KASKUS

Sunk-Cost Trap

Sunk-Cost Trap

Tiga orang psikolog -Hammond, Keeney, dan Raiffa (2011)- baru-baru ini melansir temuannya yang dalam metode pengambilan keputusan dikenal sebagai sunk-cost trap. Anda yang pernah belajar akutansi mungkin familier dengan kata sunk-cost yang oleh sebagian penulis diterjemahkan menjadi biaya tenggelam. Maksudnya, ya, biaya yang sudah dikeluarkan (dan begitu besar) yang tak bisa diambil kembali. Ya dia hilang begitu saja. Nah disebut trap atau perangkap karena tidak lain, para pemimpin sering kali berputar-putar menyesali biaya itu dengan membiarkannya ada, padahal asetnya sudah hilang, tenggelam.
Hilang, lenyap, atau ?
Beberapa hari yang lalu di Tiongkok dua gedung berlantai lebih dari 30 dirobohkan. Mengapa para eksekutif pengelola gedung berani merobohkan gedung itu? Bukankan masih bisa dipakai? Kalaupun kumuh, apa susahnya direnovasi? Begitu pikiran banyak orang. Sementara itu dibanyak kota banyak gedung-gedung kumuh yang dibiarkan begitu saja. Namun, saya pikir semua itu terjadi karena manusia selalu mengalami sunk-cost trap dalam pengambilan keputusan.
Hammond, Keeney, dan Raiffa memberi beberapa contoh yang saya kira ada banyak benarnya. Mereka menyebutkan apa yang dialami oleh para bankir yang menghadapi nasabah-nasabah bermasalah. Setelah kredit diberikan beberapa waktu kemudan kredit itu macet. Apakah Anda berpikir para bankir akan menghentikan dan menjualnya kepada pihak ketiga? Ternyata tidak, rata-rata bankir di seluruh dunia justru menyalurkan kredit-kredit baru dengan harapan usaha yang dibantu itu bisa hidup kembali. Padahal kredit yang macet itu adalah sunk-cost, dan kredit macet itu bertemu dengan bankir yang tersandera sunk-cost trap.
Di sini lain, saya juga melihat ada begitu banyak CEO yang menghadapi karyawan-karyawan yang bermasalah dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Kadang saya berpikir rumah mereka mungkin sudah bukan di sini lagi dan tentu saja mereka membutuhkan program karir kedua (the second career). Namun berapa banyakkah CEO yang berani melakukannnya dan membuatkan program pensiun dini agar karyawan-karyawan itu bisa segera pindah? Anda benar, ternyata sangat sedikit. Mayoritas CEO justru memilih cara-cara lain yang bisa membuat para karyawannya tetap bertahan, bahkan menggali lubang-lubang besar pada perusahaan.
Setelah membaca cerita di atas, saya harap Anda pun mulai mengerti mengapa semua pemimpin partai politik mendiamkan eksekutifnya yang bermasalah tetap menjadi pengurus partai. Mereka mendiamkannya sama sekali, bahkan justru membelanya. Pemimpin-pemimpin yang kita hormati itu, maaf, bukanlah good decision maker. Mereka terperangkap sunk-cost trap. Dan sunk-cost trap adalah perangkap yang dialami oleh decision maker yang lemah yang kurang memiliki kemampuan multi-perspektif.
Kalau ini terjadi pada Anda, saya minta agar Anda mulai berani melihat sebuah masalah dari berbagai perspektif. Namanya asset, kalau sudah tidak ada nilainya hendaknya Anda bijak menerimanya. Asset itu telah tenggelam dan Anda tak perlu berharap lagi, kecuali untuk alasan-alasan kemanusiaan. Sunk-cost trap adalah psychological trap yang mungkin dialami oleh banyak pengambil keputusan yang buruk.

Dikutip dari Catatan Renaldi kasali, Jawa Pos 04 September 2012
ane baru belajar post di kaskus gan..

semangat gan
×