KASKUS

Quote:Original Posted By riknelson

Kalo dia udah melihara 15 kucing ya dikasihin aja ke sodara gan atau di hibahkan gan...bukan di jual dengan dengan harga tertentu dengan pengganti biaya ini itu. Kalo di jual berarti dulu waktu ngerawat niatnya memang mau di jual.
Dulu kan waktu ngerawat niatnya ikhlas bukan tujuan komersil

Haram tidaknya sudah tertuang dalam Hadits gan jelas dan tegas dan tidak bisa di ganggu gugat....Allah lah yg mengharamkan lewat Nabi Muhammad SAW yg tertuang dalam hadits..

Selama ada harga yg di tetapkan oleh si penjual dengan alasan Mahar, biaya perawatan dll ya sesuai hadits jelas haram gan. Kalo sudah di Tarif waktu serah terima kucing ya itu jual beli namanya...meskipun di pelesetin jadi mahar, biaya perawatan, biaya adopsi dll.

Kecuali kita simpan uang itu untuk biaya perawatan kucing yang lain dan kita gak makan uang itu seperpun.
Contoh selama 5 bulan kita merawat kucing Maine Coon total biaya perawatan misal 2 juta tapi kita jual senilai 12 juta....jadi selisih 10 juta di apain gan? kalo tidak dimakan ga masalah...kalo dimakan ya itu yg masalah besar.

Kalo kita merawat kucing itu dengan niat mw dijual lagi agar mendapat uang ya jelas punya tujuan komersil pastinya.

Saya setuju gan banyak kucing domestik yg pernah saya pelihara juga sebetulnya bisa di kasih makan kalo pengen pahala...kenapa harus kucing Persia meskipun saya akui saya punya 5 kucing persia dirumah dan waktu beli sebelum tau hukum jual beli kucing itu haram.

Copy paste:
Dari Abu Az Zubair, beliau berkata bahwa beliau pernah menanyakan pada Jabir mengenai hasil penjualan anjing dan kucing. Lalu Jabir mengatakan,
زَجَرَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal ini.” (HR. Muslim no. 1569).
Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zajar dalam hadits di atas adalah larangan keras. (Al Muhalla, 9: 13)
Juga dari Jabir, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hasil penjualan anjing dan kucing.” (HR. Abu Daud no. 3479, An Nasai no. 4668, Ibnu Majah no. 2161 dan Tirmidzi no. 1279. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


oh gtu gan , sip deh oh gtyu, sip deh
TOLONG YG NON MUSLIM DAN ORANG MUSRIK
JANGAN KOAR2 DI SINI YA KALO MEMANG
ANDA TIDAK TAU TENTANG ISLAM.
TERIMA KASIH
selama ente memelihara dengan baik ga haram ko,kan dipelihara kecuali buat di siksa2 baru haram itu
Setau ane hewan yg gaboleh di perjual belikan itu hewan yg lagi mengandung/hamil deh jadi kalo kucingnya ga lagi hamil kayaknya gpp deh di jual belikan asalkan bener aja
Quote:Original Posted By Nadrinda


Wah ga rugi deh punya moderator kaya agan...
Sedikit lega nih denger komentarna :


sumpeh ngakak banget lihat komen ini..

----

menurut ane haram di sini itu sbb;
Niatan meraup untung dari si kucing
Maksudnya gini gan, kita ambil contoh seorang A (penjual/peternek) yang memiliki visi budidaya kucing yang cukup menjanjikan. Dia modal 600rb untuk membeli pejantan ras Persia/ Anggora, lantas di kimpoin sama kucing betina lokal dan beranak-pinak. Sedangkan anaknya kemungkinan 60% ikut ras bapak dengan kondisi fisik 70% sama, 30% ikut ras bapak dengan kondisi fisik 50% selainnya ikut fisik ibu, dan terahir kemungkinan cukup kecil 10% kondisi fisik seperti kucing lokal (ibu). Nah di sini si A tadi sudah mendapatkan keuntungan tatkala kucing tsb melahirkan 4 ekor yang di jual paling murahpun 300rb.

Nah itu poiin haramnya, n walau bagaimanapun juga kucing itu hewan spesial di mata rosul. Bliau sampai tak tega membuat kucingnya terbangun demi mengambil jubah Beliau dan memotong jubah yang di tiduri kucingnya tsb
Oleh sebabnya, Hibah tanpa pungutan sangat di anjurkan, ingat ini bukan hewan konsumsi namun hewan rumahan. Dan bagi agan-agan yang ingin menjual kucingnya mohon di pertimbangkan peringatan yang sudah ada.

Sholallohu alai wa sallam
ane juga ga pernah tega liat kucing diperjual belikan
waduh ane bingung gan apa lagi baca komen agan2 jadi makin bingung
yang pernah ane baca sih emang gak boleh tapi masih terjadi perdebatan antar para ulama..
tapi ane juga masih bingung.. kemaren ane abis beli kucing lagi.. -_-||
banyak yg ingin mendapatkan kebaikan namun tidak mendapatkan nya
RUMAHFIQIH.COM
Muka | Konsultasi | Fikrah
Fikrah

Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20:37 | 91 | baca versi desktop
Beberapa kawan bingung ketika mendapati hadits yang melarang jual-beli kucing berikut ini :
سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ فَقَال : زَجَرَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

Aku bertanya kepada Jabi bin Abdullah tentang jual beli sinnaur (kucing liar) dan anjing. Lalu beliau menjawab: Nabi SAW melarang itu. (HR. Muslim)

Padahal para sahabat banyak yang mencintai kucing, bahkan ada shahabat yang digelari 'bapaknya kucing', yaitu Abu Hurairah. Padahal nama aslinya Abdul-Rahman bin Shakhr al-Dausi (57 H). Namun digelari seperti itu lantaran beliau sering dikelilingi kucing,
Ada juga riwayat shahih dari Nabi SAW bahwa beliau memasukkan kucing dalam kategori hewan yang suci, dan mengatakan bahwa ia adalah hewan yang sering ada di sekeliling kita.

Tapi di sisi lain ditemukan juga bahwa ada hadits di atas yang secara terjemahan lahiriyahnya melarang kita untuk menjual kucing itu sendiri. Apalagi derajat hadits itu juga shahih karena terdapat di dalam kitab Shahih Muslim.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum jual beli kucing? Kalau haram, kenapa boleh dipelihara?

Kalau haram dijual dengan alasan haram makan dagingnya, keledai juga diharamkan makan dagingnya, tapi jual belinya tidak dilarang?

Bagaimana cara kita memahami hadits ini?

Ulama Empat Madzhab

Ulama Empat madzhab yaitu Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyyah dan Al-Hanabilah sepakat atas kebolehan jual-beli kucing. Dibolehkan karena memang kucing adalah hewan yang suci bukan najis, karena suci maka tidak ada larangan untuk memperjual belikannya.

Pernyataan ini tertulis dalam kitab-kitab mereka, seperti Bada’i al-Shana’i 5/142 (Al-Hanafiyah) karangan Imam al-Kasani (587 H), Hasyiyah al-Dusuqi 3/11 (Al-Malikiyah) karangan Imam al-Dusuqi (1230 H), Al-Majmu’ 9/230 (al-Syafi’iyyah) karangan Imam an-Nawawi (676 H), Al-Mughni 4/193 (Al-Hanabilah) karangan Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisy (620 H).

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kucing itu hewan suci, karena suci maka bisa dimanfaatkan. Dan dalam praktek jual-beli kucing, tidak ada syarat jual-beli yang cacat, semuanya terpenuhi. Sah jual belinya sebagaimana juga sah jual beli kuda atau juga baghl atau keledai.

Setelah sebelumnya beliau mengutip pernyataan Imam Ibnu al-Mundzir yang mengatakan bahwa mmemelihara kucing itu dibolehkan secara ijma’ ulama. Jadi jual belinya pun menjadi tidak terlarang. (Al-Majmu’ 9/230)

Pendapat Menyendiri (Madzhab Zahiri)

Pendapat berbeda dikeluarkan oleh madzhabnya Imam Daud Abu Sulaiman al-Zohiri, bahwa jual-beli kucing itu hukumnya haram. Ini dijelaskan oleh ulamanya sendiri, yaitu Imam Ibn Hazm (456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla (9/13).

Tapi hukumnya bisa menjadi wajib jika memang kucing itu dibutuhkan untuk ‘menakut-nakuti tikus’. Dalam kitabnya dituliskan:

وَلاَ يَحِلُّ بَيْعُ الْهِرِّ فَمَنْ اُضْطُرَّ إلَيْهِ لأَذَى الْفَأْرِ فَوَاجِبٌ

Tidak dihalalkan jual beli kucing, (tapi) barang siapa yang terdesak karena gangguan tikus (di rumahnya) maka hukumnya menjadi wajib.

Artinya, walaupun madzhab ini mengharamkan, tapi keharamannya tidak mutlak. Ada kondisi dimana jual beli kucing menjadi boleh bahkan menjadi wajib hukumnya.

Alasan madzhab ini mengharamkan jual beli kucing, karena memang ada hadits yang melarangnya. Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Zubair pernah bertanya kepada sahabt Jabir bin Abdullah:

سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ فَقَال : زَجَرَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

Aku bertanya kepada Jabi bin Abdullah tentang jual beli sinnaur (kucing liar) dan anjing. Lalu beliau menjawab: Nabi shallallhu a’alaih wa sallam melarang itu. (HR. Muslim)

Menurut Imam Ibnu Hazm, kata “Jazar”[جزر] dalam bahasa itu punya arti jauh lebih berat dibandingkan kata “Nahyu” [نهى] yang berarti melarang.

Imam Nawawi Menjawab Hadits

Ketika menjelaskan pendapat madzhabnya tentang kebolehan jual-beli kucing, Imam Nawawi juga memaparkan pendapat yang melarang beserta dalil dari hadits yang dipakainya. Beliau menjawab bahwa haditsnya memang shahih tapi maksudnya bukan larangan secara mutlak.

Dalam kitabnya (al-Majmu’ 9/230) beliau menyanggah dalil ini dengan argumen:

جَوَابُ أَبِي العباس بن العاص وَأَبِي سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيِّ وَالْقَفَّالِ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ الْمُرَادَ الهرة الوحشية فلا يصح بيعها لِعَدَمِ الِانْتِفَاعِ بِهَا

Jawaban Abu al-Abbas bin al-‘Ash dan juga Abu Sulaiman al-Khaththabiy serta al-Qaffal dan selainnya bahwa yang dimaksud [sinnaur] di situ adalah kucing liar atau hutan [al-wahsyi]. Terlarang jual belinya karena tidak ada manfaat.

Jawaban yang sama juga beliau katakan dalam kitabnya yang lain, yaitu Syarah Shahih Muslim (10/234) ketika menjelaskan hadits yang sedang kita bahas ini.

Jadi memang yang dilarang itu bukan kucing [الهرة], akan tetapi kucing liar atau hutan yang disebut dengan istilah sinnaur [سنور]. Sinnaur juga terlarang untuk dimakan karena termasuk dalam kategori hewan bertaring yang menyerang manusia. Dalam madzhab Asy-Syafi’iyyah juga yang terlarang itu jika kucing liar, kalau kucing peliharaan itu tidak terlarang jual belinya.

Toh kalau pun terlarang, pasti Rasululah SAW akan mengatakan dengan istilah al-hirrah juga, tidak dengan lafadz sinnaur. Pembedaan istilah ini juga menunjukkan bahwa kucing tidak satu jenis, dan perbedaan jenis, beda juga hukumnya. Karena memang secara bahasa sinnaur dan hirrah punya makna beda; liar dan tidak liar, buas dan tidak buas.

Wallahu a’lam.

----------

Ulama 4 mahdzab membolehkan. Kalau ada yang masih ngotot haram, apakah ilmu dan argumentasi agan sudah setara dengan beliau2 itu? Hoho.
mungkin kalau menjual buat keuntungan yg gak boleh ya gan? ya gimana sih gatau juga gue
Quote:Jadi memang yang dilarang itu bukan kucing [الهرة], akan tetapi kucing liar atau hutan yang disebut dengan istilah sinnaur [سنور]. Sinnaur juga terlarang untuk dimakan karena termasuk dalam kategori hewan bertaring yang menyerang manusia. Dalam madzhab Asy-Syafi’iyyah juga yang terlarang itu jika kucing liar, kalau kucing peliharaan itu tidak terlarang jual belinya.

Ane rasa dah jelas sinnaur = kucing liar /hutan yg bisa menyerang manusia bukan kucing rumahan. Klo disini ya macan.
Yang beli juga haram ya gan..

Ane sih ada 1 kucing anggora dirumah.. Jujur emang dulu beli kucing itu dari temennya adek ane.. Waktu beli sih ane tau kalo jual kucing itu haram.. Tapi ane kurang faham kalo yang beli itu juga kena hukum haram.. Karena pas waktu itu ane gregeten banget pengen melihara itu kucing.. Toh gak etis kan kalo ane bilang ke temen adek ane itu kalo "Jual kucing itu haram".. Dan ane juga gak bisa mengurungkan niat ane buat melihara itu kucing ibaratnya udah jatuh cinta sama tu kucing sejak pandangan pertama ..

Kalo posisi kek gitu gimana tuh hukumnya??
Memang sudah jelas sih gan hukum jual beli kucing itu haram. Ya itu sudah jelas tertuang didalam hadist. Itu sudah ga bisa diganggu gugat lagi sih pastinya, untuk yang muslim dan yang mempercayainya.
kalo di kitab suci sih ada ayatnya gan, tapi haram ato enggak ane blom tau
×