya, Surabaya diisi insiden pelucutan senjata Jepang oleh Polisi Istimewa. Ada yang menyerahkan senjata tanpa perlawanan, tidak sedikit pasukan tentara Jepang baru menyerahkan senjata setelah tembak-menembak dengan Pasukan Polisi Istimewa.

Seperti yang tercatat dalam buku Soetjipto Danoekoesoemo “Hari-Hari Bahagia Bersama Rakyat”, tiga peleton tentara Jepang menyerahkan senjata kepada Polisi Istimewa Seksi I, dengan syarat keselamatan mereka dijamin, pada 1 Oktober 1945.

Pada 2 Oktober 1945, Polisi Istimewa melucuti senjata tentara Jepang secara paksa, di Butai Don Bosco, Jln. Tidar. Pelucutan ini diawali dengan perlawanan sengit tentara Jepang. Setelah terjadi tembak-menembak sengit dan menelan korban jiwa barulah Jepang menyerahkan senjata.

Pada hari yang sama, di Gedung General Electronics di Kaliasin Jepang menyerahkan senjata setelah terjadi pertempuran sengit dengan Tim Polisi Istimewa dibawah pimpinan Soetjipto Danoekoesoemo. Dalam pertempuran ini tentara Jepang mengeluarkan senjata-senjata mitraliur.

Pada akhirnya tentara Jepang menyerahkan seluruh persenjataan, termasuk tank dan panser kepada Polisi Istimewa. Polisi Istimewa kemudian membagi-bagikan senjata tersebut kepada rakyat dan pemuda dalam organisasi perjuangan.

Senjata rampasan tersebut menjadi modal awal terbentuknya Badan Keamanan Rakyat BKR), yang kemudian berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Pada sekitar 25 Oktober 1945 Inggris mendaratkan Brigade 49 dari Divisi 23 dipimpin Brigjen Mallaby. Mereka datang untuk mengurus tawanan perang dan kaum bekas internirning. Untuk itu mereka disetujui mengambil posisi dan menduduki tempat tentara di kota Surabaya. Namun ternyata mereka bertindak seakan-akan menjadi penjaga keamanan dan polisi sehingga menimbulkan insiden-insiden.

Terjadilah pertempuran-pertempuran dahsyat. Pasukan Polisi Istimewa, mantan Peta dan Heiho maupun para tokoh perjuangan, dan pemuda-pemuda Surabaya melawan tentara Inggris.

Surabaya, 10 November 1945

Pagi hari, Inspektur Polisi Soetjipto Danoekoesoemo, komandan Polisi Istimewa, mengendarai panser yang dikemudikan Agen Polisi II Eman, mengadakan pemeriksaan pertahanan rakyat. Ia berkeliling, menempatkan regu dan peleton pembantu Polisi Istimewa di pos-pos pertahanan, dan mengadakan brifing singkat kepada pos-pos pertahanan kota. Waktu itu diperkirakan tentara Inggris akan menyerbu dengan pasukan infanteri.

“Jangan biarkan Inggris lewat tanpa perlawanan. Pancing mereka terjebak ke dalam kota,” kata Inspektur Soetjipto Danoekoesoemo kepada anakbuahnya.

Pukul 10.00 pagi, pesawat tempur Inggris mulai menjatuhkan bom di Surabaya. Dari laut meriam berdentuman. Kantor Besar Polisi mendapat serangan gencar dari darat, laut dan udara. Anggota Polisi Istimewa berguguran. Namun, pasukan infanteri Inggris tidak bisa maju karena ketatnya pertahanan.

Kantor Besar Polisi menjadi sasaran karena Inggris tahu bahwa Pasukan Polisi Istimewa adalah sebuah kesatuan militer polisi yang tangguh.

Pertempuran seru berlangsung hingga 28 November 1945. Surabaya menjadi neraka bagi Inggris. Namun menjadi kawah candradimuka bagi Polisi Istimewa dan pejuang kemerdekaan lainnya.

14 November 1946, Polisi Istimewa berganti nama menjadi Mobile Brigade, dan beberapa tahun kemudian menjadi Brigade Mobile (Brimob). (sumber tulisan: buku “Hari-Hari Bahagia Bersama Rakyat”, catatan perjuangan Sutjipto Danoekoesoemo).

Tulisan ini dibuat dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011dan Ulang Tahun Korps Brimob Polri 14 November 2011.Semoga generasi muda Polri menyadari bahwa pendahulu mereka adalah pejuang. Polisi sekarang adalah pejuang penegakan hokum dan pejuang Kamtibmas.

http://sejarah.kompasiana.com/2011/1...n-10-november/

menerangkan kenapa di surabaya ada JL POLISI ISTIMEWA dan MONUMEN POLISI ISTIMEWA

untuk Resimen Pelopor kalimat ini yang paling berkesan:

"Ada dua perkelahian paling dahsyat yang dialami RPKAD yaitu dengan KKO AL pada tahun 1964 dan Brimob Pelopor pada tahun 1968"-JENDRAL TNI(purn) LB Moerdani-
trit ini sayang kalo tenggelam :

POLISI ISTIMEWA VERSUS GURKHA

http://forum.detik..com/gedung-rri-s...a-t235002.html

sejarah lain tentang Polisi istimewa beserta foto kantor Besar Polisi (sekarang gedung Wismilak)

http://www.roodebrugsoerabaia.com/se...ran%20Surabaya
Quote:Original Posted By ryo102


Marinir dan Brimob memang cukup dekat setahu saya secara historis, karena dulu pernah kedua satuan ini terjun pada Operasi Dwikora yang setengah hati. Kebanyakan korban yang jatuh pada operasi ini adalah Marinir dan Brimob (Menpor). Itu menjelaskan pada beberapa foto klasik penguburan 2 Marinir yang dihukum gantung di Singapura, hanya Brimob Ranger dan Marinir saja yang terlihat memondong peti jenazah pahlawan negeri tersebut.
Sayang saya sudah tidak ada fotonya.


wah, cerita temen kuliah ane yg dari ambon laen lg.... waktu terjadi konflik tahun 2000an di ambon katanya korps ini yg nyerang markas brimob jam4 subuh.... kata temen ane si, dia orang ambon asli....
CMIIW

nambahin lg gan...
waktu ada isu kerusuhan di tempat ane di Bali,(bapak ane bekas brimob '75 sekarang polisi umum) dapat nanya sama salah satu anggota brimob yg tugas pengamanan disana. "Dik, kok brimob sering ganti2 lambang (emblim) dari teratai, burung alap2, trus sekarang pake teratai lg??" trus dijawab. "Begini ndan, waktu masih pake lambang burung alap2 banyak rekan2 kita yg hilang/meninggal dari daerah operasi di Poso, Ambon, Sampit, sampai yg terkena tsunami di Aceh, trus akhirnya diputuskan lg menggunakan lambang teratai".
bener gak seperti itu gan???? mohon pencerahannya....
izin tanya para senior, ada kualifikasi WIJASA, RECON dan PELOPOR dalam satuan BRIMOB adayg bs bantu jelaskan??
Quote:Original Posted By ojiex
Penjelasan buat agan dvsandhi kenapa senapan serbu M4 Colt bisa dipakai Gegana, nubie ikut nimbrung sebenarnya senapan serbu resmi yang dimiliki oleh Satuan Gegana saat ini adalah Styer AUG yang dibeli dari Austria melalui APBN seperti yang terpampang di gambar sebelumnya, namun senapan M4 Colt itu yang merupakan pengadaan langsung dari DS-ATA / Diplomatic Security Service Anti terror Act kerjasama antara US Secretary of State dengan POLRI untuk membentuk Detasemen 88 , mengirim instruktur untuk melatih, dan memberi dukungan logistik perangkat senjata, maupun informasi data intelijen, dan mendanai kegiatan operasional Detasemen 88, kalo ngga salah yang dalam pasal perjanjiannya yang dibuat US State dengan Senat dan Congress US , disebut semua persenjataan statusnya milik pemerintah US jadi kalau masa perjanjian berakhir maka semua akan dikembalikan ke pemerintah US tidak dihibahkan ke POLRI, istilahnya pinjam pakai tentu saja dalam hal ini senjata M4 Colt milik operator Densus 88 bisa dipakai Gegana sebab dimana kebanyakan anggotanya direkrut dari Satuan 1 Gegana yang sudah memiliki kualifikasi dan detasemen intelijen mobile, penjinak bom, dan lawan teror sebelumnya karena pada awal pembentukan Detasemen Gegana langsung berguru ke GSG-9 Jerman seperti Den-81 Gultor Kopassus , namun struktur komando dan kendali operasional Detasemen 88 bernaung berada di bawah Bareskrim Mabes Polri bukan bernaung di Korps Brimob Polri . Demikian sekilas info dari ane semoga bermanfaat

NB: maaf tidak ada bukti link krn langsung penuturan dari si operator , mungkin ada agan2 formil/pol yg bisa membantu ??



Makasih gan infonya, btw yang styer itu kayaknya versi lama deh itu Styer tahun berapa ya? Kok masih pake yg versi lama.
Terus perjanjian ama USA soal senjata itu sampe kapan?
Swekarang BRIMOB senjata laras panjang pke AK101 dan AK103,ada yg Rusia ada yg China.Hampir semua jenis senjata ada,cma gak terexpose.....
CMIIW
Quote:Original Posted By bl4ck.h4wk
Swekarang BRIMOB senjata laras panjang pke AK101 dan AK103,ada yg Rusia ada yg China.Hampir semua jenis senjata ada,cma gak terexpose.....
CMIIW


ak 101 dan 102 , karena kalau type 103 dan 104 nggak masuk ke Indonesia , beda kaliber juga