LALU ALLAH SPT APA ? [/FONT][/B]
Spoiler for SPT:



kasih tau gak ya..? bener2 bener pengen tau atau cuma pengen ta ? ?? (alay mode on).
untuk menemuinya harus dengan kematioan.. so bagaimana ketemu kalau masih hidup.. kalo dulu para orang tua dulu mengajarkan "mati sakjeroning urip", mati sebelum mati..
yang paling mengakakkan adalah jawaban entahlah.., tapi nice trit dah...
Quote:Original Posted By tisanndut
maaf mbah gun itu pendapat ane
di Al Qur'an ada kata Allah dan Rabbi itu istilah nya beda

kalo kita mengatakan Allah, kita sebenarnya tidak bisa melihat Allah, artinya tentang dat nya Allah dan sifat nya Allah itu tidak bisa di bicarakan, tetapi kita mengetahui wujudnya Allah itu berdasarkan petunjuk, maka kita membicarakan Allah itu sebenarnya kita membicarakan petunjuk
seperti mengatakan Allah itu Maha Kuasa, kita itu melihat petunjuk gak melihat Allah, jadi kalo kita tidak tau petunjuk berarti kita tidak tau Allah, sekalipun kita mengucapkan Allah, tp kalo tidak tau petunjuk yaa gak tau yg dikatakan Allah. cuma bisa menghayalkan / membayangkan tentang Yang Maha Kuasa, karna yg kita katakan Allah itu petunjuk, kita berbicara tentang petunjuk, jd kalo punya ilmu itu pasti dpt petunjuk, petunjuk ini namanya kalam, jd kalo gak tau kalam ya gk punya ilmu, kalo gak punya ilmu ya gak punya iman.
jadi mengkaji sifat ini mengkaji tauhid tentang keimanan, iman kepada Yang Maha Kuasa tujuan nya adalah kita itu bisa percaya kepada Yang Maha Kuasa kalo kita tau, artinya kita bisa beriman kalo kita punya ilmu, karena ini berdasarkan ilmu, sedangkan dat nya Allah dan sifat nya Allah gak bisa kita jangkau, maka tentang Allah tidak bisa di bicarakan, Yang Maha Kuasa itu tidak bisa kita bicarakan, yg bisa kita bicarakan itu petunjuk
petunjuk itu kalam yg menunjuk kan wujud nya Allah

maaf kalo jawaban ane kurang berkenan
sedikit penjelasannya tp sudah jelas

Red face 

Quote:Original Posted By doer81


LALU ALLAH SPT APA ? [/FONT][/B]
Spoiler for SPT:



kasih tau gak ya..? bener2 bener pengen tau atau cuma pengen ta ? ?? (alay mode on).
untuk menemuinya harus dengan kematioan.. so bagaimana ketemu kalau masih hidup.. kalo dulu para orang tua dulu mengajarkan "mati sakjeroning urip", mati sebelum mati..


Menurut ane justru kalau ketemu Allah ketika hidup makan akan ketemu Allah setelah mati, dan sebaliknya, jika semasa hidup tidak ketemu Allah pun setelah mati tidak akan ketemu Allah.
karena tidak semua manusia bisa ketemu sama Allah, terus gmn caranya
Caranya tidak seperti yang di tulis di thred ini, itu cuma dalil naqli ma akli saja, tapi telah dilupakan ada sumber lain yg bisa mengakses alam ketuhanan yakni hati.

untuk bisa mengkasesnya tentunya harus menggunakan ilmu tasawuf, mencari guru mursyid yang diberikan karomah warisan dari Nabi Saw, lalu kita taat dan mengikuti perintah guru dengan Ikhlas. insya Allah akan ketemu sama Allah, sesuai dengan firman Allah dalam Qur'an "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." [18:110]

sulit gan, kecuali atas ridho Guru Mursyid dan Ridho Allah
tinggalin jejak dlu ah
Bismillah ...

Ikut Nimbrung Gan, Cara dan Kesimpulannya terlalu sembrono karena pemahamannya terhadap ayat terlalu minim. Yang dijabarkan semuanya adalah terjemahan bukan tafsir dari ayat tersebut. Alangkah baiknya kita cukup menukil pendapat ulama sehingga lebih kuat, karena lebih mendalami.

Saya juga tidak mempunyai kapasitas untuk membahasnya, saya tidak berani dan merasa belum cukup umur tapi saya akan nukil pendapat ulama.

Seperti dalam ayat:
"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS at-Taubah [9]: 40)

maka ulama membahas kata bersama terlebih dahulu:
Sebab, kebersamaan itu bermacam-macam bentuknya:
1. Ada kebersamaan dalam segi tempat, seperti ungkapan seseorang: "Saya sama-sama satu kampung dengannya."
2. Ada kebersamaan dalam segi masa, seperti ungkapan seseorang: "Saya sama-sama lahir dengannya."
3. Ada kebersamaan dalam segi kedudukan dan jabatan, seperti ungkapan seseorang: "Saya sama-sama-sama satu golongan dengannya."
4. Ada kebersamaan dalam segi pembelaan.
5. Ada kebersamaan dalam sisi pengawasan.
6. Ada kebersamaan yang berarti menyatu, seperti ungkapan seseorang “aku minum teh bersama gula dan susu”.
Jadi, makna dari kata bersama dalam bahasa Arab memiliki makna yang berbeda-beda maksudnya. Untuk menentukan makna dari kalimat bersama ) dalam sebuah ungkapan adalah dengan melihat gramatika (tata bahasa) dan susunan kalimat atau rangkaian kata dalam sebuah ungkapan.

Namun Ulama Memberikan Poin-Poin Penting Definisi Yang Tepat Bersama Dalam Ayat hanya Poin 4 dan Poin 5 lah yang tepat sebagaimana penjelasan para ulama:
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak tersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka. ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah itu Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS an-Nisaa' [4]: 108)

Imam Thabari رحمه الله menjelaskan tentang maksud dari kalimat "Allah bersama mereka" dalam ayat ini, yakni: Allah عزّوجلّ melihat dan menyaksikan perbuatan mereka tersebut sekalipun mereka berusaha menyembunyikannya dari manusia namun tidak tersembunyi atas Allah عزّوجلّ.1 Dan hal tersebut umum untuk semua makhluk, tidak khusus terhadap kelompok tertentu dari manusia.

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hadiid [57]: 4)

Imam Thabari dan Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan tentang maksud dari firman Allah عزّوجلّ "Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada" yakni: Allah menyaksikan dan mengetahui di mana pun kalian berada, dan mengetahui pekerjaan, gerak-gerik serta tempat kalian dan Dia di atas 'Arsy-Nya di atas langit yang tujuh.

Para ulama menjelaskan lagi tentang beberapa fakta pendukung dalam ayat tersebut:

1. Allah عزّوجلّ menggabung dalam ayat tersebut antara sifat Ma'iyah dengan sifat Istiwa' di atas 'Arsy. Artinya, tidak ada pertentangan dalam menetapkan kedua sifat tersebut bagi Allah عزّوجلّ. Oleh sebab itu, Allah عزّوجلّ menyebutkan kedua sifat tersebut dalam satu ayat. Agar dipahami dengan sebagaimana mestinya dan tidak mempertentangkan antara kedua sifat tersebut.

2. Allah menyebutkan sifat Ilmu "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya". Dari sini para ulama kita menarik sebuah kesimpulan bahwa kebersamaan Allah عزّوجلّ terhadap makhluk adalah dengan ilmu-Nya bukan dengan dzat-Nya.

3. Allah عزّوجلّ menutup ayat tersebut dengan nama-Nya yang mulia al-Bashiir (Maha Melihat) yang menunjukkan sifat al-Bashr (melihat) "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". Maka para ulama kita menarik kesimpulan lagi bahwa kebersamaan Allah عزّوجلّ terhadap makhluk juga dengan penglihatannya dan bukan dengan dzat-Nya.

4. Dalam ayat tersebut Allah عزّوجلّ menggabungkan antara sifat Istiwa', dengan sifat Ilmu, Ma'iyah, dan al-Bashr. Ini menunjukkan masing-masing sifat tersebut saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Artinya, sifat Istiwa' tidak bertentangan dengan sifat Ma'iyah, sekalipun Allah ber-istiwa' di atas 'Arsy, tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah عزّوجلّ karena ilmu dan penglihatan Allah senantiasa bersama makhluk kapan saja dan di mana saja mereka berada.

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS al-Mujaadilah [58]: 7)

Imam Thabari رحمه الله menjelaskan tentang maksud dari firman Allah عزّوجلّ "Dia bersama mereka di mana pun mereka berada" yakni: Dia (Allah) di atas 'Arsy sedangkan ilmu-Nya bersama mereka.3

Berkata Ibnu Katsir رحمه الله, "Yakni: Allah عزّوجلّ melihat mereka dan mendengar perkataan, rahasia, dan bisikan mereka."4

Melalui penjelasan para ulama terhadap kandungan beberapa ayat di atas dapat kita pahami bahwa Ma'iyatullah terhadap seluruh makhluk secara umum adalah dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan pengawasan-Nya bukan dengan dzat-Nya.

Berikut ini kita kemukakan beberapa ungkapan para ulama salaf:

1. Berkata Ibnu Abbas رضي الله عنهما, dalam menafsirkan firman Allah (وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ) 'Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada': "Dia di atas 'Arsy dan ilmu-Nya bersama mereka."1

2. Berkata Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, ketika menafsirkan firman Allah (مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ) 'Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya': "Allah di atas 'Arsy dan tidak tersembunyi bagi-Nya sedikit pun dari perbuatan kalian."2

3. Berkata Imam Dhahak رحمه الله ketika menafsirkan ayat di atas, "Dia (Allah) di atas 'Arsy dan ilmu-Nya bersama mereka di mana pun mereka berada."3

4. Berkata Imam Malik رحمه الله, "Allah عزّوجلّ berada di atas langit dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Dan tidak ada tempat yang luput dari ilmu-Nya."4

5. Berkata Imam Ahmad ketika menafsirkan firman Allah: (إنَّنِي مَعَكُمَا) 'Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua': "Artinya dalam membela keduanya."5

Kemudian beliau berkata lagi dalam menafsirkan firman Allah: (وَاللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ) 'Allah itu bersama orang-orang yang sabar': "Dalam menolong mereka terhadap musuh-musuh mereka."

Ane cuman menukil ... dan pandangan ulama lebih adem gan. Daripada tulisan ente masih ngambang malah bisa bikin orang salah kaprah.

Karena kesimpulan: Entahlah bisa berarti ente masih ragu tentang keberadaa-Nya padahal Allah itu ada. Minimal kalo dibaca oleh orang awam kesimpulannya jadi keraguan. Padahal bukan itu kan yang pingin ente sampaikan.

Begitu aja tambahan dari saya. Mudah-mudahan bisa jadi ilmu. Sekali lagi saya cuman nukil, ilmu ane masih cetek jadi mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kesalahan penafsiran.










Mungkin definisi kalimat Entahlah dalam kesimpulan bisa tergambar jelas dalam pembahasan ini.

Sesungguhnya sifat Allah عزّوجلّ sesuai dengan zat-Nya sendiri. Sedangkan kita tidak melihat zat Allah سبحانه و تعالى, bagaimana kita akan bisa menggambarkan dan membayangkan sifat-sifat-Nya. Untuk membandingkannya juga tidak mungkin karena tidak ada satupun makhluk yang sebanding Allah عزّوجلّ, baik dalam zat-Nya maupun dalam sifat-Nya.

Sebagaimana Allah katakan dalam firman-Nya,

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Allah).” (QS. Al-Ikhlas/112:4)

Dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم pun tidak ada penjelas tentang bentuk dan hakikat sifat Allah عزّوجلّ tersebut. Oleh sebab itu kita hanya meyakini bahwa Allah memiliki sifat sesuai dengan yang disebut dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits shahih. Hakikat dan bentuk sifat tersebut sesuai dengan kebesaran Allah itu sendiri. Dan hanya Allah سبحانه و تعالى yang mengatahui bagaimana bentuk dan hakikat sifat-Nya tersebut.

Allah عزّوجلّ hanya mewajibkan kepada kita sebatas beriman kepada sifat-sifat-Nya, tetapi tidak membebankan atau memerintah kita untuk mengetahui hakikat dan bentuk sifat-Nya. Dan ketidaktahuan kita tentang hakikat dan bentuk sifat tersebut tidak mengurangi nilai keimanan kita kepada Allah سبحانه و تعالى dan kepada sifat-Nya. Karena kita telah melakukan sesuai dan sebatas yang diperintahkan Allah عزّوجلّ kepada kita.

Sebagaimana kita meyakini Allah سبحانه و تعالى itu ada dengan Zat-Nya, walau kita tidak melihat zat tersebut. Demikian pula dalam mengimani sifat Allah عزّوجلّ, kita wajib meyakininya sekalipun tidak mengetahui bentuk dan hakikatnya. Jangankan untuk mengetahui hakikat sifat Allah عزّوجلّ. Untuk mengetahui sebagian sifat makhluk saja kita tidak bisa. Sebagaiman kita percaya tentang adanya roh, tetapi tidak kita ketahui hakikat dan bentuknya. Demikian pula kita beriman dengan segala nikmat yang ada dalam surga, tetapi kita tidak mengetahui bentuk dan hakikat dari berbagi nikmat tersebut.

Berkata Ibnu Abbas رضي الله عنهما, “Tiada keserupaan apa yang ada dalam surga dari sesuatu yang ada di dunia kecuali hanya dari segi nama.”

Ini thread bagus, ijin print out ya gan
Cek kulkas gan TS
Quote:Original Posted By zers
Ini thread bagus, ijin print out ya gan
Cek kulkas gan TS


oke gan
om muhas, numpang info ya

Quote:Mari kita bantu korban erupsi Gunung Sinabung, demi kemanusiaan:

tret Forsup
-> Kepedulian Sosial untuk Sinabung [feat. All Kaskus Sub Forums]


Mohon bantuannya


makasi gan ilmunya
Quote:Original Posted By Minibalanar
om muhas, numpang info ya



Mohon bantuannya



ok bro
allahu akbar
Nyimak dulu ganss..
alhamdulillah
Nubie ikut nyimak dan coba ikut nimbrung dengan pengetahuan yang terbatas.

Janganlah kita berbicara mengenai Dzat Allah, karena Allah bisa dideskripsikan disebabkan tidak ada yang serupa dengan-Nya (QS Al Ikhlas: 4). Tapi kita bisa mengenal Allah, melalui sifat-sifat-Nya.

Seperti diumpamakan dengan api. Apakah api itu? Orang menganggap api itu panas, terang. Padahal panas dan terang itu adalah sifat dari api. Dzat api itu menyatu dengan sifat panas dan terang.

Mohon maaf atas penjelasan nubie yang sederhana.

nice inpoh gan.. tinggalin jejak..

baca lagi ntar pas lag fresh