itu pernyataan sebagai Sri Sultan atau sebagai Gubernur DIY ya..? hmm..



..sekedar komen newbie.., nuwun..
mohon maaf katanya ada isu sebenernya sultan yogya cuma bakal sampei sembilan ya, sama kaya walisongo?pas waktu sinuhun ke sepuluh naik tahta masyarakat ingat ada satu wali tak tersebut yaitu syekh siti jenar. nah setelah ini katanya kanjeng sinuhun tidak memiliki anak putra ya gan?
kadangkala seorang pemimpin akan mengatakan sesuatu untuk menenangkan sekitarnya ataupun rakyaknya....walaupun didalam hatinya tidak demikian adanya....

ada hal2 didalam dalem keraton yang tidak bisa disampaikan dimasyarakat umum....

mungkin para sesepuh yang titen dan niteni sudah memahami hal2 ini


mohon mangap sekedar ngejunk dan repost ........
nice trit gan...
Quote:Original Posted By andrea7
itu pernyataan sebagai Sri Sultan atau sebagai Gubernur DIY ya..? hmm..



..sekedar komen newbie.., nuwun..


moga2 kapasitas omongan beliau sbg gubernur yaa..
agak sedih juga kalo sebagai kanjeng sultan..
Ucapan Raja adalah 'Sabda Pandhita Ratu'...!

Dalam dunia orang Jawa kita mengenal adanya ungkapan etika yang berbunyi "Sabda pandhita ratu, tan kena wola - wali" dan "Berbudi Bawalaksana". Dalam pengartian bebas ungkapan Sabda pandhita ratu tan kena wola - wali dapat diartikan ucapan pendeta/raja, tidak boleh diulang dan berbudi bawalaksana dapat berarti mempunyai sifat teguh memegang janji, setia pada janji atau secara harafiah bawalaksana dapat juga diartikan satunya kata dan perbuatan.

Dua ungkapan luhur, yang mengingatkan kepada setiap orang akan pentingnya Kesetiaan. Setia dengan apa yang telah dipilih, setia dengan apa yang diucapkan, dan dijanjikan seberapapun berat resiko yang harus ditanggung oleh perkataan itu...
Quote:Original Posted By prabuanom
mohon maaf katanya ada isu sebenernya sultan yogya cuma bakal sampei sembilan ya, sama kaya walisongo?pas waktu sinuhun ke sepuluh naik tahta masyarakat ingat ada satu wali tak tersebut yaitu syekh siti jenar. nah setelah ini katanya kanjeng sinuhun tidak memiliki anak putra ya gan?


mas prabuanom, isu yg menarik.. ayo dong dishare lebih detail..

betul kanjeng sultan tidak mempunyai putra..
mnurut cerita abdi dalem yg pernah sy tanya2,
jikalau Sri Sultan mangkat, kmungkinan saudara dari beliau lah yg akan menggantikannya...

berikut silsilah beliau diambil dari wiki


* Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana IX dan istri keduanya, RA Siti Kustina/BRA Widyaningrum/KRA Widyaningrum/RAy Adipati Anum

* Menikah dengan Tatiek Drajad Suprihastuti/BRA Mangkubumi/GKR Hemas, putri dari Kolonel Radin Subanadigda Sastrapranata, pada tahun 1968.

* Memiliki saudara antara lain GBPH Joyokusumo, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudaningrat

* Memiliki lima orang putri:

1. GRA Nurmalita Sari/GKR Pembayun
2. GRA Nurmagupita/GKR Condrokirono
3. GRA Nurkamnari Dewi /GKR Maduretno
4. GRA Nurabra Juwita
5. GRA Nurastuti Vijareni

Hamengkubuwono X lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram. Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM.

Penobatan Hamengkubuwono X sebagai raja dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa.
Quote:Original Posted By hateisworthless
kadangkala seorang pemimpin akan mengatakan sesuatu untuk menenangkan sekitarnya ataupun rakyaknya....walaupun didalam hatinya tidak demikian adanya....

ada hal2 didalam dalem keraton yang tidak bisa disampaikan dimasyarakat umum....

mungkin para sesepuh yang titen dan niteni sudah memahami hal2 ini


mohon mangap sekedar ngejunk dan repost ........


inggih kangmas, seharusnya sabda dan titah raja lebih menenangkan semua..
monggo para sesepuh yg titen niteni, semoga ada hal yg bisa dibagi buat kami..
Quote:Original Posted By jamaedan
nice trit gan...


that's why we love
Gara2 ini kali..yang punya tanah jadi pada ngamuk




YOGYAKARTA : Sultan Tolak Konsep Serambi Madinah !!!
by Laurent » Sat Jan 30, 2010 5:15 pm

Sultan Kurang Berkenan Konsep Serambi Madinah Dikaitkan Islam
Saturday, 30 January 2010 08:42 Nasional
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengaku tidak akan mengeluarkan peraturan daerah (Perda) untuk menjuluki Yogyakarta Serambi Madinah

Hidayatullah.com-- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X tak akan mengeluarkan peraturan daerah (Perda) Serambi Madinah untuk menjuluki wilayahnya. Sebab menurutnya, julukan itu hanya inisiatif masyarakat, bukan pemerintah.

"Julukan itu inisiatif masyarakat. Silakan saja disebut begitu, itu bukan inisiatif pemerintah. Pemprov DIY tidak mengeluarkan perda tentang julukan tersebut," katanya dikutip Antara.

Namun demikian, Sultan berharap konsep Yogyakarta Serambi Madinah yang direkomendasikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY itu, tidak diartikan masyarakat hanya dalam konteks agama Islam.

"Konsep ini perlu dimaknai juga dari sisi budaya, masyarakat harus memahami bahwa Serambi Madinah itu adalah dari konteks budayanya, bukan agama," kata Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini.

Ia mengatakan konsep tersebut di dalamnya menghargai semua etnik dan perbedaan agama. Konsep itu bukan dalam pengertian Arab atau Islam saja, karena Yogyakarta merupakan kota yang menghargai pluralitas.

Oleh karena itu, konsep Yogyakarta Serambi Madinah jangan sampai disalahartikan dan bertentangan dengan dinamisasi masyarakat yang sangat beragam.

"Yogyakarta kota yang menghargai keberagaman. Jika konsepnya menjadi meng-Islam-kan, kami akan mundur, karena tidak sesuai dengan kondisi pluralitas kebangsaan yang sudah ada," katanya.


MUI

Sebagaimana diketahui, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siap memproklamirkan diri sebagai Ngayogyakarta Serambi Madinah yang digadang-gadang akan mendukung keistimewaan DIY. Konsep yang terinspirasi dari Piagam Madinah ini tengah digodok dan ditargetkan selesai Maret tahun ini. Namun menurut Keraton, konsep Serambi Madinah bukan hanya milik umat Islam, melainkan milik seluruh masyarakat Jogja.

“Saat ini kami bersama berbagai elemen sedang membahas secara periodik mengenai konsep Serambi Madinah,” jelas Penghageng Kewedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GBPH Joyokusumo.

“Pada prinsipnya, ‘Serambi Madinah’ akan menjadi produk budaya, bukan produk agama. Sehingga serambi merupakan milik mereka yang merasa warga Yogya,” tambahnya.

Konsep Nagyogyakarta Serambi Madinah pertamakali diusulkan MUI pada 19 Agustus 2006, dan saat itu proses pembahasan RUUK tengah panas. Konsep ini lantas dibahas oleh tiga pihak, yakni keraton, Kanwil Depag, dan MUI. Setiap tahun, konsep ini terus disosialisasikan sehingga dikenal masyarakat. Puncaknya, pada 28 September 2009, ketiga pihak menandatangani MoU di Masjid Rejodani [Keraton], isinya sama-sama bertekat menjadikan Jogja sebagai Serambi Madinah.

Konsep Ngayogyakarta sebagai Serambi Madinah bahkan telah dideklarasikan pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, beberapa hari sebelum memasuki Bulan Suci Ramadan tahun lalu.Provinsi tersebut dinilai layak menjadi Serambi Madinah, karena faktor sejarah

Menurut Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, Muhammad Jazir, konsep untuk menjadikan DIY sebagai Serambi Madinah, semata-mata ditujukan untuk mengembalikan jati diri Yogyakarta sesuai dengan konsep awal pembangunan wilayah tersebut.
"Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi I dengan konsep pesantren besardan bukan mengatasnamakan kekuasaan tetapi berbasis pada kekhalifahan," paparnya.

Menurut Jazir, perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah tak harus dimaknai dengan pelaksanaan syariat Islam yang saklek, tetapi lebih kepada pengertian aplikatif bukan dalam arti formalistik tetapi berbasis peradaban. Melalui perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah tersebut, papar dia, masyarakat Yogyakarta diharapkan dapat memiliki peluang lebih besar untuk mengaplikasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pihaknya optimistis, perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah tersebut tidak akan menimbulkan konflik baru di masyarakat, mengingat masyarakat Yogyakarta yang plural.

"Saya yakin, umat lain akan paham dan menerima, karena di dalam masyarakat dengan kaum Muslim sebagai mayoritas, maka umat minoritas akan terlindungi," tutur Jazir menegaskan.Salah satu cara untuk mewujudkan DIY sebagai Serambi Madinah adalah penguatan fungsi masjid di masyarakat, khususnya dalam penyampaian dakwah.

Menurut sosiolog UGM Ari Sujito, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah adalah sebuah terobosan baru untuk mendukung keistimewaan DIY. Apalagi spirit dari konsep tersebut adalah menghargai pluralisme.

“Keraton harus mengclearkan konsep ini ke publik serta pemerintah pusat dan lantas diperdebatkan. Dengan harapan bisa dimasukkan dalam draft RUUK,” tambah Ari. Sementara itu, Budayawan Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun Serambi Madinah Yogyakarta secara administratif, namun Yoyakarta secara kultural, yang sudah didirikan sejak jaman Kerajaan Mataram.

“Dua hari yang lalu saya diundang oleh pihak kraton, oleh Gusti Joyo (GBPH Joyokusumo) untuk membicarakan hal ini. Sebenarnya saya tidak punya hak untuk mengekspos. Intinya, dari dulu Ngayogyakarta ini sudah kaya’ Madinah, cuma perlu dikasih label saja, yaitu Serambi Madinah, untuk mengingatkan pluralisme model Madinah. Launchingnya kapan juga belum tahu, namun mungkin akan dilakukan di Serambi Masjid Gedhe” ujar Cak Nun di Yogyakarta, November lalu.

Menurut cak Nun, hal ini wajar, lantaran kondisi pluralisme model Kota Madinah di jaman lahirnya Islam, memiliki kesamaan dengan tingkat toleransi yang ada di Yogyakarta. Menurutnya, dari sinilah bentuk keistimewaan Yogyakarta terlihat nyata, dimana Yogyakarta didatangi oleh berbagai kelompok pendatang, dengan aneka ragam budaya dan kepercayaan.

Kedepan, menurutnya, hal yang diutamakan dalam pembangunan Yogyakarta seperti konsep ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni pengukuhan kedaulatan pangan dan multikulturalisme. “Yogyakarta secara kultural akan menjadi masyarakat Madaniah atau masyarakat madani, dimana yang utama adalah kedaulatan pangan, multikultural, baru unsur-unsur lainnya,” terangnya.

Untuk mewujudkannya, terang Cak Nun, perlu ada toleransi yang tinggi antar umat beragama. Dirinya juag mengimbau, para TNI agar tidak menilai orang berdasarkan agama dan menolong siapapun berdasarkan kemanusiaan tanpa melihat agama.
[berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
cuma seneng jadi serambi ya, kok gak pengen jadi ruang utama
Quote:Original Posted By Masagung
cuma seneng jadi serambi ya, kok gak pengen jadi ruang utama


Namanya juga wannabe

Quote:Original Posted By zeth
Namanya juga wannabe



wannabe vs wasabi yah, mas? wasabi pedes na mantebs euy. hehe cuman guyonan mas, jangan marah yo. pissss






Quote:Original Posted By Judess
wannabe vs wasabi yah, mas? wasabi pedes na mantebs euy. hehe cuman guyonan mas, jangan marah yo. pissss








Ada pilihan ke 3,gak?..macam Miyabi, gitu

ngiler.com
nama Mataram sudah kalah pamor sama Madinah.......
Quote:Original Posted By prabuanom
mohon maaf katanya ada isu sebenernya sultan yogya cuma bakal sampei sembilan ya, sama kaya walisongo?pas waktu sinuhun ke sepuluh naik tahta masyarakat ingat ada satu wali tak tersebut yaitu syekh siti jenar. nah setelah ini katanya kanjeng sinuhun tidak memiliki anak putra ya gan?


bakal cuma sampe 9
trus yan sepuluh ini gimana?
Quote:Original Posted By prabuanom
mohon maaf katanya ada isu sebenernya sultan yogya cuma bakal sampei sembilan ya, sama kaya walisongo?pas waktu sinuhun ke sepuluh naik tahta masyarakat ingat ada satu wali tak tersebut yaitu syekh siti jenar. nah setelah ini katanya kanjeng sinuhun tidak memiliki anak putra ya gan?


Quote:Original Posted By bardiman
bakal cuma sampe 9
trus yan sepuluh ini gimana?


bukan issue mas, udah jadi rahasia umum wong jogja. cerita na sultan I nanam 10 pohon (pohon apa? gue ga tau), yang ditafsirken garis keturunan nya hanya sampe 10. sempet diperbaharui sultan ke II ape ke berapa gitu (rada lupa). baidewei benar kan yang diramalkan sultan I, klo keturunan na hanya sampe ke 10? sultan yang sekarang kan nda punya keturunan cowo toh. ahihihihih (sotoy mode on)










_____________
Quote:Original Posted By bardiman


bakal cuma sampe 9
trus yan sepuluh ini gimana?


mungkin yang sekarang tidak dianggap raja,,,karena kan sudah jadi satu ma Indonesia,,,dianggap gubernur gtu,,,(ngapunten nggih Kanjeng Sultan)
Quote:Original Posted By zeth
Gara2 ini kali..yang punya tanah jadi pada ngamuk




YOGYAKARTA : Sultan Tolak Konsep Serambi Madinah !!!
by Laurent » Sat Jan 30, 2010 5:15 pm

Spoiler for Jadi ini alasan Gunung Merapi Meletus:


Waduh2x pemikiran yang aneh,,, masa gara2x Sri Sultan menolak Serambi madinah,,, jadi ada bencana

berarti bisa ditarik kesimpulan,, kalo gelar serambi madinah di terima maka penunggu gunung akan senang dan tidak ada bencana alam,,, sampe2x penunggu gunung aja mau Memiliki Gelar dari BUDAYA LUAR

Quote:Original Posted By Masagung
cuma seneng jadi serambi ya, kok gak pengen jadi ruang utama


Kalo di jadiin RUANG UTAMA nanti geger mbah, baru jadi serami aja udah geger,,, pada komplen BUDAYA LOKAL diganti SEMUA ama budaya ARAB,,, tapi untunglah bukan BUDAYA penggemar MIYABI

Quote:Original Posted By zeth
Namanya juga wannabe



daripada MIYABI mending wannabe
Quote:Original Posted By Judess
wannabe vs wasabi yah, mas? wasabi pedes na mantebs euy. hehe cuman guyonan mas, jangan marah yo. pissss



Quote:Original Posted By zeth
Ada pilihan ke 3,gak?..macam Miyabi, gitu

ngiler.com


Waduh Budaya dan tradisi LOKAL yang arif dan bijaksana sudah mulai terkikis,, menjadi BUDAYA PENGGEMAR MIYABI,,,

Gimana budaya LOKAL mau bertahan kalo generasinya aja PENGGEMAR MIYABI,,,,

Quote:Original Posted By mafiakurakura
nama Mataram sudah kalah pamor sama Madinah.......


Salah gan,,, seharusnya jangan mataram,, kalo mataram banyak bencana terus,, coba lihat postingan mbah Zeth harusnya diganti madinah,,,

ROSO.....
Quote:Original Posted By Buang13lilin

Kalo di jadiin RUANG UTAMA nanti geger mbah, baru jadi serami aja udah geger,,, pada komplen BUDAYA LOKAL diganti SEMUA ama budaya ARAB,,, tapi untunglah bukan BUDAYA penggemar MIYABI


lha kalau cuma segitu maunya ya gpp cuma menurut saya kok lebih bermartabat menjadi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat daripada Serambi Madinah..lha wong nama yogyakarta juga udah mendunia kenapa cuma 'trimo' jadi serambi aja
lagi pada seneng sama yang bau2 import soalnya
-tampilan ke-arab2-an
-ngomongnya ke-inggris2-an
-kelakuan ke-miyabi2-an