KASKUS

Quote:Original Posted By IMade in Jpn

bagi para Shakta, dewi Durga/kali adalah tujuan utama... Tantrayana


Kl gt
mari kita bahas Tantra versi Hindu

monggo dibabar seklias layang Tantra versi Hindu
nanti kita diskusikan
dan kita deskripsikan jg Tantra versi Buddha
jd titik" kerancuan bs terang dan jelas
Quote:Original Posted By kaqsetans
nawegan bli semua, mau tanya nih mumpung inget soalnya habis minum nih,

ada ga mantra atau ritual biar kuat minum secara "bali"?

biasane uek-uek gen uud minum kecuali yen minum 'loloh yeh keberang angin'

soalnya sering denger ada orang kuat minum pakai mantra ato ilmu, trus katanya ada yang lain ikut minum di badanya, gitu katanya


seken sing to bli?


salam bli, terima kasih untuk tanggapan,
mohon mahap bila ada salah kata,
Om Cantih3x Om


sing ada nak kuat minum

gae ane sai jemak nanging tileh je lengeh masih
ijin nyimak gan...nice inpoh
Quote:Original Posted By wiatnata


sing ada nak kuat minum

gae ane sai jemak nanging tileh je lengeh masih


Tiang dugas nenenan kuat sajan minum.... Tanpa mantra!! Abis 1/2 galon Aqua.. Sambil naenang sakit gigi.... Sial...

Topeng Sidakarya



Dalam ajaran Hindu tidak diperbolehkan menghina orang. Apalagi kalau sampai menghina orang suci. Orang suci itu tentu tidak melawan dengan kekuatan fisiknya. Mereka akan melakukan perlawanan dengan mantra tergantung tingkatnya, dari sekzdar mengingatkan sampai bersifat kutukan. Dalam kitab-kitab Purana dan Itihasa kita sering menjumpai adanya orang suci yang melakukan kutukan lewat kekuatan mantranya itu.

Sebuah tradisi yadnya di Bali ada yang disebut kutukan Dalem Sidakarya. Inti kutukan ini adalah seberapa besar pun yadnya yang dibuat, seberapa banyak pun banten yang diaturkan, tidak akan ada artinya jika belum mendapat ''restu'' dari Dalem Sidakarya. Banten bisa menjadi sampah yang berbau busuk, dan yadnya bisa tidak sampai pada tujuannya. Karena itu diperlukan pamuput karya di luar sulinggih.

Siapa dia? Bukan orang tetapi sebuah simbol dari kemunculan Dalem Sidakarya, yakni pementasan Topeng Sidakarya. Kita bisa melihat dalam kesehariannya, ada upacara potong gigi lalu ada pertunjukan Topeng Sidakarya. Ada upacara piodalan ada Topeng Sidakarya. Upacara ngaben pun ada pertunjukan Topeng Sidakarya. Pokoknya segala jenis yadnya, Topeng Sidakarya muncul, termasuk pada saat Tawur Agung Kesanga yang baru lalu.

Namun, seperti halnya sebuah kepercayaan yang berdasarkan legenda dan bukan berdasarkan kitab suci, tidak semua umat Hindu percaya akan ''kutukan'' ini. Karena itu banyak yadnya yang tidak disertai pementasan Topeng Sidakarya. Bermacam alasannya. Ada yang menyebutkan tradisi keluarganya tidak pernah menyelenggarakan pementasan itu, ada yang tidak ingin menambah biaya untuk memanggil sekaa topeng, ada pula yang terus-terang menyebutkan tidak tahu legenda di balik pementasan Topeng Sidakarya.

Bagi yang tidak tahu, ini sedikit ringkasannya. Kisahnya konon terjadi pada pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel, tatkala beliau mengadakan upacara besar di Pura Besakih. Banyak pandita yang diundang untuk muput upacara ini.

Tersebutlah pandita (brahmana) sakti dari Keling, yang tidak diundang dalam upacara itu, tetapi ingin terlibat muput karya. Niatnya ini karena didasarkan pada hubungan kekerabatan antara Keling di Jawa dan Gelgel di Bali. Sayangnya, karena perjalanan yang jauh dan berhari-hari, Pandita Keling sampai di Gelgel dalam keadaan kumal, bajunya compang-camping, mirip seorang pengemis. Dalam pakaian seperti itu, tak ada seorang pun staf kerajaan yang percaya kalau tamu tanpa diundang ini seorang pandita. Maka, Pandita Keling diusir dengan paksa, setelah sebelumnya sempat dihina.

Pandita Keling pergi dengan dendam. Di sebuah tempat yang sepi, dia melakukan perlawanan dengan mengucapkan mantra yang isinya yadnya yang diselenggarakan oleh Dalem Waturenggong tidak akan membawa berkah, malahan menimbulkan bencana. Semua banten menjadi busuk dan tikus-tikus pun mengerubungi banten busuk itu. Tikus semakin banyak sampai merusak tanaman petani. Rakyat menjadi resah.

Raja Waturenggong dalam samadinya tahu siapa yang mengutuk upacara besarnya itu. Dia lantas mengutus Arya Tangkas untuk menjemput pandita yang masih tinggal di tempat sepi (suung) itu. Raja meminta maaf dan mempersilakan Pandita Keling untuk ikut muput upacara bahkan menjadi pamuput paling akhir sehingga karya itu menjadi sida (diberkahi). Prosesi ini bagi masyarakat kebanyakan lantas disebut pamuput Sidakarya. Karya besar dalam wujud yadnya pun sukses.



Dari legenda itu masyarakat Hindu di Bali lantas membuat Topeng Sidakarya. Wujudnya berwajah jelek dengan gigi merangas sebagai simbol dari pandita yang wajahnya mirip gelandangan. Karena itu, penari Topeng Sidakarya biasanya lebih banyak menutup wajah -- terutama mulut -- dengan kain putih yang dibawanya. Namun, mantra yang diucapkan sangat bertuah karena dilakukan dengan ngider buwana (ke segala arah). Itu sebabnya, tidak semua penari topeng mampu menarikan Dalem Sidakarya.

Kebanyakan masyarakat Bali yang tidak mementaskan Topeng Sidakarya untuk muput yadnya beralasan lain lagi, yakni tak ingin memanggil sekaa topeng. Pengeluaran bertambah dengan mementaskan topeng. Namun, Topeng Sidakarya sendiri sesungguhnya bisa dipentaskan tanpa ''pementasan topeng''. Artinya, yang didatangkan hanya seorang penari topeng yang sudah berhak (secara ritual) membawakan topeng Dalem Sidakarya itu.

Gamelan pengiring tidak menjadi masalah, bisa gong gede, angklung, maupun gender biasa, disesuaikan dengan gamelan yang ada pada penyelenggaraan yadnya. Dalam hal ini penari Topeng Sidakarya disebut ''Topeng Pajegan'', karena dia harus menarikan berbagai peran. Dalem Sidakarya hanya muncul pada saat akhir yakni ketika membuat tirtha. Karena itu sebelumnya ''penari pajegan'' ini melakukan improvisasi dan monolog untuk mengantar pada kemunculan Dalem Sidakarya. Penari bisa membanyol, bisa pula memberikan semacam dharma wacana, tergantung siapa penarinya.

Sebagai seni ritual (seni wali) Topeng Sidakarya perlu dikembangkan dan dipopulerkan. Tentu fungsi utamanya ditambah, bukan hanya untuk mentradisikan legenda pamuput akhir dari yadnya, tetapi untuk media dharma wacana. Sekarang ini bukan hanya hama tikus yang meresahkan tetapi juga terjadinya kemerosotan moral pada generasi muda. Nah, siapa tahu Topeng Sidakarya bisa menjadi media perlawanan dalam mengatasi masalah moral ini.


*disadur oleh Putu Setia
copypaste dari Permenkaret molor
keren bli made
jadi tambah pengetahuan tentang kesenian topeng sidakarya. luar biasa sekali :
Bulan Agustus kmaren tiang tidak mampu mengundang topeng sidakarya. Karena kondisi rumah yg pas2an, alias sempit. Kangguang tiang nunas tirta ring Pura Dalem Sidakarya yang terletak di Desa Sidakarya....
wess.. mare nawang ade thread ne puk. ijin menyimak gen bli
Quote:Original Posted By saphiae
Tiang dugas nenenan kuat sajan minum.... Tanpa mantra!! Abis 1/2 galon Aqua.. Sambil naenang sakit gigi.... Sial...


wakakakakkk.....
bukan untuk kuat2an minum tapi pang idongan bli, alne lamun be kadung negak jeg meakah..

wakakakakkk...
Quote:Original Posted By kaqsetans
wakakakakkk.....
bukan untuk kuat2an minum tapi pang idongan bli, alne lamun be kadung negak jeg meakah..

wakakakakkk...


Iya... tapi tiang minumnya Aqua, jadi bolak balik WC terus....
ga jadi
Quote:Original Posted By satriawibawa
ga jadi

Tumben...

Ngomong2 soal tarian.... Ini ada satu tarian dari daerah Tabanan:
Quote:
TARI KETUNGAN


Sejarah Terbentuknya Tari Ketungan



Adalah ide dari seorang warga bernama Ketut Winaya yang menginginkan desa adat Tegal Mengkeb Kaja membentuk sebuah tarian yang menonjolkan ketungan, mengingat ketungan adalah sebuah alat untuk menumbuk padi yang dipergunakan masyarakat pedesaan dengan pertanian sawah sebagai latar belakang tempat mencari penghidupan masyarakatnya. Ide ini muncul terkait adanya pesta kesenian rakyat se desa Tegal Mengkeb pada tanggal 14 s/d 18 Mei 2003.

Ide ini bak gayung bersambut, akhirnya dibentuklah kelompok dan dimulailah pencarian dan pendataan informasi hingga ke Dusun Curah –Desa Gubug, pada seorang dalang yang cukup terkenal, dan dimualailah kepengurusan, penataan tabuh dan tariannya sehingga sampai terbentuk tarian Ketungan tesebut. Penampilan perdana tarian ini adalah pada waktu Pesta Kesenian Rakyat yang disaksikan oleh aparat desa, kecamatan, serta tokoh-tokoh seniman Bali, bahkan banyak juga wisatawan luar negeri yang menyaksikan tarian ini. Salah seorang wisatawan luar negeri yang berasal dari Jepang, Mr. Mochizuki, sangat antusias menyaksikan pagelaran tarian ini sempat memberikan sambutan dan berjanji akan mempromosikan tarian ini ke negaranya. Satu bulan setelah pentas perdana ini, tarian ini kemudian mendapatkan tawaran pentas di sebuah hotel wilayah Jimbaran, selanjutnya tawaran pentas mulai berdatangan pada hotel dan villa lainnya.


Narasi tarian:
1. Tari Tani; adalah tarian yang dibawakan oleh penai laki dan perempuan, yang sederhana dan mengungkapkan kehidupan petani, mulai dari mengolah tanah, menanam padi, menghalau burung, panen dan mengolah hasil sawah dengan ketungan.

2. Bhatara Indra di Sorga; mengisahkan Bhatara Indra di sorga mendengar suara ketungan yang bertalu-talu pertanda di bumi sedang dilaksanakan upacara ngaben. Beliau menunggu kedatangan burung kurkwak yang akan meminta bulunya si Manuk Dewata sebagai sarana upacara Pengabenan.

3. Tari baris Kurkwak; tari baris kurkwak adalah perlambang burung kurkwak, dalam cerita yang berkembang di masyarakat, burung ini ditugaskan oleh pemeliharanya (seorang raja) yang sedang melaksanakan upacara ngaben, untuk pergi ke sorga menghadap Bhatara Indra memohon agar diberikan bulunya Manuk Dewata, karena bulu tersebut dalam upacara ngaben berfungsi sebagai penolak segala macam rintangan dalam perjalanan atma menuju sorga.

4. Tari Dedari; atas perintah bhetara Indra, dedari (bidadari) ditugaskan untuk mengantarkan atma ke tempat yang sudah ditentukan sesuai dengan amal dan baktinya selama di bumi.

5. Atma; dikisahkan perjalanan atma sesampainya di depan pintu sorga disambut oleh bidadari, selanjutnya di antar ke tempat yang telah ditentukan sesuai dengan karmanya masing-masing sewaktu hidup di dunia.

Tarian ini sendiri didukung oleh sekitar 30 personil dengan komposisi 10 orang sebagai penabuh gambelan kreasi, 10 orang sebagai penabuh ketungan, serta 10 orang lagi adalah sebagai penari

Makna suara ketungan secara sekala (nyata) adalah memberitahukan kepada masyarakat sekitar, bahwa di daerah tersebut terdapat upacara ngaben, sedangkan makna secara niskala (taknyata) adlah berfungsi untuk memanggil para bhuta kala untuk disuguhi caru dan segehan, selanjutnya meminta kepada mereka agar ikut menjaga upacara, pemberitahuan kepada para bhetara di sorga agar menyediakan tempat bagi atma, sesuai dengan kharmanya masing-masing, dan sebagai pelengkap yadnya dalam panca yadnya, sesuai dengan pemaparan kitab suci yaitu kitab sundari gama

*artikel ini dibuat berdasarkan narasi yang diterbitkan oleh sekaa tari ketungan, dan telah diedit tanpa mengurangi isi dari sumbernya.

__________________________________________

Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut,

pembaca dapat menghubungi sekretariat kelompok ini di:

BANJAR SEMER, GANG INTAN II NO. 20

KEROBOKAN KUTA, BADUNG

TELP: +62 361 737 616 | HP +62 081 747 22 884 | BAPAK KETUT WINAYA.

Last Updated (Friday, 09 October 2009 04:42)


Sumber: http://tabanankab.go.id/artikel/buda...-tari-ketungan
Quote:Original Posted By IMade in Jpn


Dalam ajaran Hindu tidak diperbolehkan menghina orang. Apalagi kalau sampai menghina orang suci. Orang suci itu tentu tidak melawan dengan kekuatan fisiknya. Mereka akan melakukan perlawanan dengan mantra tergantung tingkatnya, dari sekzdar mengingatkan sampai bersifat kutukan. Dalam kitab-kitab Purana dan Itihasa kita sering menjumpai adanya orang suci yang melakukan kutukan lewat kekuatan mantranya itu.

Sebuah tradisi yadnya di Bali ada yang disebut kutukan Dalem Sidakarya. Inti kutukan ini adalah seberapa besar pun yadnya yang dibuat, seberapa banyak pun banten yang diaturkan, tidak akan ada artinya jika belum mendapat ''restu'' dari Dalem Sidakarya. Banten bisa menjadi sampah yang berbau busuk, dan yadnya bisa tidak sampai pada tujuannya. Karena itu diperlukan pamuput karya di luar sulinggih.

Siapa dia? Bukan orang tetapi sebuah simbol dari kemunculan Dalem Sidakarya, yakni pementasan Topeng Sidakarya. Kita bisa melihat dalam kesehariannya, ada upacara potong gigi lalu ada pertunjukan Topeng Sidakarya. Ada upacara piodalan ada Topeng Sidakarya. Upacara ngaben pun ada pertunjukan Topeng Sidakarya. Pokoknya segala jenis yadnya, Topeng Sidakarya muncul, termasuk pada saat Tawur Agung Kesanga yang baru lalu.

Namun, seperti halnya sebuah kepercayaan yang berdasarkan legenda dan bukan berdasarkan kitab suci, tidak semua umat Hindu percaya akan ''kutukan'' ini. Karena itu banyak yadnya yang tidak disertai pementasan Topeng Sidakarya. Bermacam alasannya. Ada yang menyebutkan tradisi keluarganya tidak pernah menyelenggarakan pementasan itu, ada yang tidak ingin menambah biaya untuk memanggil sekaa topeng, ada pula yang terus-terang menyebutkan tidak tahu legenda di balik pementasan Topeng Sidakarya.

Bagi yang tidak tahu, ini sedikit ringkasannya. Kisahnya konon terjadi pada pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel, tatkala beliau mengadakan upacara besar di Pura Besakih. Banyak pandita yang diundang untuk muput upacara ini.

Tersebutlah pandita (brahmana) sakti dari Keling, yang tidak diundang dalam upacara itu, tetapi ingin terlibat muput karya. Niatnya ini karena didasarkan pada hubungan kekerabatan antara Keling di Jawa dan Gelgel di Bali. Sayangnya, karena perjalanan yang jauh dan berhari-hari, Pandita Keling sampai di Gelgel dalam keadaan kumal, bajunya compang-camping, mirip seorang pengemis. Dalam pakaian seperti itu, tak ada seorang pun staf kerajaan yang percaya kalau tamu tanpa diundang ini seorang pandita. Maka, Pandita Keling diusir dengan paksa, setelah sebelumnya sempat dihina.

Pandita Keling pergi dengan dendam. Di sebuah tempat yang sepi, dia melakukan perlawanan dengan mengucapkan mantra yang isinya yadnya yang diselenggarakan oleh Dalem Waturenggong tidak akan membawa berkah, malahan menimbulkan bencana. Semua banten menjadi busuk dan tikus-tikus pun mengerubungi banten busuk itu. Tikus semakin banyak sampai merusak tanaman petani. Rakyat menjadi resah.

Raja Waturenggong dalam samadinya tahu siapa yang mengutuk upacara besarnya itu. Dia lantas mengutus Arya Tangkas untuk menjemput pandita yang masih tinggal di tempat sepi (suung) itu. Raja meminta maaf dan mempersilakan Pandita Keling untuk ikut muput upacara bahkan menjadi pamuput paling akhir sehingga karya itu menjadi sida (diberkahi). Prosesi ini bagi masyarakat kebanyakan lantas disebut pamuput Sidakarya. Karya besar dalam wujud yadnya pun sukses.



Dari legenda itu masyarakat Hindu di Bali lantas membuat Topeng Sidakarya. Wujudnya berwajah jelek dengan gigi merangas sebagai simbol dari pandita yang wajahnya mirip gelandangan. Karena itu, penari Topeng Sidakarya biasanya lebih banyak menutup wajah -- terutama mulut -- dengan kain putih yang dibawanya. Namun, mantra yang diucapkan sangat bertuah karena dilakukan dengan ngider buwana (ke segala arah). Itu sebabnya, tidak semua penari topeng mampu menarikan Dalem Sidakarya.

Kebanyakan masyarakat Bali yang tidak mementaskan Topeng Sidakarya untuk muput yadnya beralasan lain lagi, yakni tak ingin memanggil sekaa topeng. Pengeluaran bertambah dengan mementaskan topeng. Namun, Topeng Sidakarya sendiri sesungguhnya bisa dipentaskan tanpa ''pementasan topeng''. Artinya, yang didatangkan hanya seorang penari topeng yang sudah berhak (secara ritual) membawakan topeng Dalem Sidakarya itu.

Gamelan pengiring tidak menjadi masalah, bisa gong gede, angklung, maupun gender biasa, disesuaikan dengan gamelan yang ada pada penyelenggaraan yadnya. Dalam hal ini penari Topeng Sidakarya disebut ''Topeng Pajegan'', karena dia harus menarikan berbagai peran. Dalem Sidakarya hanya muncul pada saat akhir yakni ketika membuat tirtha. Karena itu sebelumnya ''penari pajegan'' ini melakukan improvisasi dan monolog untuk mengantar pada kemunculan Dalem Sidakarya. Penari bisa membanyol, bisa pula memberikan semacam dharma wacana, tergantung siapa penarinya.

Sebagai seni ritual (seni wali) Topeng Sidakarya perlu dikembangkan dan dipopulerkan. Tentu fungsi utamanya ditambah, bukan hanya untuk mentradisikan legenda pamuput akhir dari yadnya, tetapi untuk media dharma wacana. Sekarang ini bukan hanya hama tikus yang meresahkan tetapi juga terjadinya kemerosotan moral pada generasi muda. Nah, siapa tahu Topeng Sidakarya bisa menjadi media perlawanan dalam mengatasi masalah moral ini.


*disadur oleh Putu Setia
copypaste dari Permenkaret molor


biasanya menjelang berakhir,si penari topeng akan menangkap anak kecil untuk dibawa ke tengah kalangan pentas...saya sering dulu di tangkap...
Quote:Original Posted By wiatnata
biasanya menjelang berakhir,si penari topeng akan menangkap anak kecil untuk dibawa ke tengah kalangan pentas...saya sering dulu di tangkap...


mirip ama topengnya kali yah????

Biasanya kan dikasi duit kalo kena tangkap.... wah enak tuh
Quote:Original Posted By IMade in Jpn


Dalam ajaran Hindu tidak diperbolehkan menghina orang. Apalagi kalau sampai menghina orang suci. Orang suci itu tentu tidak melawan dengan kekuatan fisiknya. Mereka akan melakukan perlawanan dengan mantra tergantung tingkatnya, dari sekzdar mengingatkan sampai bersifat kutukan. Dalam kitab-kitab Purana dan Itihasa kita sering menjumpai adanya orang suci yang melakukan kutukan lewat kekuatan mantranya itu.

Spoiler for "mantafff.....":

lanjutkan lagi bli dengan info yang lain,........
Satu lagi keanehan yang "berbau" Bali. Tetapi ini terjadi di Pulau Jawa. Silahkan menyimak:
Quote:
''Kerauhan'' Massal di Candi Kalasan dan Sambisari


Di balik sukses penyelenggaraan 6th National Overland Program 2009 di Pulau Jawa, terdapat sebuah kejadian niskala yang dialami hampir seluruh peserta overland, yakni kerauhan massal yang terjadi ketika rombongan melakukan persembahyangan dan Puja Tri Sandhya di Candi Kalasan dan Candi Sambisari, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, setelah usai menunaikan tugas sebagai Dharma Dutta di Istana Kepresidenan Republik Indonesia, rombongan mendapatkan pengalaman spiritual yang penuh dengan keharuan ketika berkesempatan berdoa pada leluhur di Candi Kalasan.
Setiba di Candi Kalasan, rombongan mengadakan Panca Sembah dan saat itulah muncul kerauhan massal dan banyak pesan niskala yang disampaikan. `'Intinya, leluhur yang berada di candi-candi Jawa mengatakan telah memantau keberangkatan kami sejak perjalanan hingga menjelang pulang. Sang Prabu juga menyatakan bahwa yang mendirikan candi ini adalah orang Bali pada zaman Mataram Hindu, dan senang sekali bertemu dengan cucu beliau yang kini datang dari Bali. Beliau berpesan, agar setiap tahun kegiatan ini simpang (mampir) menjenguk leluhur,'' ungkap AA Adi Pratama (Putra Kampus Ajeg Bali 2009).
Ia juga menyatakan bahwa saat kerauhan ribuan kelelawar yang ada di dalam candi berteriak dan bersorak kegirangan ketika didatangi oleh rombongan. `'Ini pengalaman yang mengharukan, ternyata perjuangan kami diamati oleh leluhur dan para dewa di Pulau Jawa,'' ungkap Bagus Bayu (Wakil II Teruna Bali 2008).
Kejadian niskala kembali muncul di Candi Sambisari, Klaten. Ketika rombongan berdoa dan mengadakan puja di depan Lingga Yoni di dalam Candi, para peserta kembali mengalami kerauhan dan terharu. Bahkan ada peserta yang tidak ingin pulang karena rindu akan leluhur yang ada di Candi Sambisari. " Coba candi-candi ini ada di Bali, pasti sudah dipelihara dengan baik oleh umat Hindu. Tetapi di sini terbengkalai. Untuk itu di sini kita adakan pembersihan dan pencucian Lingga Yoni ini setiap tahun. Mudah - mudahan, warga di sini menjaga situs Hindu ini,'' ungkap AA Fajar Pramasta (Gerakan Siswa Hindu Indonesia).(r/*)


Sumber: Koran Bali Post Selasa Wage , 4 Agustus 2009 (Nomor 343 tahun ke 61)

PS: Fiiuuuuhhhh….. capek juga ngetiknya…..


Spoiler for Candi Kalasan:


Spoiler for Candi Sambisari:


Semua gambar dan penjelasannya ada di:
http://candi.pnri.go.id/

Silahkan cek TKP
Quote:Original Posted By saphiae
mirip ama topengnya kali yah????

Biasanya kan dikasi duit kalo kena tangkap.... wah enak tuh


weh, di tempat tiang pake uang kepeng gak bisa dipake jajan

oya bli , skr kan kebetulan sasih tenget. beberapa desa di bali biasanya ngadain ritual semacam bikin pelindung seperti kmrn pas kajeng kliwon tiang ngiring sesuhunan ngunya keliling desa. nah ada desa2 yang saya liat masang portal berisi bambu berduri dan daun pandan. nah bli bagus sebagai pakar leak kayaknya ada refrensi buat menjelaskan neh... nanti klo sempet tiang foto portal bambunya agar semeton2 yang lain tau model nya
Quote:Original Posted By wiatnata
weh, di tempat tiang pake uang kepeng gak bisa dipake jajan

oya bli , skr kan kebetulan sasih tenget. beberapa desa di bali biasanya ngadain ritual semacam bikin pelindung seperti kmrn pas kajeng kliwon tiang ngiring sesuhunan ngunya keliling desa. nah ada desa2 yang saya liat masang portal berisi bambu berduri dan daun pandan. nah bli bagus sebagai pakar leak kayaknya ada refrensi buat menjelaskan neh... nanti klo sempet tiang foto portal bambunya agar semeton2 yang lain tau model nya


pakar leak?? Mih uli dije tekane istilah pakar leak?? Sing ade ape deeeee.... ... Tiang nak belog sing nawang ape....

Pemasangan pandan dan bambu bukan untuk sekedar masang anti leak. Itu lebih berkesan kepada penolak bala. Sama halnya seperti menggambar tapak dara di pintu depan rumah.
Jika diperhatikan, sifat daun pandan ini melindungi. Coba lihat tumbuhan daun pandan, dia melindungi tanaman2 yang ada di bawahnya dari teriknya sinar matahari, hujan, dsb. Kemudian duri2 kecilnya selalu siap menusuk apapun yang mencoba melakukan sesuatu kepada hal yang berlindung kepadanya. Mungkin dari sifat inilah diambil suatu makna bahwa pandan sebagai penolak bala.
Sama halnya seperti bambu. Bambu juga bersifat melindungi dan bahkan bisa memberikan kedamaian kepada lingkungan sekitarnya , seperti kata2 orang tua dulu "Sekadi sunari ampehang angin", (kalo arti bahasa Indonesianya apa yah?? Sunari bahasa Indonesia ne ape naahh??). Pernah dengar tentang sembilu?? Atau istilah Balinya ngaad?? Bisa bayangkan kalo terluka terkena sembilu atau ngaad ini?? Perihnya minta ampoooonnn.....

Mungkin nenek moyang kita mengambil simbol kedua benda ini berdasarkan sifatnya. Selain mungkin memang ada sisi magis yang timbul dari kedua benda tersebut. Kalo tiang sih mencoba mengambil dari sisi logika saja.
Tapi tentunya pemasangan kedua benda tersebut tidak hanya langsung pasang aja ya Pak Wi. Kan ada bantennya juga. Tiang juga sebenarnya harus mecaru hari itu karena ada arah2an dari desa. Cuma karena ada saudara yang meninggal, tiang kena sebelan, jadi ga enak hati untuk meatur2 dulu.

Sama juga halnya seperti benang tridatu. Orang2 memakai benang tridatu dengan berbagai versi.
Versi I
Ida Ratu Gde Mas Mecaling sedang mencari panjak. Beliau tidak akan memakan korban yang memakai benang tridatu sebagai lambang pengikut dalem klungkung (kalo ga salah ada dalam Babad Dalem yah, CMIIW ). Sebagai pertanda bahwa beliau akan mencari korbannya adalah, ketika kulkul yang ada di puri klungkung berbunyi dengan sendirinya tanpa ada yang memukul. Anehnya, justru orang2 yang bertempat tinggal jauh yang lebih jelas mendengarnya sampai lain kabupaten.

Versi II
Benang tridatu memakai 3 warna yaitu merah putih hitam, sebagai lambang Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, yang dimana mereka merupakan manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dengan memakai benang tridatu, kita sangat berharap untuk senantiasa dilindungi oleh Tuhan.

Begitu Pak Wi..... Mohon dikoreksi jika ada yang kurang berkenan....
Quote:Original Posted By saphiae
pakar leak?? Mih uli dije tekane istilah pakar leak?? Sing ade ape deeeee.... ... Tiang nak belog sing nawang ape....

Pemasangan pandan dan bambu bukan untuk sekedar masang anti leak. Itu lebih berkesan kepada penolak bala. Sama halnya seperti menggambar tapak dara di pintu depan rumah.
Jika diperhatikan, sifat daun pandan ini melindungi. Coba lihat tumbuhan daun pandan, dia melindungi tanaman2 yang ada di bawahnya dari teriknya sinar matahari, hujan, dsb. Kemudian duri2 kecilnya selalu siap menusuk apapun yang mencoba melakukan sesuatu kepada hal yang berlindung kepadanya. Mungkin dari sifat inilah diambil suatu makna bahwa pandan sebagai penolak bala.
Sama halnya seperti bambu. Bambu juga bersifat melindungi dan bahkan bisa memberikan kedamaian kepada lingkungan sekitarnya , seperti kata2 orang tua dulu "Sekadi sunari ampehang angin", (kalo arti bahasa Indonesianya apa yah?? Sunari bahasa Indonesia ne ape naahh??). Pernah dengar tentang sembilu?? Atau istilah Balinya ngaad?? Bisa bayangkan kalo terluka terkena sembilu atau ngaad ini?? Perihnya minta ampoooonnn.....

Mungkin nenek moyang kita mengambil simbol kedua benda ini berdasarkan sifatnya. Selain mungkin memang ada sisi magis yang timbul dari kedua benda tersebut. Kalo tiang sih mencoba mengambil dari sisi logika saja.
Tapi tentunya pemasangan kedua benda tersebut tidak hanya langsung pasang aja ya Pak Wi. Kan ada bantennya juga. Tiang juga sebenarnya harus mecaru hari itu karena ada arah2an dari desa. Cuma karena ada saudara yang meninggal, tiang kena sebelan, jadi ga enak hati untuk meatur2 dulu.

Sama juga halnya seperti benang tridatu. Orang2 memakai benang tridatu dengan berbagai versi.
Versi I
Ida Ratu Gde Mas Mecaling sedang mencari panjak. Beliau tidak akan memakan korban yang memakai benang tridatu sebagai lambang pengikut dalem klungkung (kalo ga salah ada dalam Babad Dalem yah, CMIIW ). Sebagai pertanda bahwa beliau akan mencari korbannya adalah, ketika kulkul yang ada di puri klungkung berbunyi dengan sendirinya tanpa ada yang memukul. Anehnya, justru orang2 yang bertempat tinggal jauh yang lebih jelas mendengarnya sampai lain kabupaten.

Versi II
Benang tridatu memakai 3 warna yaitu merah putih hitam, sebagai lambang Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, yang dimana mereka merupakan manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dengan memakai benang tridatu, kita sangat berharap untuk senantiasa dilindungi oleh Tuhan.

Begitu Pak Wi..... Mohon dikoreksi jika ada yang kurang berkenan....


mantabsss..

untuk benang tridatu yang versi I sudah pernah tiang dengar. bahkan ada juga mitos orang tua untuk tidur di lantai saat sasih seperti skr agar tidak terdeteksi saat Ida Ratu Mas Mecaling mencari "panjak". katanya...

oya bli, ada lagi. bener ya klo orang "mesabuk" pasti keteter klo dipecut pake ekor pari. model Stieve Irwin

soalnya saya pernah liat langsung kejadiannya pas SMA. waktu itu desa lebih beten kelod mau tawuran dengan banjar sengguan di lapangan gianyar. massa dari desa lebih semuanya mempersenjatai diri dengan ekor pari. tidak ada yang membawa senjata tajam...keren bgt....
Quote:Original Posted By saphiae
Satu lagi keanehan yang "berbau" Bali. Tetapi ini terjadi di Pulau Jawa. Silahkan menyimak:


Spoiler for Candi Kalasan:


Spoiler for Candi Sambisari:


Semua gambar dan penjelasannya ada di:
http://candi.pnri.go.id/

Silahkan cek TKP


keren bli :
kapan ya candi candi dijawa bisa kembali dirawat...hem...sayang banget peninggalan leluhur kok ditinggalkan begitu saja
menurut bli saphiae apakah dengan merawat candi akan bisa kembali mengeluarkan aura atau perbawa dr tiap candi bli?
bagaimana pendapat bli tentang banyaknya candi di jawa dan pengaruhnya secara kekuatan spiritualnya terhadap kelangsungan kekuatan magis di pulao jawa...